Hadiri Konferensi Imam Sedunia, Ketua Umum DPP LDII Tegaskan Peran Strategis Masjid sebagai Simbol Perdamaian Global

Hadiri Konferensi Imam Sedunia, Ketua Umum DPP LDII Tegaskan Peran Strategis Masjid sebagai Simbol Perdamaian Global
foto: ilustrasi / istimewa

JAKARTA — Gaung perdamaian lintas benua menggema di ibu kota ketika puluhan pemuka agama terkemuka dunia berhimpun dalam jamuan makan malam pembuka Konferensi Imam Besar Internasional atau International Grand Imam Conference (IGIC) 2026. Di tengah dinamika geopolitik global yang sarat tantangan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII), Dody Taufiq Wijaya, menyuarakan pesan substantif bahwa masjid harus senantiasa memancarkan energi keharmonisan sekaligus menjadi garda terdepan diplomasi keagamaan.

Forum bergengsi bertajuk “Keharmonisan Masjid, Diplomasi Keagamaan dan Perdamaian Dunia” tersebut dihelat secara khidmat di Jakarta pada Jumat malam. Agenda internasional ini dibuka langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dengan menghadirkan 29 imam besar masjid tersohor dari berbagai penjuru dunia.

Konsolidasi Tokoh Agama Dunia Mengukuhkan Spirit Kebersamaan Global

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa perhelatan akbar ini mengukir sejarah baru peradaban keagamaan internasional. Duduk bersamanya puluhan imam besar lintas negara bukan semata pertemuan seremonial, melainkan kristalisasi komitmen untuk menjawab berbagai kegelisahan kemanusiaan kontemporer.

“Ini momen bahagia, 29 imam besar yang tersohor di negara masing-masing duduk bersama. Ini pertama di dunia, momen persahabatan, refleksi dan komitmen bersama,” tegas Menag Nasaruddin Umar.

Nasaruddin memaparkan bahwa para pemimpin spiritual memikul mandat moral yang seragam, yakni menjamin nilai-nilai ilahiah senantiasa menuntun manusia pada keluhuran budi pekerti, cinta kasih, kebersamaan, dan kepedulian terhadap kelestarian semesta. Tanggung jawab keagamaan ini menuntut aksi konkret yang melampaui sekat-sekat geografis.

Ke depan, Menag memproyeksikan inisiatif keharmonisan ini tidak hanya berhenti di tataran internal imam masjid. Spektrum kolaborasi bakal diperluas dengan merangkul pemuka rumah ibadah lintas keyakinan guna merespons degradasi lingkungan dan problematika peradaban secara bersama-sama.

“Jika acara ini sukses, ke depannya tidak hanya imam besar saja, tetapi mengajak pemimpin rumah ibadah yang lain untuk duduk bersama. Kita butuh banyak keselarasan agama untuk menyadarkan masyarakat tidak membakar hutan, tidak mubazir menggunakan energi, tidak membuang sampah di sungai dan lainnya,” tutur Nasaruddin.

Diplomasi Keagamaan Masjid Solusi Persoalan Sosial Keumatan

Apresiasi mendalam terhadap penyelenggaraan konferensi bergengsi ini turut disuarakan pucuk pimpinan DPP LDII. Dody Taufiq Wijaya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas undangan kehormatan dari pengelola Badan Pengelola Masjid Istiqlal dan Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM). Baginya, pertemuan para tokoh kunci ini momentum strategis guna melahirkan deklarasi moral yang menegaskan masjid sebagai episentrum harmoni dalam keberagaman.

“Diplomasi bernuansa keagamaan perlu lebih diutamakan guna mewujudkan perdamaian dunia secara bersama-sama. Acara IGIC harapannya membawa perdamaian dunia yang lebih baik dan nyaman,” jelas Dody Taufiq Wijaya.

Menurut Dody, narasi dakwah masjid pada era modern mesti merefleksikan fungsinya yang multidimensional. Rumah ibadah umat Islam sejatinya bukan sekadar lokasi pelaksanaan ritus formal salat berjamaah, melainkan ruang perjumpaan yang inklusif untuk membedah serta memecahkan problem sosial kemasyarakatan, khususnya dalam merawat kebhinekaan bangsa Indonesia yang heterogen.

Optimalisasi Peran Rumah Ibadah Melalui Pendidikan Karakter dan Musyawarah

Implementasi peran inklusif masjid tersebut tercermin nyata dalam denyut aktivitas jemaah LDII di seluruh pelosok Nusantara. Rumah ibadah dikelola secara dinamis untuk menopang ketahanan sosial berbasis komunitas, mulai dari penguatan fondasi moral generasi belia hingga fasilitasi rembuk warga.

“Masjid di bawah naungan LDII yang tersebar di seluruh Indonesia memang sudah terbiasa difungsikan tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga tempat belajar bagi anak-anak, remaja, hingga dewasa melalui kegiatan pengajian. Selain untuk membina generasi penerus, masjid juga menjadi tempat bermusyawarah bagi pengurus majelis taklim untuk menyelesaikan berbagai permasalahan jemaah,” terang Dody.

Melalui pendekatan komprehensif semacam ini, masjid bertransformasi menjadi laboratorium peradaban madani. Dari bilik-bilik sujud dan ruang diskusi keumatan itulah tercipta fondasi persaudaraan yang kokoh guna menyongsong tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang rukun, damai, serta berkeadaban luhur.

📖 Glosarium Istilah

  • IGIC (International Grand Imam Conference): Konferensi tingkat internasional yang mempertemukan para imam besar masjid dari berbagai negara untuk mendiskusikan perdamaian dan peran peradaban rumah ibadah.
  • Diplomasi Keagamaan: Pendekatan komunikasi dan dialog damai antarbangsa yang berlandaskan nilai-nilai universal spiritualitas untuk meredam konflik kemanusiaan.
  • IPIM (Ittihad Persaudaraan Imam Masjid): Asosiasi atau wadah perkumpulan imam masjid yang berfokus memperkuat ukhuwah serta kapasitas imam dalam memimpin umat.
  • DPP LDII: Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia, badan kepengurusan tingkat nasional yang menaungi pembinaan dakwah dan program kemasyarakatan LDII di seluruh Indonesia.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.