Penguatan Sektor Vokasi di Lingkungan Pesantren
Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Miftahul Huda Blawe secara resmi menutup Program Pelatihan Menjahit Berbasis Kompetensi Gelombang 7 pada Selasa, 28 September 2026. Penyelenggaraan pelatihan ini menjadi capaian strategis bagi BLKK Miftahul Huda Blawe dengan total kelulusan mencapai 136 santri yang tersebar dari berbagai wilayah di penjuru Indonesia.
Program yang berfokus pada keahlian garmen apparel ini dilaksanakan selama 160 jam pelajaran, terhitung sejak 8 Agustus hingga 22 September 2026. Pelatihan intensif ini dirancang khusus untuk membekali para santri dengan keterampilan vokasional yang relevan, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mendukung kemandirian ekonomi umat dan lingkungan pesantren.
Apresiasi Terhadap Sinergi Pendidikan dan Ekonomi
Direktur BLKK Miftahul Huda Blawe, Hariyanto, memaparkan bahwa keberhasilan program ini ditunjukkan dengan selesainya seluruh kurikulum pelatihan dan uji kompetensi bagi para peserta. “Pelatihan Gelombang 7 ini berjalan selama 160 jam pelajaran hingga 22 September 2026 dengan total kelulusan mencapai 136 alumni peserta pelatihan,” ujar Hariyanto.
Peserta pelatihan yang terlibat memiliki latar belakang geografis yang beragam. Sebanyak 20 santri per angkatan datang dari berbagai daerah, termasuk wilayah Jawa, Sumatra, Sulawesi, Medan, Pekanbaru, Ketapang, Manado, hingga Lampung.
Dampak Positif bagi Pembangunan Ekonomi Daerah
Kehadiran BLKK Miftahul Huda Blawe mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. Ketua BPD Desa Blawe, Supriyono, menekankan bahwa inisiatif ini tidak hanya bermanfaat bagi para santri, tetapi juga turut membawa nama baik Desa Blawe di kancah nasional.
“Tiap angkatan diikuti kurang lebih 20 peserta santri dari dalam dan luar Jawa. Kehadiran BLKK ini tentu mengenalkan Desa Blawe ke tingkat nasional, yang menjadi kebanggaan Pemerintah Desa Blawe. Harapan kami, keterampilan ini disalurkan secara mandiri di daerah masing-masing,” tutur Supriyono.
Integrasi Keahlian Duniawi dan Bekal Keagamaan
Di sisi lain, Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten Kediri, M. Saifurrizal, S.Th.I, menegaskan pentingnya keseimbangan antara ilmu keagamaan dan keterampilan praktis. Menurutnya, industri fashion muslim memiliki potensi pasar yang sangat luas dan menjanjikan bagi para santri.
“Pondok memilih jahit-menjahit karena pakaian adalah kebutuhan mendasar seluruh manusia. Ketika ilmu agama di pondok dipadukan dengan keterampilan menjahit, kehidupan santri di masyarakat menjadi seimbang. Pasar fashion muslim sangat luas, tidak perlu takut kalah saing,” tegas M. Saifurrizal.
Jejaring Wirausaha untuk Keberlanjutan Usaha
Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, KH. Sunarto, menutup rangkaian kegiatan dengan memberikan arahan mengenai pentingnya menjaga silaturahim dan membangun jejaring bisnis. Beliau mendorong para alumni untuk tidak berhenti pada tahap pelatihan saja.
“Para santri berasal dari berbagai provinsi. Bangunlah network dan jejaring wirausaha setelah pelatihan ini. Jangan berhenti di sini saja, integrasikan keterampilan menjahit dengan bisnis dan manajemen modal agar ilmu yang didapatkan betul-betul bermanfaat luas,” ujar KH. Sunarto.
📖 Glosarium Istilah
- BLKK: Balai Latihan Kerja Komunitas, lembaga pelatihan yang diselenggarakan di lingkungan pesantren atau lembaga keagamaan untuk meningkatkan keterampilan kerja.
- Garmen Apparel: Industri yang berfokus pada pembuatan pakaian jadi menggunakan berbagai jenis bahan tekstil.
- Vokasional: Pendidikan atau pelatihan yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki keterampilan kerja yang siap digunakan di dunia industri.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.