Smart Glasses, Simak Etika Penggunaan di Ruang Publik agar Tidak Melanggar Hak Privasi Orang Lain

Smart Glasses, Simak Etika Penggunaan di Ruang Publik agar Tidak Melanggar Hak Privasi Orang Lain
4 Agustus 2026 • Teknologi • Etika Digital

Perkembangan teknologi wearable menghadirkan berbagai inovasi baru, salah satunya smart glasses atau kacamata pintar yang mampu merekam video hanya dengan satu sentuhan atau perintah suara. Bentuknya yang menyerupai kacamata biasa membuat perangkat ini semakin diminati oleh kreator konten, jurnalis, pelancong, hingga masyarakat umum untuk menghasilkan video dari sudut pandang orang pertama (Point of View/POV).

Namun di balik kecanggihan tersebut, muncul pula tantangan baru mengenai etika penggunaan kamera tersembunyi di ruang publik. Perbincangan ini mengemuka setelah viralnya sebuah konten yang direkam menggunakan smart glasses di ajang otomotif GIIAS 2026. Video tersebut memicu diskusi luas mengenai batas antara kebebasan membuat konten dan kewajiban menghormati hak privasi orang lain.

Belajar dari Peristiwa GIIAS 2026

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi selalu diikuti dengan tanggung jawab moral. Banyak orang di sekitar tidak menyadari bahwa smart glasses sedang merekam karena perangkat tersebut tampak seperti kacamata biasa. Ketika seseorang dijadikan fokus utama dalam sebuah konten tanpa sepengetahuan atau persetujuannya, hal itu dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan memicu persoalan hukum apabila merugikan pihak yang direkam.

Etika Menggunakan Smart Glasses di Ruang Publik

  • Hormati privasi orang lain. Hindari menjadikan seseorang sebagai objek utama rekaman tanpa izin.
  • Bedakan merekam suasana dengan merekam individu. Mengambil gambar suasana umum berbeda dengan menyorot satu orang secara terus-menerus.
  • Mintalah persetujuan. Apabila seseorang menjadi fokus utama dalam video, sebaiknya mintalah izin terlebih dahulu.
  • Jangan membuat konten yang mempermalukan orang lain. Hindari unggahan yang dapat menimbulkan rasa malu, pelecehan, atau perundungan.
  • Hargai lokasi tertentu. Beberapa tempat memiliki aturan yang melarang perekaman, seperti ruang ibadah, ruang ganti, ruang kesehatan, maupun area dengan pembatasan khusus.
  • Gunakan teknologi secara bertanggung jawab. Smart glasses merupakan alat bantu, bukan alasan untuk mengabaikan etika sosial.

Apakah Merekam di Tempat Umum Selalu Boleh?

Secara umum, ruang publik memang memiliki tingkat ekspektasi privasi yang lebih rendah dibanding ruang pribadi. Namun demikian, hal tersebut bukan berarti setiap orang bebas merekam individu lain untuk dijadikan konten tanpa mempertimbangkan dampaknya. Apalagi jika rekaman tersebut berpotensi merugikan nama baik, menimbulkan pelecehan, atau disebarluaskan tanpa memperhatikan hak-hak subjek yang direkam.

Perlu diperhatikan:

Di Indonesia, penggunaan rekaman dapat bersinggungan dengan berbagai ketentuan hukum, termasuk perlindungan data pribadi, hak atas privasi, serta aturan lain yang berlaku apabila suatu konten menimbulkan kerugian bagi orang lain. Oleh karena itu, setiap pengguna smart glasses sebaiknya memahami bahwa aspek hukum akan sangat bergantung pada konteks, tujuan penggunaan, isi rekaman, dan cara penyebarannya.

Teknologi Harus Diiringi Etika

Smart glasses merupakan inovasi yang memberikan banyak manfaat bagi dokumentasi, pendidikan, liputan jurnalistik, olahraga, hingga aktivitas sehari-hari. Namun secanggih apa pun teknologi, pengguna tetap dituntut untuk memiliki etika, empati, dan rasa hormat terhadap orang lain.

Menghargai privasi bukan berarti menghambat perkembangan teknologi, melainkan memastikan bahwa inovasi dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa mengurangi hak setiap individu untuk merasa aman dan dihormati. Pada akhirnya, teknologi yang baik bukan hanya yang paling canggih, tetapi juga yang digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Macam-Macam Smart Glasses yang Beredar di Pasaran

Seiring berkembangnya teknologi wearable, produsen elektronik berlomba menghadirkan berbagai jenis smart glasses. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, mulai dari merekam video, menerima panggilan telepon, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), hingga menampilkan informasi melalui teknologi Augmented Reality (AR). Berikut beberapa kategori dan merek yang cukup dikenal.

1. Smart Glasses dengan Kamera

Jenis ini paling populer karena mampu merekam video dan mengambil foto dari sudut pandang pengguna (Point of View/POV). Desainnya menyerupai kacamata biasa sehingga praktis digunakan saat berolahraga, travelling, liputan kegiatan, maupun membuat konten media sosial.

  • Ray-Ban Meta Smart Glasses — Salah satu smart glasses paling populer saat ini. Dilengkapi kamera, speaker, mikrofon, dan fitur Meta AI.
  • BleeqUp Ranger — Dirancang untuk pesepeda dan aktivitas luar ruang dengan kamera terintegrasi serta fitur AI.
  • OhO Camera Glasses — Smart glasses ekonomis yang banyak digunakan untuk dokumentasi perjalanan dan aktivitas harian.
  • XREAL Eye Camera — Modul kamera yang dapat dipasangkan pada beberapa perangkat XREAL untuk mengambil foto dan video.

2. Smart Glasses Berbasis AI

Kategori ini menggabungkan kamera, mikrofon, serta kecerdasan buatan sehingga mampu menjawab pertanyaan, menerjemahkan bahasa, mengenali objek, hingga membantu navigasi.

  • Ray-Ban Meta AI
  • Solos AirGo Vision
  • Xiaomi AI Glasses
  • Baidu Xiaodu AI Glasses

3. Smart Glasses Augmented Reality (AR)

Berbeda dengan smart glasses kamera biasa, perangkat AR mampu menampilkan informasi digital langsung di depan mata pengguna. Teknologi ini banyak dimanfaatkan untuk produktivitas, navigasi, pendidikan, hingga industri.

Memilih Smart Glasses Sesuai Kebutuhan

Sebelum membeli smart glasses, pertimbangkan tujuan penggunaannya. Apabila hanya untuk dokumentasi perjalanan atau membuat konten, smart glasses dengan kamera sudah mencukupi. Namun bagi pengguna profesional yang membutuhkan navigasi, tampilan informasi digital, atau bantuan kecerdasan buatan, perangkat berbasis AI maupun AR dapat menjadi pilihan meskipun harganya relatif lebih tinggi.

Selain memperhatikan spesifikasi seperti kualitas kamera, kapasitas baterai, penyimpanan, ketahanan air, dan kenyamanan saat digunakan, pengguna juga perlu memahami aturan serta etika ketika melakukan perekaman. Kemajuan teknologi seharusnya berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak privasi setiap orang.