Padukuhan Sangurejo yang terletak di Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini tengah berada di ambang sejarah baru. Kampung yang sebelumnya telah meraih predikat ProKlim Utama di level nasional ini, secara resmi masuk dalam 32 nominasi ProKlim Lestari 2026. Pencapaian ini menempatkan Sangurejo sebagai kandidat kuat lokasi pertama di seluruh wilayah DIY yang berpotensi menyabet penghargaan tertinggi dalam Program Kampung Iklim (ProKlim) dari pemerintah pusat.
⚡ Poin Utama Berita
- Status Nominasi: Sangurejo menjadi satu-satunya wakil DIY dari 32 lokasi nasional yang diusulkan menerima Trofi ProKlim Lestari 2026.
- Syarat Kemitraan: Berhasil melampaui batas minimal 10 mitra binaan dengan membina 12 lokasi di wilayah Sleman dan sekitarnya.
- Inovasi Ekoteologi: Integrasi nilai agama (LDII) melalui gerakan 'Kyai Peduli Sampah' dan pemanfaatan limbah kulit salak menjadi ecoprint bernilai ekspor.
Apa yang Menjadi Tolok Ukur Keberhasilan Sangurejo?
Berdasarkan rilis resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Sangurejo akan menjalani proses verifikasi lapangan pada 20–21 Agustus 2026. Transisi dari kategori 'Utama' menuju 'Lestari' bukanlah perkara mudah. Hal ini memerlukan konsistensi dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah mengakar di tengah masyarakat.
Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, menegaskan bahwa perjalanan ini adalah muara dari komitmen kolektif selama bertahun-tahun. Agus, yang juga merupakan peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memandang momen ini sebagai pembuktian amal saleh warga dalam menjaga kelestarian bumi.
“Alhamdulillah, tahun ini kami mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan ProKlim Lestari yang insya Allah menjadi yang pertama di DIY, pertama di Sleman. Ini capaian puncak dari amal saleh kami dalam mengembangkan Program Kampung Iklim setelah melewati banyak kegiatan selama ini,” ujar Agus Kurniawan.
Strategi penguatan dilakukan melalui gotong royong sistematis, mulai dari pembenahan administrasi, penataan titik kunjungan, hingga pelestarian keanekaragaman hayati lokal (indigenous species). Kesiapan ini mencakup presentasi praktik baik yang telah berjalan secara mandiri di tingkat padukuhan.
Bagaimana Peran Jejaring Kemitraan dan Akademisi?
Salah satu syarat mutlak kategori Lestari adalah kemampuan sebuah lokasi untuk mereplikasi programnya ke wilayah lain. Sangurejo menunjukkan taringnya dengan merangkul 12 lokasi mitra binaan, melampaui kuota minimal 10 lokasi. Beberapa di antaranya meliputi Padukuhan Kuwang, Nganggring, hingga Plosorejo. Hal ini membuktikan bahwa resonansi positif dari Sangurejo telah menyebar luas ke penjuru Sleman.
Kekuatan Sangurejo juga bertumpu pada kolaborasi lintas sektor yang sangat masif. Atus Syahbudin, Dosen Fakultas Kehutanan UGM, menyoroti bahwa valuasi keanekaragaman hayati dan sosial di kampung ini terus meningkat berkat dukungan berbagai perguruan tinggi seperti UGM, UNY, UPN, hingga UIN Sunan Kalijaga.
“Ini bukan pekerjaan satu orang. Kami punya banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Sekarang energi dan semangat itu harus kami satukan untuk menghadapi verifikasi ini. Valuasi keanekaragaman hayati dan sosial Kampung Sangurejo sudah semakin menjulang,” ungkap Atus Syahbudin.
Keterlibatan organisasi seperti Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) dalam bingkai Kampung Pramuka turut memperkokoh fondasi pemberdayaan pemuda di Sangurejo, terutama dalam konservasi tanah dan air di sekitar kawasan Embung Kaliaji.
Mengapa Inovasi Ecoprint dan Ekoteologi Menarik Perhatian?
Keunikan Sangurejo terletak pada kemampuannya mengawinkan aspek ekonomi kreatif dengan isu lingkungan. Produk ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) menjadi buktinya. Menariknya, produk ini menggunakan limbah kulit salak—komoditas lokal Turi—sebagai pewarna alami. Inovasi ini bahkan telah masuk dalam koleksi Hortus Botanicus Leiden di Belanda, sebuah pengakuan internasional bagi kerajinan berbasis lingkungan dari pelosok Sleman.
Di sisi lain, pendekatan spiritual melalui Ekoteologi menjadi penggerak moral yang kuat. Melalui dukungan DPW LDII DIY, konsep 'Kyai Peduli Sampah' dan 'Sampah Jadi Jariyah' diperkenalkan sebagai bentuk dakwah ekologi. Pendekatan ini meyakini bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ketaatan kepada Sang Pencipta, yang diimplementasikan melalui aksi nyata dakwah bil hal.
M. Chairul Huda, Ketua ProKlim Sangurejo, optimis bahwa transformasi dari wilayah yang dulunya dijuluki 'Pak Kumis' (Padat, Kumuh, Miskin) menjadi kampung hijau yang asri akan menginspirasi wilayah lain di Indonesia. Baginya, ProKlim Lestari bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan lingkungan berkelanjutan yang berasaskan gotong royong.
📖 Glosarium Istilah
- ProKlim Lestari: Tingkatan tertinggi dalam Program Kampung Iklim yang diberikan kepada lokasi yang telah meraih ProKlim Utama dan berhasil membina minimal 10 lokasi lain.
- Ekoteologi: Pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan keagamaan dalam menjaga ekosistem dan lingkungan hidup.
- Ecoprint: Teknik memberi pola pada bahan kain menggunakan bahan alami seperti daun, bunga, atau limbah organik yang ramah lingkungan.
- Indigenous Species: Spesies asli atau lokal yang secara alami mendiami suatu wilayah tertentu tanpa campur tangan manusia.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.