Sinergi Budaya dan Religi, LDII Situbondo Hadiri Kirab 2.400 Ancak Agung

Sinergi Budaya dan Religi, LDII Situbondo Hadiri Kirab 2.400 Ancak Agung
foto: ilustrasi

DPD LDII Kabupaten Situbondo secara resmi menghadiri perhelatan kolosal Kirab 2.400 Ancak Agung yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Acara yang berlangsung meriah ini merupakan manifestasi rasa syukur dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 dan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

Pelestarian Tradisi Lokal dan Ekspresi Kegembiraan Masyarakat

Kehadiran ribuan Ancak Agung di jalanan Situbondo bukan sekadar tontonan visual, melainkan sebuah simbol kekuatan akar budaya lokal. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menekankan bahwa tradisi ini merupakan bentuk nyata dari kegembiraan kolektif masyarakat dalam menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang telah mengakar kuat ini menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai spiritualitas dengan kearifan lokal yang luhur.

“Ancak Agung merupakan tradisi masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini ungkapan rasa sukacita masyarakat menyambut Maulid Nabi. Ini sebuah sejarah di mana masyarakat terlibat dengan mengungkapkan rasa sukacitanya,” ujar Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.

Bupati Yusuf Rio juga menyoroti pentingnya menjaga warisan sejarah dan potensi daerah di tengah arus modernisasi. Menurutnya, pembangunan Situbondo saat ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan fondasi identitas daerah. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan permainan tradisional, kuliner khas, serta kekayaan sejarah yang menjadi jati diri warga Situbondo.

Rekam Jejak Sejarah dan Transformasi Pemerintahan Situbondo

Perjalanan panjang Kabupaten Situbondo memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bermula dari masa pemerintahan Besuki hingga bertransformasi menjadi Situbondo yang dikenal luas saat ini. Penentuan hari jadi pada tanggal 15 Agustus didasarkan pada landasan hukum yang kuat, yakni Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 12 Tahun 2013, yang merujuk pada pengangkatan KRT Prawiroadiningrat sebagai Bupati pertama pada tahun 1818.

“Secara historis, penetapan 15 Agustus 1818 sebagai Hari Jadi Kabupaten Situbondo memiliki dasar Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 12 Tahun 2013. Regulasi tersebut menyebut tanggal 15 Agustus 1818 sebagai awal berjalannya pemerintahan daerah yang berkaitan dengan pengangkatan KRT Prawiroadiningrat atau Bambang Soetiknyo sebagai Bupati pertama Besuki,” jelas Bupati Yusuf Rio.

Sejarah mencatat perubahan nama dari Besuki menjadi Panarukan pada 1858, sebelum akhirnya resmi berganti menjadi Kabupaten Situbondo pada tahun 1972 seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan. Nama Panarukan sendiri telah abadi dalam catatan sejarah nasional melalui pembangunan Jalan Raya Pos, bahkan jauh sebelumnya telah disebut dalam naskah kuno Nagarakrtagama sebagai wilayah yang dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pada tahun 1359.

Komitmen Kontribusi LDII dalam Kehidupan Bermasyarakat

Partisipasi LDII dalam agenda besar ini menunjukkan kedekatan organisasi dengan program-program pemerintah daerah. Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Situbondo, Anwarudin, menyatakan bahwa keterlibatan mereka merupakan wujud nyata dari peran aktif organisasi dalam merajut tali silaturahmi antarelemen masyarakat dan mendukung pelestarian nilai-nilai religius serta nasionalisme.

“Kegiatan ini dihadiri sejumlah unsur organisasi keagamaan dan masyarakat setempat. Kirab ini mempertemukan masyarakat dalam sebuah kegiatan yang menggabungkan peringatan keagamaan dengan rangkaian peringatan hari jadi daerah dan kemerdekaan,” tutur Anwarudin.

Melalui momentum Kirab Ancak Agung ini, diharapkan sinergi antara organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, dan pemerintah daerah semakin solid. Hal ini menjadi modal sosial yang penting bagi kemajuan Situbondo di masa depan, di mana kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan kelestarian tradisi dan keharmonisan umat beragama.

📖 Glosarium Istilah

  • Ancak Agung: Wadah berisi nasi dan lauk-pauk yang dihias sedemikian rupa sebagai simbol syukur dan kebersamaan dalam tradisi masyarakat Jawa dan Madura di Situbondo.
  • Harjakasi: Akronim dari Hari Jadi Kabupaten Situbondo, peringatan tahunan berdirinya pemerintahan daerah tersebut.
  • Nagarakrtagama: Kakawin atau naskah sastra Jawa Kuno karya Mpu Prapanca yang menjadi sumber sejarah penting mengenai Kerajaan Majapahit.
  • KRT Prawiroadiningrat: Sosok yang dikenal sebagai Bupati pertama Besuki, yang menjadi rujukan awal sejarah birokrasi di wilayah Situbondo.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.