Shalat Istisqa', Ikhtiar Memohon Turunnya Hujan di Kemarau Panjang

Shalat Istisqa', Ikhtiar Memohon Turunnya Hujan di Kemarau Panjang

Shalat Istisqa', Ikhtiar Memohon Turunnya Hujan di Kemarau Panjang

Ketika kemarau panjang membuat tanah mengering, sungai menyusut, dan ancaman kebakaran hutan serta lahan meningkat, manusia kembali diingatkan bahwa air adalah nikmat yang sangat berharga. Dalam kondisi seperti itu, umat Islam diajarkan untuk tidak hanya melakukan ikhtiar lahiriah, tetapi juga memohon pertolongan Allah SWT melalui Shalat Istisqa'.

SAMPIT — Kemarau panjang menghadirkan tantangan tersendiri bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Ketika hujan jarang turun dalam waktu yang cukup lama, tanah mulai mengering, sumber air berkurang, dan vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.

Memasuki bulan Agustus 2026, kondisi kering terasa di berbagai daerah. Di sejumlah wilayah Kalimantan, sungai-sungai yang berada jauh dari laut mengalami penyusutan debit yang cukup ekstrem. Permukaan air yang biasanya memenuhi alur sungai perlahan surut, memperlihatkan bagian dasar yang sebelumnya tertutup air.

Pada saat yang sama, titik panas atau hotspot juga menjadi perhatian. Munculnya titik api di sejumlah area lahan kosong menjadi pengingat bahwa kondisi kemarau membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.

Tim tanggap darurat dan pihak terkait pun dituntut untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Pencegahan, pemantauan, dan penanganan kebakaran menjadi semakin penting ketika kondisi lingkungan berada dalam keadaan kering.

Namun bagi seorang muslim, menghadapi kondisi sulit tidak berhenti pada ikhtiar secara lahiriah. Ada pula ikhtiar batiniah yang diajarkan dalam syariat, yaitu memohon pertolongan Allah SWT.

Apa Itu Shalat Istisqa'?

Shalat Istisqa' adalah shalat yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan ketika manusia mengalami kekeringan atau membutuhkan hujan.

Istisqa' bukan sekadar aktivitas meminta air dari langit. Di dalamnya terdapat sikap merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan, serta meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.

Ketika hujan tidak kunjung turun, manusia dapat melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketersediaan air, mencegah kebakaran, menghemat penggunaan air, dan menjaga lingkungan. Bersamaan dengan itu, umat Islam dapat memanjatkan doa dan melaksanakan Shalat Istisqa' sebagai bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah.

Shalat Istisqa' mengajarkan bahwa ketika manusia menghadapi keterbatasan, ia tetap diperintahkan untuk berikhtiar sekaligus menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

Shalat Istisqa' Dilaksanakan Dua Rakaat

Dalam pelaksanaannya, Shalat Istisqa' dilakukan dalam dua rakaat. Setelah shalat, dilanjutkan dengan khutbah dan doa memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan.

Dalam hadits-hadits Nabi Muhammad ﷺ terdapat keterangan mengenai pelaksanaan Shalat Istisqa', termasuk mengeraskan bacaan dalam shalat, mengangkat kedua tangan ketika berdoa, menghadap kiblat, serta membalikkan atau memindahkan posisi selendang atau rida.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa permohonan hujan bukan sekadar doa pribadi, tetapi juga dapat dilakukan secara berjamaah sebagai bentuk kebersamaan umat dalam memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ Pernah Melaksanakan Shalat Istisqa'

Praktik Shalat Istisqa' memiliki dasar dari sunnah Rasulullah ﷺ. Salah satu riwayat yang menjelaskan hal tersebut berasal dari Abdullah bin Zaid.

“Rasulullah ﷺ keluar ke Musalla ini untuk melaksanakan shalat Istisqa'. Ia berdoa kepada Allah untuk hujan dan kemudian menghadap kiblat serta membalikkan pakaian atasnya.”

Riwayat tersebut menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ menghadapi kondisi kekeringan dengan melakukan ikhtiar berupa shalat dan doa.

Mengangkat Tangan Saat Memohon Hujan

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika berdoa meminta hujan.

Mu'tamir meriwayatkan dari ayahnya, dari Barakah, dari Bashir bin Nahik, dari Abu Hurairah:

“Nabi ﷺ berdoa meminta hujan (mengangkat tangannya) hingga saya melihat atau seseorang bisa melihat putihnya ketiaknya.”

Riwayat tersebut menunjukkan kesungguhan dalam berdoa. Memohon hujan merupakan bentuk ketundukan manusia kepada Allah SWT, terutama ketika sebab-sebab yang dapat dilakukan manusia telah diupayakan.

Hadits Sunan Abi Dawud Nomor 1161

Dalam Sunan Abi Dawud No. 1161, Kitabu Sholah, diriwayatkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، خَرَجَ بِالنَّاسِ لِيَسْتَسْقِيَ فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ، جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ فِيهِمَا، وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ، فَدَعَا وَاسْتَسْقَى وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

Paman Abbad bin Tamim mengisahkan:

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ keluar bersama manusia untuk meminta hujan, maka beliau shalat dua rakaat bersama mereka dengan mengeraskan bacaan, memindahkan selendangnya, dan mengangkat kedua tangannya. Maka beliau berdoa dan meminta hujan serta menghadap kiblat.”

Hadits Sunan Abi Dawud No. 1161, Kitabu Sholah.

Doa dan Dzikir Memohon Hujan

Di antara doa yang diriwayatkan dalam permohonan hujan adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

Artinya:

“Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Raja pada hari pembalasan. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki.

Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau Mahakaya dan kami adalah orang-orang yang membutuhkan. Turunkanlah kepada kami hujan dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan dan bekal sampai suatu waktu.”

Hadits Sunan Abi Dawud No. 1173, Kitabu Sholah.

Memohon Hujan yang Bermanfaat

Dalam permohonan hujan, umat Islam tidak hanya meminta agar air turun dari langit. Hujan yang dimohon adalah hujan yang membawa manfaat dan tidak menimbulkan mudarat.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

Artinya:

“Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan yang menyegarkan, yang menghapus penderitaan, yang bermanfaat namun tidak membahayakan, sesegera mungkin dan jangan ditunda.”

Hadits Sunan Abi Dawud No. 1169, Kitabu Sholah.

Kisah Hujan yang Turun Setelah Doa Rasulullah ﷺ

Salah satu kisah yang sangat menggambarkan permohonan hujan terdapat dalam Shahih Bukhari No. 1013.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang ke masjid pada hari Jumat ketika Rasulullah ﷺ sedang berdiri menyampaikan khutbah.

Laki-laki tersebut menyampaikan keadaan yang sedang dihadapi masyarakat:

“Wahai Rasulullah, ternak kami rusak dan jalan-jalan banyak yang retak, berdoalah memohon hujan kepada Allah.”

Rasulullah ﷺ kemudian mengangkat tangannya dan berdoa:

“Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami.”

Anas bin Malik kemudian menceritakan bahwa ketika itu langit sebelumnya tampak tanpa awan. Tidak terlihat mendung di antara mereka dan bukit maupun permukiman.

Kemudian tiba-tiba muncul mendung dari arah belakang gunung. Mendung itu bergerak, menyebar di langit, dan setelah itu turunlah hujan.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu riwayat yang menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memohon hujan kepada Allah ketika mengalami kekeringan.

Ketika Hujan Terlalu Banyak, Rasulullah ﷺ Kembali Berdoa

Kisah dalam Shahih Bukhari tersebut tidak berhenti pada turunnya hujan. Setelah beberapa waktu, hujan justru turun begitu deras sehingga menimbulkan dampak pada harta dan jalan.

Laki-laki yang sebelumnya meminta hujan kembali datang kepada Rasulullah ﷺ pada Jumat berikutnya.

Ia meminta agar Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah agar hujan dihentikan atau dialihkan.

Rasulullah ﷺ kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa agar hujan dialihkan dari kawasan permukiman.

“Ya Allah, hujani sebelah kami jangan di atas kami. Ya Allah, hujanilah bukit dan gunung, rumput dan semak belukar, hutan dan tumbuh-tumbuhan.”

Kisah tersebut mengandung pelajaran penting: manusia membutuhkan air, tetapi juga membutuhkan keseimbangan. Hujan yang membawa manfaat sangat diharapkan, sedangkan hujan yang menimbulkan kerusakan juga perlu dihadapi dengan doa dan ikhtiar.

Shalat Istisqa' Bukan Pengganti Ikhtiar

Menghadapi kemarau panjang, pelaksanaan Shalat Istisqa' hendaknya dipahami sebagai bagian dari ikhtiar seorang muslim, bukan sebagai alasan untuk meninggalkan usaha nyata.

Menjaga sumber air, menghemat penggunaan air, mencegah pembakaran lahan, menjaga hutan dan lingkungan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran tetap merupakan tanggung jawab manusia.

Doa dan ikhtiar berjalan bersama. Manusia berusaha dengan kemampuan yang dimiliki, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.

Berikhtiar dengan tangan, memohon dengan doa.

Inilah keseimbangan yang dapat dijaga ketika menghadapi kemarau panjang: melakukan langkah nyata untuk menjaga lingkungan sekaligus merendahkan diri memohon pertolongan Allah SWT.

Kemarau Mengajarkan Arti Penting Air

Ketika air tersedia setiap hari, manusia sering kali tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Keran dibuka, air mengalir, dan kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi.

Namun ketika kemarau panjang datang, nilai air terasa jauh lebih nyata. Sungai menyusut, tanah mengering, tanaman membutuhkan air, dan masyarakat harus lebih bijaksana menggunakan sumber daya yang tersedia.

Karena itu, kemarau juga dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran lingkungan. Air bukan sumber daya yang boleh digunakan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya.

Begitu pula dengan lahan dan hutan. Kondisi kering membutuhkan perhatian lebih besar agar tidak terjadi kebakaran yang dapat merugikan masyarakat dan lingkungan.

Saat Langit Belum Menurunkan Hujan

Ada kalanya manusia telah berdoa, tetapi hujan belum juga turun. Pada saat seperti itu, seorang muslim tetap menjaga kesabaran dan terus melakukan ikhtiar.

Doa bukan sekadar permintaan agar keadaan berubah seketika. Doa juga merupakan bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Shalat Istisqa' mengajarkan kerendahan hati. Ketika air yang sangat dibutuhkan tidak dapat didatangkan oleh kemampuan manusia, manusia kembali kepada Dzat yang menguasai langit dan bumi.

Karena itu, kemarau panjang dapat menjadi momentum untuk memperbanyak doa, memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak amal kebaikan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Memohon Hujan, Menjaga Amanah

Shalat Istisqa' adalah salah satu bentuk tuntunan dalam menghadapi kondisi kekeringan. Dua rakaat shalat, khutbah, doa, mengangkat tangan, dan menghadap kiblat menjadi bagian dari ibadah yang mengingatkan manusia kepada kebesaran Allah SWT.

Namun di balik permohonan hujan tersebut terdapat pesan yang lebih luas. Manusia juga perlu menjaga apa yang telah Allah berikan. Air harus digunakan secara bijaksana. Hutan dan lahan harus dijaga. Api tidak boleh digunakan secara sembarangan. Lingkungan harus dipelihara agar tetap mampu menopang kehidupan.

Ketika kemarau panjang datang, mari tidak hanya melihat langit dan menunggu awan. Mari juga melihat ke dalam diri: sudahkah kita bersyukur atas nikmat air? Sudahkah kita menjaga lingkungan? Sudahkah kita berusaha mencegah kebakaran? Sudahkah kita memohon pertolongan Allah dengan sungguh-sungguh?

Shalat Istisqa' menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa atas turunnya hujan. Kita hanya dapat berusaha, berdoa, dan berharap kepada Allah SWT.

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat.”

Semoga kemarau segera berlalu, sumber air kembali terisi, lahan dan hutan terhindar dari kebakaran, serta hujan yang turun menjadi rahmat dan manfaat bagi seluruh makhluk.

Referensi Hadits

  • Sunan Abi Dawud No. 1161, Kitabu Sholah — riwayat tentang Rasulullah ﷺ melaksanakan Shalat Istisqa' dua rakaat, mengeraskan bacaan, mengangkat tangan, menghadap kiblat dan membalikkan rida.
  • Sunan Abi Dawud No. 1169, Kitabu Sholah — doa memohon hujan yang bermanfaat dan tidak membahayakan.
  • Sunan Abi Dawud No. 1173, Kitabu Sholah — doa Rasulullah ﷺ ketika memohon turunnya hujan.
  • Shahih Bukhari No. 1013 — riwayat Anas bin Malik mengenai permohonan hujan Rasulullah ﷺ dan doa agar hujan dialihkan ketika turun terlalu deras.
```