Ahli Kesehatan Lingkungan LDII Ingatkan Risiko Partikel Silika Abu Vulkanik bagi Masyarakat

  • Erupsi Gunung Anak Krakatau yang melontarkan material abu vulkanik ke wilayah Banten, Lampung, Jabodetabek, hingga sebagian Jawa Barat memicu peringatan serius bagi kesehatan masyarakat. Berbeda dengan debu rumah tangga biasa, abu vulkanik menyimpan ancaman laten berupa partikel silika yang memiliki karakteristik fisik menyerupai serpihan kaca tajam berukuran mikro.

    Ketua DPP LDII sekaligus Ahli Kesehatan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra terhadap paparan material ini. Menurutnya, karakteristik silika yang abrasif mampu merusak jaringan lunak pada tubuh manusia secara instan maupun jangka panjang.

    "Abu vulkanik bisa merusak pada organ tubuh yang terkena, antara lain mata, hidung, maupun mulut, maupun kulit," ujar Dicky pada Minggu (6/8/2026).

    Karakteristik Partikel Silika yang Mengancam Organ Tubuh

    Paparan abu vulkanik tidak boleh dianggap remeh karena sifat partikelnya yang korosif. Dicky, yang juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (Lisdal) DPP LDII, menjelaskan bahwa dampak spesifik pada mata dapat berkisar dari iritasi ringan, konjungtivitis, hingga luka gores permanen pada kornea.

    Risiko ini menjadi berlipat ganda bagi individu yang menggunakan lensa kontak. Sifat abu yang abrasif dapat terjebak di bawah lensa dan menggores bola mata jika tidak segera ditangani dengan prosedur medis yang benar. Dicky mengingatkan agar masyarakat tidak memberikan respons spontan dengan mengucek mata jika terpapar abu.

    "Jika abu masuk mata, bilas mata dengan air bersih atau larutan saline (garam steril) yang mengalir dengan kelopak mata dibuka lebar selama beberapa menit. Jika pakai lensa kontak, segera lepas sebelum atau saat membilas," tuturnya dengan tegas.

    Ia menambahkan, apabila setelah dibilas mata masih terasa mengganjal, nyeri hebat, atau penglihatan menjadi kabur, masyarakat harus segera mencari bantuan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Mengucek atau menutup mata terlalu rapat justru berisiko mendorong partikel tajam masuk lebih dalam ke jaringan mata.

    Perlindungan Saluran Pernapasan bagi Kelompok Rentan

    Selain ancaman pada indra penglihatan, saluran pernapasan menjadi jalur masuk utama partikel halus yang bisa memicu gangguan sistemik. Paparan silika dapat menyebabkan iritasi tenggorokan yang ditandai dengan batuk kering, sesak napas, hingga nyeri dada yang intens. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, serta penderita penyakit kronis seperti asma dan bronkitis.

    Dicky menyarankan agar aktivitas fisik berat di luar ruangan dihentikan sementara saat konsentrasi abu vulkanik di udara sedang tinggi. Hal ini dikarenakan frekuensi napas yang lebih cepat saat beraktivitas berat akan menarik partikel halus abu lebih jauh ke dalam bronkiolus dan paru-paru.

    "Kelompok rentan disarankan menghindari aktivitas berat saat sirkulasi abu vulkanik di udara sedang tinggi. Karena nafas yang lebih cepat akan menarik partikel halus abu lebih dalam ke paru-paru," kata epidemiolog tersebut.
    Masker N95 untuk perlindungan abu vulkanik

    Langkah Preventif Meminimalisasi Dampak Buruk Paparan Abu

    Sebagai upaya mitigasi mandiri, Dicky Budiman merumuskan lima langkah utama yang wajib diterapkan masyarakat terdampak. Pertama, meminimalkan sirkulasi udara luar ke dalam ruangan dengan menutup rapat seluruh jendela dan pintu rumah. Kedua, penggunaan masker standar N95 menjadi kewajiban mutlak jika harus keluar rumah, karena masker ini mampu menyaring partikel mikroskopis dengan lebih efektif.

    Ketiga, penggunaan kacamata pelindung atau goggles sangat disarankan, terutama bagi para pekerja lapangan. "Bagi pekerja luar ruangan seperti nelayan, petani, petugas lalu lintas, dan profesi lapangan lainnya di wilayah terdampak, diimbau menggunakan dua perlengkapan itu," imbuhnya.

    Langkah keempat mencakup penggunaan pakaian tertutup untuk melindungi kulit. Peneliti di Universitas Yarsi ini mengingatkan agar masyarakat tidak mengibaskan pakaian yang telah terpapar debu vulkanik guna mencegah partikel kembali terbang dan terhirup. Pakaian tersebut sebaiknya langsung dibilas dengan air sebelum dibawa masuk ke dalam rumah.

    Terakhir, Dicky menekankan pentingnya menjaga higiene makanan dan minuman. Seluruh sumber konsumsi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah kontaminasi silika. Ia berharap masyarakat tetap tenang namun waspada dengan memantau perkembangan informasi dari kanal resmi pemerintah.

    "Selalu waspada mengikuti berita-berita dari sumber resmi pemerintah dan juga jangan panik. Ketika ada keluhan sesak napas, nyeri dada, ataupun gangguan di mata, segera ke fasilitas kesehatan," pungkas Dicky.

    📖 Glosarium Istilah

    • Silika: Senyawa kristal yang ditemukan dalam batuan dan pasir, bersifat tajam dan keras, sering ditemukan dalam material abu vulkanik.
    • Konjungtivitis: Peradangan atau infeksi pada selaput transparan yang melapisi kelopak mata dan menutupi bagian putih bola mata.
    • Larutan Saline: Larutan garam steril yang digunakan untuk membersihkan luka atau membilas mata tanpa menyebabkan iritasi tambahan.
    • Masker N95: Alat pelindung pernapasan yang dirancang untuk mencapai kesesuaian wajah yang sangat rapat dan filtrasi partikel udara yang efisien.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.