Tumbak Cucukan: Hindari Jika Ingin Selamat Dunia Akhirat

Tumbak Cucukan: Hindari Jika Ingin Selamat Dunia Akhirat + Dalil Al-Quran

Tumbak Cucukan, Hindari Jika Ingin Selamat Dunia Akhirat

Memahami sifat wadulan (adu domba) dalam budaya Jawa beserta dalil Al-Quran dan ancamannya bagi pelakunya.

Tiap diri seseorang yang memiliki kelebihan tentu ada kekurangan, dan sebaliknya pula, tiap diri yang memiliki kekurangan tentu juga memiliki kelebihan. Itulah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala — tak seorang pun manusia di dunia ini yang sempurna.

Kesadaran akan keseimbangan ini semestinya melahirkan dua sikap mulia:

  • Menghindari menonjolkan kelebihan diri secara berlebihan, karena dikhawatirkan terjatuh pada riya' (ingin dipuji) dan takabur (sombong).
  • Menjaga diri untuk tidak mengumbar kekurangan orang lain, karena bisa jadil hal itu berubah menjadi fitnah dan merusak kehormatan serta persaudaraan.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menjadikan aib orang lain sebagai "bahan dagangan". Mereka berkeliling dari satu orang ke orang lain sambil menyampaikan kejelekan dan rahasia orang ketiga. Dalam budaya Jawa, orang seperti ini disebut tumbak cucukan.

Pengertian Tumbak Cucukan

"Tegese tumbak cucukan yaiku wong kang seneng pira wadulan."

Artinya: makna tumbak cucukan adalah orang yang gemar berbuat wadulan — suka mengadu domba.

Secara kebahasaan, tumbak berarti tombak, sedangkan cucukan berarti ujung yang runcing dan tajam. Sehingga tumbak cucukan dapat dimaknai sebagai tombak yang runcing tajam — kiasan bagi perkataan yang tajam, "menusuk", dan melukai hati orang lain.

Dalam pemahaman masyarakat Jawa, tumbak cucukan merujuk pada orang yang suka mengadu domba, yaitu menyampaikan perkataan atau rahasia orang lain kepada pihak lain dengan tujuan memancing masalah atau membuat keributan. Kata kuncinya adalah wadulan: gemar melaporkan dan menceritakan kejelekan orang lain ke mana-mana.

Sifat dan Makna Tumbak Cucukan

Ada tiga ciri utama yang merangkum sifat dan makna tumbak cucukan:

1

Wadulan

Suka melaporkan atau menceritakan kejelekan orang lain. Aib dan kesalahan orang senantiasa dibawa ke mana-mana — bukan untuk dinasihati, melainkan untuk disebarkan.

2

Kaya Tombak

Perkataannya tajam dan menyakitkan hati orang yang dibicarakan. Pandai membumbui cerita dengan sindiran, tuduhan, dan kata-kata yang menyudutkan.

3

Dampak

Bisa menimbulkan perpecahan, salah paham, atau permusuhan di antara sesama. Hubungan bertahun-tahun bisa retak hanya karena satu lidah yang tidak terjaga.

Tumbak Cucukan dalam Perspektif Islam

Dalam istilah syariat, sifat tumbak cucukan identik dengan namimah (adu domba) yang berkaitan erat dengan ghibah (menggunjing):

  • Namimah: menyebarluaskan perkataan seseorang kepada pihak lain dengan maksud memecah belah, misalnya berkata, "Si Fulan mengatakan begini tentangmu..."
  • Ghibah: menceritakan aib atau kejelekan saudara yang tidak hadir, meskipun yang diceritakan itu benar adanya.

Jika digabungkan, keduanya sempurna menggambarkan sosok tumbak cucukan: memburu aib, lalu menusukkannya layaknya tombak ke tengah-tengah persaudaraan. Ibnu Mubarak rahimahullah bahkan menegaskan, "Pengadu domba lebih buruk daripada tukang sihir, karena tukang sihir bisa saja tidak berhasil, sedangkan pengadu domba kerap berhasil memecah belah." (dinukil dalam Ihya' Ulumiddin)

Dalil Al-Quran yang Melarang

Al-Quran sangat tegas membenci sifat ini. Berikut sejumlah dalil yang menunjukkan betapa besar bahaya tumbak cucukan (adu domba dan menggunjing):

Dalil 1 — Adu Domba (Namimah)

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ ﴿١١﴾

"Dan janganlah engkau menuruti setiap orang yang bersumpah lagi hina, (yaitu) orang yang suka mencela, yang pergi ke mana-mana untuk mengadu domba."

(QS. Al-Qalam [68]: 10–11)

Catatan: Kata masya'in binamim (pergi ke mana-mana membawa adu domba) disandingkan Allah dengan sifat tercela lainnya — bukti bahwa tumbak cucukan adalah sifat orang yang hina di hadapan Allah.

Dalil 2 — Ancaman bagi Pengumpat

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ﴿١﴾ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ﴿٢﴾

"Celakalah (wail) bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya."

(QS. Al-Humazah [104]: 1–2)

Catatan: Wail menunjukkan kehancuran dan azab neraka. Humazah adalah yang mencela dengan ucapan, lumazah yang mencela dengan isyarat dan gerak-gerik.

Dalil 3 — Larangan Mengejek dan Menyindir

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۚ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)... dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk."

(QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Catatan: Sindiran dan ejekan adalah "tombak kecil" yang biasanya menjadi pembuka kebiasaan wadulan. Boleh jadi orang yang kita cela jauh lebih mulia di sisi Allah.

Dalil 4 — Larangan Ghibah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."

(QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Catatan: Allah mengibaratkan pembicara aib orang lain seperti pemakan bangkai saudaranya sendiri. Prasangka buruk dan tajassus (mencari-cari kesalahan) adalah pintu masuk utama sifat tumbak cucukan.

Dalil 5 — Azab Penyebar Aib

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (perbuatan keji/aib) di kalangan orang-orang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

(QS. An-Nur [24]: 19)

Catatan: Termasuk di dalamnya mereka yang senang menyebarluaskan gosip dan aib orang lain di media sosial. Azabnya pedih: di dunia dan di akhirat.

Dalil 6 — Perintah Tabayyun

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

(QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Catatan: Tabayyun adalah obat utama menangkal tumbak cucukan. Jangan pernah menerima dan meneruskan kabar dari orang yang dikenal suka mengadu domba.

Dalil 7 — Setiap Ucapan Dimintai Pertanggungjawaban

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban."

(QS. Al-Isra' [17]: 36)

Catatan: Telinga yang dipakai mendengarkan gosip dan lisan yang dipakai menyebarkannya pun kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Hadits Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras terhadap pelaku adu domba:

Hadits 1

"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (qattaat)."

(HR. Bukhari no. 6055 dan Muslim no. 105)

Hadits 2

"Sesungguhnya keduanya disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci dari kencingnya, sedangkan yang lain disiksa karena dahulu berjalan kian kemari membawa adu domba (namimah)."

(HR. Bukhari no. 218 dan Muslim no. 292, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma)

Hadits 3

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau (jika tidak mampu) hendaklah ia diam."

(HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

Bahaya Tumbak Cucukan bagi Pelakunya

  • Amal kebaikan bisa terhapus. Rasulullah ﷺ menyebut orang yang mencaci dan menuduh sesama sebagai orang "bangkrut" (muflis) — datang di hari kiamat dengan amal banyak, namun habis untuk membayar kezaliman lisannya (HR. Muslim no. 2577).
  • Terdorong dari pintu surga. Ancaman hadits qathaath di atas menunjukkan ini dosa besar, bukan perkara sepele.
  • Azab kubur. Sebagaimana hadits Ibnu 'Umar, pengadu domba disiksa dalam kuburnya.
  • Fitnah lebih berat dari pembunuhan. Allah berfirman: "Dan fitnah itu lebih berat (dari) pembunuhan" (QS. Al-Baqarah [2]: 191). Menyebarkan kejelekan bisa membunuh kehormatan seseorang.
  • Hilangnya kepercayaan. Orang yang dikenal wadulan lama-kelamaan dijauhi masyarakat karena lisannya tak bisa dipercaya.
  • Merusak tatanan masyarakat. Melahirkan perpecahan, permusuhan, dan putusnya silaturahmi — dosa yang tidak menetap pada pelakunya saja, tetapi mengalir pada semua yang ikut menyebarkan.

Cara Menghindari Sifat Tumbak Cucukan

  1. Tabayyun setiap kabar. Verifikasi kebenaran berita sebelum dipercaya, apalagi diteruskan (QS. Al-Hujurat: 6).
  2. Terapkan kaidah "berkata baik atau diam". Jika ucapannya tidak bermanfaat, tahan lisan.
  3. Husnudzan kepada sesama. Baik sangka menutup pinta prasangka yang melahirkan ghibah (QS. Al-Hujurat: 12).
  4. Jaga amanah rahasia. Rahasia yang dititipkan orang adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
  5. Sibukkan diri dengan kebaikan. Orang yang sibuk memperbaiki dirinya tak sempat mengurus aib orang lain.
  6. Sadari diri tidak sempurna. Ingat, tiap kelebihan pasti berpasangan dengan kekurangan — tidak ada gunanya menyombongkan kelebihan atau menertawakan kekurangan orang lain.
  7. Pilih lingkungan yang baik. Bergaul dengan orang yang lisannya terjaga akan membiasakan kita menjaga lisan.
  8. Muhasabah dan segera tobat. Jika pernah terlanjur berbuat, luruskan kesalahpahaman yang timbul, minta maaf, dan bertobatlah kepada Allah yang Maha Penerima Tobat.

Kesimpulan

Tumbak cucukan adalah sosok yang gemar wadulan — mengadu domba dan menceritakan kejelekan orang lain dengan ucapan tajam layaknya tombak. Dampaknya luar biasa merusak: perpecahan, permusuhan, dan hilangnya kehormatan orang lain.

Al-Quran dan hadits sangat tegas melarangnya. Sebaliknya, iman menuntut kita menutup aib sesama, menjaga lisan, berprasangka baik, dan menyibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan sendiri — sebab tiap kelebihan pasti ada kekurangannya, dan tiap kekurangan pasti ada kelebihannya.

Renungan penutup: Sebelum berbicara tentang orang lain, saringlah dengan tiga pertanyaan: Benarkah apa yang aku katakan? Bermanfaatkah? Dan apakah diam itu lebih baik? Jika jawabannya tidak — maka tahanlah lisan. Demikianlah salah satu kunci agar selamat dunia akhirat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu tumbak cucukan?

Tumbak cucukan adalah istilah Jawa untuk orang yang suka mengadu domba (wadulan), yaitu menyampaikan perkataan atau rahasia orang lain kepada pihak lain dengan tujuan memancing masalah atau membuat keributan.

Apa itu wadulan?

Wadulan adalah sifat gemar melaporkan atau menceritakan kejelekan orang lain kepada pihak lain — bukan untuk memberi nasihat, melainkan untuk menyebarkan permasalahan.

Apa hukum adu domba (namimah) dalam Islam?

Haram dan termasuk dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang suka mengadu domba tidak akan masuk surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Apa perbedaan namimah dan ghibah?

Namimah adalah menyebarkan perkataan seseorang kepada pihak lain untuk memecah belah, sedangkan ghibah adalah menceritakan aib atau kejelekan orang yang tidak hadir, meskipun yang diceritakan benar.

Bagaimana cara menyikapi orang yang suka adu domba?

Tabayyun (verifikasi), jangan langsung percaya, jangan sekali-kali meneruskan kabarnya, nasihati dengan hikmah, dan jauhi bila ia tidak juga berhenti.

Tumbak Cucukan Namimah Ghibah Adu Domba Wadulan Akhlak Tercela Dalil Al-Quran

Semoga bermanfaat. Mari saling menutup aib, bukan saling menusuk dengan tumbak cucukan. 🤲