KEBUMEN – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Kebumen secara proaktif memperkuat fondasi ketahanan keluarga dengan mengikuti seminar daring bertajuk “Strategi Mencegah dan Mengatasi KDRT serta Bullying dalam Rumah Tangga”. Kegiatan yang diinisiasi oleh DPW LDII Jawa Tengah ini diikuti oleh ratusan warga LDII melalui dua studio mini yang berlokasi di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Baitussyakur dan Sekretariat DPD LDII Kebumen pada Minggu (30/8/2026).
Strategi Komprehensif Menjawab Tantangan Keharmonisan Keluarga
Partisipasi dalam seminar ini mencerminkan komitmen DPD LDII Kebumen dalam menanggapi berbagai problematika sosial yang berpotensi merusak keutuhan rumah tangga. Ketua DPD LDII Kabupaten Kebumen, H. Gunardi, menegaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perilaku perundungan (bullying) adalah isu serius yang memerlukan perhatian khusus dari seluruh elemen masyarakat.
Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk kepedulian LDII terhadap masalah KDRT dan bullying. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang dampak negatif kekerasan dalam rumah tangga dan bullying serta memberikan solusi untuk mencegahnya, ujar H. Gunardi.
Sinergi Pendidikan dan Pembinaan Karakter Keluarga
Dalam sambutannya, Wakil Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Sutrima, menyoroti urgensi membangun keluarga yang harmonis melalui penghormatan antarsesama anggota keluarga. Ia menilai bahwa keluarga merupakan unit terkecil masyarakat yang menjadi penentu utama stabilitas sosial secara luas.
Penguatan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Karena itu, pencegahan kekerasan dan bullying perlu dilakukan secara bersama-sama melalui pendidikan, pembinaan keagamaan, komunikasi yang baik, serta kepedulian lingkungan, ujar Sutrima.
Manajemen Emosi dan Pendekatan Psikologi Islam
Koordinator Bidang Pendidikan dan Pelatihan Umum DPP LDII, Akmaludin Akbar, memberikan wawasan mendalam mengenai pencegahan kekerasan dari kacamata psikologi Islam. Ia membedakan antara emosi marah sebagai reaksi manusiawi dengan perilaku agresif sebagai pilihan tindakan. Para peserta dibekali metode praktis “Stop, jeda, tenangkan tubuh, lalu respon” untuk meminimalisasi konflik saat emosi meluap.
Perspektif Gender dan Komunikasi Efektif
Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alimatul Qibtiyah, memaparkan bahwa KDRT memiliki spektrum luas, mulai dari kekerasan fisik, psikis, seksual, hingga ekonomi. Ia meluruskan konsep ‘qawwam’ dalam QS An-Nisa ayat 34, yang seharusnya dimaknai sebagai tanggung jawab laki-laki untuk melindungi, bukan justru menjadi legitimasi kekerasan. Selain itu, peserta diajarkan teknik komunikasi asertif “Saya – Ketika – Saya Berharap” untuk menekan potensi konflik melalui penyampaian kebutuhan secara terbuka tanpa saling menyalahkan.
📖 Glosarium Istilah
- KDRT: Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yakni perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis, atau penelantaran rumah tangga.
- Qawwam: Konsep dalam Islam yang merujuk pada peran laki-laki sebagai pelindung, pemelihara, dan penanggung jawab kesejahteraan keluarga.
- Bullying: Tindakan agresif yang dilakukan secara berulang untuk menyakiti atau mendominasi orang lain baik secara fisik, verbal, maupun psikologis.
- Asertif: Cara berkomunikasi dengan tegas namun tetap santun dan menghargai perasaan orang lain.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.