Bahkan Memiliki 2 Dunia Takkan Bisa Menebus Azab

Bahkan Memiliki 2 Dunia Takkan Bisa Menebus Azab | LDII Sampit

Bahkan Memiliki 2 Dunia Takkan Bisa Menebus Azab

Sampit (4/9). Nikmat hidayah iman dan Islam merupakan karunia yang tidak ternilai. Kekayaan, kedudukan, maupun segala kemewahan dunia tidak akan mampu menggantikan nikmat tersebut, terlebih ketika manusia berhadapan dengan kehidupan akhirat.

Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian rutin PAC LDII Baamang Barat yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. Kegiatan pengajian berlangsung di dua tempat, yaitu lantai dua aula kantor sekretariat LDII dan Masjid Al Barokah.

Pengajian tersebut menjadi salah satu sarana pembinaan keagamaan bagi warga jamaah. Materi yang disampaikan secara reguler meliputi tafsir Alquran, Alhadis, serta nasehat agama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Mensyukuri Nikmat Hidayah

Pada Kamis (4/9/2026), pengajian berlangsung seperti biasa. Dalam sesi nasehat agama, Siswanto mengingatkan warga jamaah yang hadir agar senantiasa mensyukuri nikmat hidayah iman dan Islam.

Menurutnya, iman dan Islam merupakan bekal utama yang dapat menyelamatkan manusia dari ancaman siksa. Karena itu, nikmat hidayah semestinya tidak hanya diterima dengan rasa syukur, tetapi juga dijaga melalui ketaatan dan amal saleh.

Siswanto menjelaskan bahwa hidayah merupakan kehendak Allah SWT. Hidayah tidak diberikan berdasarkan ukuran kekayaan, pangkat, status sosial, maupun rupa seseorang.

“Jika hidayah hanya diberikan kepada orang kaya, tentu Qarun-lah yang pantas mendapatkannya. Ia memiliki harta terbanyak saat itu.”
— Siswanto

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran duniawi bukanlah ukuran utama di hadapan Allah SWT. Kekayaan yang melimpah tidak otomatis menjadi jaminan keselamatan, sementara kedudukan tinggi juga bukan ukuran seseorang memperoleh hidayah.

Rugi di Dunia dan Akhirat

Sebaliknya, Siswanto mengingatkan bahwa orang yang tidak mendapatkan hidayah iman dan Islam termasuk golongan orang-orang yang merugi.

“Rugi di dunia dan akhirat.”

Pesan tersebut kemudian diperkuat dengan mengutip Surat Al-Ma'idah ayat 36. Ayat ini menggambarkan betapa tidak berartinya seluruh kekayaan dunia ketika seseorang berhadapan dengan azab pada hari kiamat.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا وَمِثْلَهُۥ مَعَهُۥ لِيَفْتَدُوا۟ بِهِۦ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.”
QS. Al-Ma'idah (5): 36

Kekayaan Tidak Bisa Menjadi Tebusan

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki seseorang, tidak akan dapat digunakan sebagai tebusan apabila azab Allah telah ditetapkan pada hari kiamat.

“2 bumi kekayaan yang dimiliki tidak akan bisa menolak siksa dari Allah SWT,” ucap Siswanto mengingatkan kembali.

Pesan itu mengajak jamaah untuk melihat kembali prioritas kehidupan. Harta tetap memiliki fungsi dan dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi harta bukanlah tujuan akhir manusia. Yang menjadi bekal menuju kehidupan akhirat adalah iman, ketaatan, dan amal yang dilakukan selama hidup di dunia.

Hidayah Adalah Nikmat yang Harus Dijaga

Dari nasehat tersebut, jamaah diajak untuk tidak memandang hidayah sebagai sesuatu yang biasa. Ketika seseorang diberi kesempatan mengenal iman dan Islam, kesempatan tersebut merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Syukur terhadap hidayah bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga dengan berusaha mempertahankannya dalam kehidupan. Pengajian, belajar Alquran dan Alhadis, serta nasehat agama menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan menjaga keimanan.

Pengajian rutin PAC LDII Baamang Barat pun menjadi ruang bagi warga jamaah untuk terus belajar dan mengingat kembali tujuan kehidupan. Di tengah kesibukan dunia, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, mendengarkan nasehat, dan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Dari Pengajian Menuju Kehidupan

Pengajian rutin tersebut dimulai pukul 19.30 WIB dan berakhir sekitar 21.00 WIB. Kegiatan diikuti warga jamaah mulai dari usia remaja hingga dewasa.

Bagi jamaah yang hadir, nasehat tentang hidayah menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas. Kekayaan dapat dicari, kedudukan dapat diraih, dan berbagai kenikmatan dunia dapat dinikmati, tetapi semuanya tidak akan menjadi pengganti hidayah ketika manusia memasuki kehidupan akhirat.

Karena itu, mensyukuri nikmat iman dan Islam bukan sekadar ungkapan, melainkan panggilan untuk menjaga hidayah tersebut sepanjang kehidupan.