NGANJUK — Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengajak para santri dan calon pendakwah untuk memperkuat kepekaan literasi dalam memilah arus informasi digital yang kian deras. Langkah mitigasi penyebaran kabar bohong maupun provokasi tersebut dinilai krusial guna merawat stabilitas serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pesan kebangsaan tersebut diserukan langsung oleh Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Jatim, Kombes Pol Darman, saat memberikan pembekalan wawasan kebangsaan di hadapan ribuan santri yang tengah menjalani pendidikan dan latihan (diklat) serta ujian calon mubaligh-mubalighoh di Pondok Pesantren Al Ubaidah, Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Kombes Pol Darman menggarisbawahi bahwa dinamika ruang digital menuntut para calon juru dakwah memiliki fondasi keilmuan agama yang mumpuni, yang diimbangi dengan keluasan cara pandang terhadap realitas sosial masyarakat.
“Era digital menuntut calon pendakwah memiliki bekal keagamaan yang tinggi, sekaligus keluasan wawasan dan kemampuan menyaring informasi. Pendakwah dalam menghadapi perkembangan informasi, harus tetap bisa menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan serta kesatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia,” tutur Kombes Pol Darman.
Dirbinmas Polda Jatim tersebut menambahkan, sosok pendakwah masa depan wajib menjelma menjadi pribadi yang kokoh dalam memegang teguh akidah, berwawasan luas, mengedepankan kesantunan saat bertutur kata, serta selalu menghadirkan kemaslahatan nyata bagi lingkungan sekitar.
Sinergi Pembinaan Kamtibmas dan Peran Strategis Mubaligh
Dalam paparannya, Darman membedah adanya keterkaitan erat antara tugas operasional jajaran Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polri dengan kiprah para mubaligh di tengah umat. Sekalipun bergerak dari ranah pengabdian yang berlainan, kedua elemen ini bermuara pada satu cita-cita luhur, yakni mewujudkan tata kehidupan warga yang tertib, guyub, dan tenteram.
“Meskipun memiliki bidang peran yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun masyarakat yang harmonis dan menjaga ketertiban kehidupan bersama,” ujar Darman.
Secara fungsional, jajaran Binmas mengemban amanat membina warga, menjalin komunikasi dua arah, mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), merespons indikasi kerawanan secara dini, melakukan pemecahan masalah (problem solving), hingga merajut kemitraan produktif dengan berbagai kelompok sipil.
Di sisi lain, para mubaligh dan mubalighoh bertumpu pada pembangunan spiritualitas dan etika publik. Mereka bersentuhan langsung dengan pembinaan umat lewat rajutan silaturahim, penangkal perilaku menyimpang, penggugah kepekaan sosial, penyampai nasihat bijak, serta motor penggerak gotong royong warga.
Darman mewanti-wanti agar calon juru dakwah senantiasa melakukan tabayun atau verifikasi ketat sebelum menyebarluaskan narasi ke ruang publik, terutama yang bersumber dari media sosial. Penjernihan fakta menjadi filter penentu agar ceramah agama tidak terdistorsi menjadi polemik yang membingungkan umat.
Penguatan Wawasan Kebangsaan Menyongsong Indonesia Emas 2045
Investasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) santri diposisikan sebagai pilar penting dalam peta jalan kemajuan bangsa. Polda Jatim mendorong para calon pendakwah untuk aktif mengawal agenda Indonesia Emas 2045 melalui perpaduan kesalehan spiritual dan nasionalisme yang matang.
“Kami mengajak generasi calon pendakwah agar dapat mengambil bagian dalam mempersiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membangun kekuatan akidah sekaligus memperluas wawasan kebangsaan,” tutur Darman.
Menurut perwira menengah kepolisian tersebut, komitmen merawat kebinekaan Nusantara mustahil berhenti sebatas retorika mimbar. Nilai persaudaraan sejati mesti ditransformasikan ke dalam keteladanan sikap sehari-hari serta kemahiran mendinginkan suasana tatkala terjadi gesekan sosial.
Pandangan senada diutarakan Pengasuh Pondok Pesantren Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany. Ia menegaskan bahwa pembentukan watak santri yang mencintai agama sekaligus tanah air adalah mandat sejarah yang mutlak diestafetkan dari generasi ke generasi.
“Sementara kecintaan kepada bangsa diwujudkan dengan menjaga kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai agama dan latar belakang. Nilai tersebut merupakan amanat para pendiri pondok yang perlu diteruskan oleh setiap generasi,” jelas Habib Ubaidillah.
Habib Ubaidillah menguraikan, kecintaan pada agama termanifestasi melalui ketekunan beribadah secara tertib dan lurus, sedangkan rasa cinta terhadap tanah air termanifestasi lewat kerelaan menjaga harmoni di tengah keberagaman suku, ras, dan keyakinan.
Harmonisasi Keberagamaan dan Komitmen Dakwah Sejuk LDII
Menanggapi pembekalan tersebut, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, menyampaikan penegasan mengenai metodologi penyampaian risalah keagamaan. Landasan Al-Qur'an dan Al-Hadis yang dipelajari para santri mesti didakwahkan dengan mempertimbangkan realitas sosiologis Indonesia yang majemuk.
“Dengan pendekatan tersebut, moderasi beragama, toleransi, serta persatuan dan kesatuan dapat terus terjaga. Tugas kita adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Di saat yang sama, kita memiliki tanggung jawab menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegas Amrodji.
Amrodji menekankan dakwah yang berkeadaban harus menjauhkan diri dari ujaran yang menjelek-jelekkan golongan lain. Pendekatan yang merangkul dan menyejukkan menjadi kunci utama dalam memastikan syiar amar ma'ruf nahi munkar berjalan seiring dengan pemeliharaan persatuan nasional.
📖 Glosarium Istilah
- Dirbinmas: Direktorat Pembinaan Masyarakat, satuan kerja kepolisian di tingkat polda yang bertugas membina partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
- Kamtibmas: Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, suatu kondisi dinamis masyarakat yang menjamin kepastian rasa aman, ketenteraman, dan penegakan hukum.
- Mubaligh/Mubalighoh: Juru dakwah atau penyampai ajaran Islam laki-laki (mubaligh) dan perempuan (mubalighoh) yang bertugas memberikan pembinaan moral spiritual kepada masyarakat.
- Indonesia Emas 2045: Visi jangka panjang pembangunan Indonesia untuk mewujudkan negara maju, modern, dan sejahtera bertepatan pada usia satu abad kemerdekaan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.