Adu Mulut, Pelampiasan Kekesalan atau Pertanda Lemahnya Penguasaan Diri?
“Yen ana rembug, ya dirembug” adalah ungkapan atau pameo berbahasa Jawa yang berarti, “jika ada masalah atau persoalan, hendaknya dibicarakan atau diselesaikan bersama-sama dengan musyawarah.”
Ungkapan tersebut mengandung pesan sederhana tetapi dalam: persoalan sebaiknya diselesaikan dengan komunikasi, bukan dengan saling meninggikan suara. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih ada anggapan bahwa sebuah masalah harus diselesaikan dengan adu mulut atau padu dalam bahasa Jawa. Seakan-akan seseorang belum merasa puas apabila persoalan belum diwarnai suara keras dan saling membalas perkataan.
Ketika adu mulut terjadi, suara mulai beradu keras. Tatapan mata berubah tajam, urat leher menegang, bahkan jari tangan tak jarang menunjuk-nunjuk ke arah orang yang menjadi lawan bicara. Semakin keras suara yang keluar, terkadang dianggap semakin menunjukkan keberanian.
Padahal, keberanian dan kemampuan mengendalikan diri merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang dapat menyampaikan keberatan dengan tegas tanpa harus membentak. Seseorang juga dapat mempertahankan pendapat tanpa harus merendahkan orang lain.
Adu Mulut Tidak Selalu Berarti Masalah Selesai
Peristiwa adu mulut dapat dijumpai di berbagai kalangan dan tempat. Tidak hanya antara orang yang tidak saling mengenal di tempat umum, tetapi juga antara orang-orang yang sudah saling mengenal. Tetangga dapat berselisih dengan tetangga, teman dengan teman, bahkan orang yang memiliki hubungan dekat pun dapat terlibat pertengkaran karena persoalan yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan kepala dingin.
Anggapan bahwa masalah akan selesai dengan adu mulut perlu dipertanyakan. Ketika dua orang sama-sama menaikkan emosi, tujuan awal untuk mencari penyelesaian dapat bergeser menjadi keinginan untuk menang dalam perdebatan. Akhirnya, yang dipertahankan bukan lagi kebenaran atau solusi, melainkan gengsi.
Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, apabila penyelesaian persoalan diawali dengan saling membentak, suasana justru dapat menjadi semakin panas. Perkataan yang terlontar ketika emosi memuncak juga berpotensi melukai perasaan, mempermalukan pihak lain, bahkan membuka jalan menuju konflik yang lebih besar.
Ketika Emosi Mengambil Alih Pengendalian Diri
Dari sudut pandang psikologi, kemarahan merupakan emosi manusia yang wajar. Persoalannya bukan sekadar apakah seseorang pernah marah, melainkan bagaimana kemarahan tersebut diatur dan diekspresikan.
Kajian sistematis dan meta-analisis yang terbit pada 2026, dengan 137 artikel yang mencakup 171 studi dan lebih dari 252 ribu peserta, menemukan adanya hubungan antara kesulitan mengatur emosi dengan perilaku agresif. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa strategi regulasi emosi yang tidak adaptif berkaitan dengan tingkat agresi yang lebih tinggi.
Penelitian meta-analisis lainnya mengenai kemarahan dan regulasi emosi menemukan bahwa rumination atau terus-menerus memikirkan dan mengulang kemarahan, serta beberapa strategi regulasi emosi yang kurang adaptif, berkaitan dengan meningkatnya kemarahan. Sebaliknya, penerimaan dan reappraisal atau menilai kembali situasi secara lebih konstruktif berkaitan dengan tingkat kemarahan yang lebih rendah.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap orang yang mudah marah pasti memiliki persoalan psikologis. Namun, penelitian memberikan gambaran bahwa kemampuan mengatur emosi merupakan bagian penting dalam mencegah kemarahan berkembang menjadi perilaku agresif.
Adu Mulut Bisa Menjadi Cara Melampiaskan Kekesalan
Ada kalanya seseorang sebenarnya tidak sedang mencari solusi, tetapi sedang mencari ruang untuk melampiaskan kekesalan. Masalah yang terjadi menjadi pemicu untuk mengeluarkan berbagai kekecewaan yang sebelumnya tersimpan.
Dalam keadaan seperti itu, pembicaraan dapat berubah menjadi perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling keras, siapa yang paling benar, atau siapa yang paling mampu membungkam lawan bicara.
Bahkan terkadang seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak sepenuhnya benar. Ada bagian dari persoalan yang sebenarnya merupakan kekeliruannya sendiri. Namun karena tidak mudah mengakui kesalahan, ia justru semakin keras mempertahankan pendapat. Suara yang meninggi akhirnya menjadi semacam pelindung untuk menutupi rasa tidak nyaman ketika harus mengakui kekurangan diri.
Karena itu, introspeksi menjadi penting. Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya benar-benar ingin menyelesaikan masalah, atau hanya ingin melampiaskan kekesalan?
Al-Qur'an Mengajarkan Menahan Amarah
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengabaikan persoalan. Masalah tetap perlu diselesaikan. Namun, cara menyelesaikannya harus tetap memperhatikan akhlak dan pengendalian diri.
Ayat tersebut memberikan gambaran penting tentang sikap orang yang bertakwa: bukan berarti tidak pernah mengalami kemarahan, tetapi mampu menahan amarah dan memilih memaafkan. QS Ali 'Imran ayat 134 secara eksplisit menyebut orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan orang lain, kemudian menyatakan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Membalas Perkataan Buruk dengan Cara yang Lebih Baik
Al-Qur'an juga memberikan prinsip yang sangat relevan ketika seseorang menghadapi perlakuan atau perkataan yang tidak menyenangkan.
Ayat berikutnya menjelaskan bahwa sikap tersebut berkaitan dengan kesabaran dan kualitas akhlak yang tinggi. Bahkan, Al-Qur'an menggambarkan kemungkinan berubahnya permusuhan menjadi kedekatan ketika keburukan dihadapi dengan cara yang lebih baik.
Pesannya sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membalas bentakan dengan bentakan, konflik memperoleh bahan bakar baru. Tetapi ketika salah satu pihak memilih menurunkan emosi, memberi kesempatan untuk berbicara dan mencari titik persoalan, ruang untuk menyelesaikan masalah menjadi lebih terbuka.
Bukan Berarti Harus Diam terhadap Kesalahan
Menahan amarah bukan berarti membiarkan kesalahan. Memaafkan juga bukan berarti menganggap semua persoalan tidak penting. Ada keadaan ketika seseorang memang perlu menyampaikan keberatan, memberikan teguran, atau mempertahankan hak.
Yang perlu dijaga adalah cara menyampaikannya. Ketegasan tidak harus berubah menjadi kekasaran. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan. Dan pembicaraan tentang masalah tidak harus berakhir dengan saling menjatuhkan.
Prinsipnya sederhana: persoalannya diselesaikan, bukan orangnya yang dihancurkan.
Belajar Mengalahkan Ego Diri
Salah satu bentuk pengendalian diri adalah kemampuan untuk berhenti sejenak ketika emosi mulai meningkat. Tidak semua perkataan harus langsung dibalas. Tidak semua tuduhan harus segera dijawab. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.
Terkadang, memberi waktu agar suasana menjadi lebih tenang justru merupakan langkah yang lebih bijaksana. Setelah emosi mereda, persoalan dapat dibicarakan kembali dengan bahasa yang lebih terukur.
Dalam konteks hubungan sosial, kemampuan tersebut sangat penting. Sebab, hubungan dengan tetangga, keluarga, teman, maupun masyarakat tidak hanya ditentukan oleh siapa yang benar dalam satu persoalan, tetapi juga bagaimana seseorang menjaga hubungan setelah persoalan itu selesai.
Menjaga Hubungan dengan Keluarga dan Tetangga
Kehidupan bermasyarakat membutuhkan kemampuan untuk saling memahami. Tidak mungkin setiap orang selalu memiliki pandangan yang sama. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, tetapi cara menghadapi perbedaan itulah yang menunjukkan kualitas adab seseorang.
Karena itu, persoalan kecil jangan sampai berubah menjadi permusuhan panjang hanya karena masing-masing pihak ingin menjadi pemenang dalam adu mulut.
Lebih baik mencari titik temu daripada memperpanjang perdebatan. Lebih baik meminta maaf ketika memang bersalah daripada mempertahankan gengsi. Lebih baik memaafkan ketika orang lain telah menyadari kekeliruannya daripada menyimpan dendam.
Introspeksi Sebelum Menunjuk Orang Lain
Setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Karena itu, sebelum memperbesar kesalahan orang lain, ada baiknya melihat ke dalam diri sendiri.
- Apakah cara bicara saya sudah baik?
- Apakah saya sedang mencari solusi atau hanya ingin melampiaskan emosi?
- Apakah saya bersedia mengakui kesalahan jika memang keliru?
- Apakah perkataan saya akan memperbaiki keadaan atau justru memperburuknya?
- Apakah setelah persoalan selesai hubungan dengan orang tersebut masih dapat terjaga?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem sebelum emosi membawa seseorang terlalu jauh.
Mengutamakan Kepentingan Bersama
Dalam kehidupan bersama, kepentingan pribadi tidak selalu dapat ditempatkan di atas kepentingan umum. Terkadang seseorang perlu mengalah demi menjaga hubungan, ketenteraman lingkungan dan persaudaraan.
Mengalah bukan selalu berarti kalah. Diam bukan selalu berarti tidak mampu menjawab. Memaafkan bukan berarti lemah. Justru kemampuan untuk mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas merupakan bentuk kedewasaan dalam bersikap.
Pada akhirnya, “Yen ana rembug, ya dirembug” bukan sekadar ungkapan. Di dalamnya terdapat pesan tentang pentingnya komunikasi, musyawarah dan menjaga hubungan baik.
Adu mulut mungkin dapat membuat seseorang merasa telah melampiaskan kekesalannya. Namun, kemenangan dalam adu suara belum tentu berarti kemenangan dalam menyelesaikan persoalan.
Justru kemampuan menahan emosi, mengakui kekurangan diri, mudah memaafkan dan memilih perkataan yang baik dapat menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah baru.
Sebagai manusia yang hidup bersama orang lain, mari belajar mendahulukan kepentingan bersama, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan tetangga, serta menjadikan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sebab, terkadang yang paling sulit bukan memenangkan perdebatan dengan orang lain, melainkan mengalahkan ego yang ada di dalam diri sendiri.