Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membangun kemandirian ekonomi umat. Hal ini dibuktikan melalui kunjungan strategis Pengurus Harian DPW LDII Kaltim ke Bank Sampah Sukses Sejati di Kelurahan Panji, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Rabu (14/8). Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar organisasi untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan limbah modern ke dalam ekosistem pendidikan, baik di sekolah formal maupun pondok pesantren di bawah naungan LDII.
⚡ Poin Utama Berita
- Inisiatif Lingkungan: DPW LDII Kalimantan Timur mempelajari sistem manajemen limbah untuk diterapkan di institusi pendidikan dan pesantren.
- Nilai Ekonomi: Pengelolaan sampah yang terorganisir mampu menghasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui pemilahan material yang tepat.
- Pendidikan Karakter: Budaya memilah sampah diproyeksikan menjadi instrumen pembentukan karakter peduli lingkungan bagi generasi muda di lingkungan LDII.
Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua DPW LDII Kalimantan Timur, Krishna P. Candra. Ia didampingi oleh jajaran pengurus inti, di antaranya Wakil Ketua Eko Budiono, Sekretaris Wildan Taufik, Bendahara Wahyu Hidayat, Ketua Biro Pendidikan Umum Edy Purwanto, serta Ketua Biro Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LISDAL) Arbani Effendi. Kehadiran para petinggi organisasi ini menunjukkan urgensi program pengelolaan lingkungan bagi masa depan organisasi dan masyarakat Kaltim secara luas.
Apa Tujuan Utama Kunjungan LDII Kaltim ke Bank Sampah?
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Pengurus LDII berupaya mendalami konsep dan operasional sistem bank sampah yang telah teruji keberhasilannya di Kelurahan Panji. Sambutan hangat diberikan oleh Lurah Panji, Hanapi, serta Ketua Bank Sampah Sukses Sejati, Kusnan, yang juga menjabat sebagai Ketua RT setempat. Mereka berbagi wawasan mengenai tantangan dan peluang dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah.
Kusnan memaparkan bahwa dukungan masyarakat terhadap bank sampah terus meningkat karena manfaatnya yang sangat nyata, baik secara ekologis maupun finansial. "Program ini sangat didukung warga karena mempunyai nilai ekonomi yang membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Sampah yang telah dipilah akan diproses oleh petugas untuk kemudian dijual kembali," jelas Kusnan kepada rombongan.
"Program ini sangat didukung warga karena mempunyai nilai ekonomi yang membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Sampah yang telah dipilah akan diproses oleh petugas untuk kemudian dijual kembali," ujar Kusnan.
Bagaimana Sistem Nilai Ekonomi dalam Pengelolaan Limbah?
Dalam diskusinya, Kusnan merinci berbagai kategori sampah yang memiliki nilai jual bervariasi. Mulai dari botol mineral, tutup botol, plastik label, wadah telur, hingga berbagai jenis limbah plastik lainnya. Rentang harga jualnya berkisar antara Rp100 hingga Rp10.000 per kilogram, bahkan bisa lebih tinggi untuk jenis material tertentu yang sulit ditemukan atau memiliki permintaan industri yang besar.
Lurah Panji, Hanapi, menyambut positif inisiatif LDII Kaltim. Ia memandang kolaborasi antara ormas dan pemerintah setempat dalam isu lingkungan adalah kunci keberlanjutan. "Kami sangat senang menerima kunjungan dari LDII Kalimantan Timur. Semoga ini menjadi langkah awal kerja sama yang baik dalam menumbuhkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat," kata Hanapi dengan optimis.
"Kami sangat senang menerima kunjungan dari LDII Kalimantan Timur. Semoga ini menjadi langkah awal kerja sama yang baik dalam menumbuhkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat," ungkap Hanapi.
Mengapa Edukasi Pengelolaan Sampah Penting bagi Ponpes dan Sekolah?
Ketua DPW LDII Kaltim, Krishna P. Candra, menegaskan bahwa data dan pengalaman dari Bank Sampah Sukses Sejati akan diformulasikan menjadi modul edukasi bagi warga LDII. Menurutnya, pesantren dan sekolah adalah tempat terbaik untuk memulai pembiasaan ini. Persoalan sampah bukan sekadar soal estetika, melainkan tanggung jawab moral dan peluang ekonomi sirkular.
"Kami berharap nantinya edukasi lebih luas kepada warga LDII, termasuk seluruh sekolah dan pondok pesantren, agar semakin peduli terhadap pengelolaan sampah dan limbah. Persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomis serta menjadi bagian dari pendidikan karakter," papar Krishna P. Candra.
Sejalan dengan itu, Edy Purwanto selaku Ketua Biro Pendidikan Umum dan Pelatihan menyoroti tantangan perilaku di masyarakat. Ia menilai kesadaran untuk memilah sampah dari sumbernya masih perlu ditingkatkan secara masif. Langkah sederhana seperti memisahkan plastik dan kertas memiliki dampak sistemik dalam mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Pemahaman tentang pentingnya memilah sampah masih relatif rendah, padahal langkah sederhana tersebut memberikan dampak yang sangat besar," tegas Edy Purwanto.
Kunjungan diakhiri dengan peninjauan langsung fasilitas pengolahan, termasuk mesin penghancur botol plastik yang menjadi jantung produksi bank sampah tersebut. Rombongan juga sempat meninjau salah satu pondok pesantren di Kelurahan Panji yang sudah mulai merintis sistem serupa. Candra optimistis bahwa model ini dapat direplikasi di Balikpapan, Samarinda, hingga Kutai Kartanegara.
Penerapan program ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis dan religius, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap krisis lingkungan global yang dimulai dari tindakan kecil di lingkungan sekolah.
📖 Glosarium Istilah
- Bank Sampah: Suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah untuk disetorkan ke tempat daur ulang dan memiliki nilai ekonomi bagi penyetornya.
- Ekonomi Sirkular: Model ekonomi yang berfokus pada pengurangan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.
- LISDAL: Biro Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, sebuah divisi dalam struktur organisasi LDII yang fokus pada isu ekologi.
- Pendidikan Karakter: Upaya terencana untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti, dalam hal ini tanggung jawab terhadap lingkungan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.