Integrasi Literasi Digital dan 29 Karakter Luhur Jadi Benteng Generasi Muda LDII Tabalong

Integrasi Literasi Digital dan 29 Karakter Luhur Jadi Benteng Generasi Muda LDII Tabalong
foto: ilustrasi / istimewa

Tabalong, 5 September 2026 – Menghadapi derasnya arus informasi di ruang siber, generasi muda LDII Tabalong memperkuat ketahanan digital melalui integrasi kecakapan teknologi dengan penanaman 29 Karakter Luhur. Langkah strategis ini dilakukan dalam agenda pengajian Generasi Penerus (Generus) yang berlangsung di Masjid Baitul Muchlisin, Sabtu malam.

Sinergi Kecakapan Digital dan Fondasi Moralitas

Dalam pertemuan tersebut, Ketua PAC LDII Warukin, Kecamatan Tanta, Lutfi Sulaiman, memaparkan materi krusial mengenai literasi digital dan etika bermedia sosial. Ia menekankan bahwa di era disrupsi informasi saat ini, penguasaan perangkat digital tidak cukup hanya didasarkan pada kecakapan teknis semata, tetapi juga memerlukan filter moral yang kuat.

Kemajuan teknologi harus sejalan dengan pemahaman moral yang kokoh. 29 Karakter Luhur yang selama ini dibina dalam warga LDII berfungsi sebagai filter internal dan panduan moral agar media sosial membawa dampak positif, bukan sebaliknya, ujar Lutfi Sulaiman.

Lutfi menjelaskan bahwa literasi digital mencakup spektrum luas, mulai dari akses, pemahaman, kreasi, hingga evaluasi informasi secara kritis. Merujuk pada standar Kementerian Komunikasi dan Digital, ia merinci empat pilar utama literasi digital, yaitu Digital Skills, Digital Ethics, Digital Safety, dan Digital Culture. Baginya, keempat pilar ini akan kehilangan relevansinya jika tidak didasarkan pada integritas karakter individu.

Implementasi Etika Komunikasi Berbasis Karakter Luhur

Penyebaran hoaks dan ujaran kebencian menjadi tantangan serius yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Generasi muda didorong untuk mengedepankan logika kritis sebelum membagikan informasi apa pun ke publik. Pendekatan ini selaras dengan upaya kolektif dalam memutus rantai disinformasi.

Dalam mengetik komentar atau membuat unggahan, setiap individu hendaknya menggunakan bahasa yang sopan, jujur menyampaikan fakta, serta menghindari ujaran kebencian, cacian, maupun fitnah. Etika Komunikasi dan Bebas Hate Speech ini sesuai dengan Akhlaqul Karimah dan Jujur atau 6 Thobiat Luhur, tutur Lutfi.

Selain menjaga etika, para peserta diajak untuk memanfaatkan ruang digital sebagai sarana produktif, seperti pengembangan bisnis digital, menuntut ilmu, dan membangun jejaring yang bermanfaat. Lutfi juga menekankan pentingnya sikap santun dalam menasihati sesama pengguna internet serta memiliki kesiapan untuk mengalah demi menjaga kedamaian di ruang siber, guna menghindari fenomena cyberbullying.

Peran Strategis Generasi Muda Sebagai Agen Perubahan

Dewan Penasehat DPD LDII Tabalong, M. Ilyas, menegaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mencetak generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman budi pekerti. Ia berharap para pemuda dapat menjadi penyejuk di tengah dinamika dunia maya yang sering kali panas oleh perdebatan.

Sekaligus menjadi contoh netizen yang berkarakter luhur, cerdas, dan bijaksana, tutup M. Ilyas.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut diakhiri dengan sesi diskusi interaktif, di mana para peserta dilatih untuk lebih rasional dan selektif dalam mengonsumsi konten di gawai masing-masing. Fokus utama adalah memastikan bahwa setiap klik dan ketikan yang dihasilkan generasi muda LDII mencerminkan nilai-nilai luhur yang mereka emban.

📖 Glosarium Istilah

  • 29 Karakter Luhur: Pedoman etika dan moral warga LDII yang mencakup sifat-sifat kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Literasi Digital: Kemampuan individu dalam mengakses, mengelola, serta mengevaluasi informasi secara kritis melalui media digital.
  • Cyberbullying: Tindakan perundungan atau penindasan yang dilakukan menggunakan perangkat digital atau media sosial.
  • Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, sebutan untuk warga muda di lingkungan LDII.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.