Pasangkayu — Atmosfer semangat olahraga menyelimuti Lapangan Kapro PT Letawa saat ratusan atlet muda berkumpul dalam perhelatan Festival FORSGI U-10 dan U-12 Pasangkayu pada Selasa (25/8/2026). Dimulai sejak pukul 07.00 WITA, kompetisi ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan mengolah si kulit bundar, melainkan menjadi pilar penting dalam skema pembinaan generasi menerus (generus) LDII melalui jalur olahraga sepak bola. Festival ini mempertemukan bakat-bakat potensial dari berbagai wilayah di Pasangkayu untuk berkompetisi secara sehat dan terarah.
Fokus Pembinaan Mental dan Karakter Sportif Peserta
Pembinaan atlet di usia dini memerlukan pendekatan yang komprehensif, di mana keterampilan teknis harus berjalan selaras dengan kekuatan mental. Dewan Penasihat FORSGI Pasangkayu, Abdul Rohman, menegaskan bahwa festival ini merupakan instrumen strategis untuk menjaring bibit unggul pesepak bola masa depan. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemahiran di lapangan dengan integritas personal yang kuat.
“Sebagai pemain sepak bola profesional, tidak boleh mengedepankan emosional. Pemain harus mampu mengendalikan diri dan menjunjung sportivitas. Karena itu, sejak usia dini anak-anak perlu dibekali dengan 29 karakter luhur,” ujar Abdul Rohman.
Internalisasi 29 karakter luhur ini menjadi pembeda utama dalam pola pembinaan yang diterapkan oleh FORSGI. Para pemain didorong untuk tetap tenang di bawah tekanan, menghormati keputusan wasit, serta tidak mudah terprovokasi oleh dinamika pertandingan yang tinggi. Hal ini diharapkan mampu mencetak pemain yang tidak hanya unggul secara fisik, tetapi juga menjadi teladan dalam perilaku di dalam maupun di luar lapangan.
Wadah Pengembangan Bakat dan Kedisiplinan Sejak Dini
Senada dengan hal tersebut, Ketua FORSGI Pasangkayu, Agus Trianto, menyatakan komitmennya untuk menjadikan ajang ini sebagai ruang ekspresi bagi minat dan bakat anak-anak. Menurutnya, sepak bola merupakan medium yang efektif untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang fundamental seperti kerja sama tim dan keberanian mengambil keputusan.
“Kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan minat di bidang sepak bola. Selain prestasi, peserta juga diarahkan membangun disiplin, kekompakan, keberanian, dan sikap saling menghargai,” jelas Agus Trianto.
Melalui rutinitas latihan dan tensi kompetisi dalam festival ini, anak-anak dibiasakan untuk menghargai waktu dan rekan setimnya. Alur pembinaan yang berkelanjutan ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara periodik agar proses transformasi karakter generus dapat terpantau secara optimal. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, Festival FORSGI Pasangkayu diproyeksikan menjadi embrio lahirnya pesepak bola profesional yang memiliki profil karakter kuat dan berdaya saing global.
📖 Glosarium Istilah
- FORSGI: Federasi Olahraga Sepak Bola Seluruh Generasi Indonesia, sebuah organisasi yang fokus pada pembinaan bakat sepak bola usia dini berbasis karakter.
- Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, sebutan untuk anak-anak dan remaja yang sedang menjalani proses pembinaan berkelanjutan.
- 29 Karakter Luhur: Pedoman perilaku yang menjadi landasan moral dalam pembinaan warga LDII untuk mencetak sumber daya manusia yang profesional dan religius.
- WITA: Waktu Indonesia Tengah, zona waktu yang berlaku di wilayah Sulawesi Barat dan sekitarnya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.