Sebuah fragmen sejarah di masa Rasulullah ﷺ mengungkap bahwa tidak semua bentuk protes dari lingkungan sekitar berujung pada penilaian negatif. Terkadang, ketidaktahuan orang lain justru menjadi wasilah atau jalan pembuka bagi tersingkapnya kemurnian hati seseorang di hadapan Sang Pencipta. Hal inilah yang dialami oleh seorang sahabat Nabi yang ditunjuk menjadi pemimpin pasukan sekaligus imam shalat, yang kebiasaannya dalam membaca surah Al-Qur'an sempat memicu tanda tanya besar di kalangan makmumnya. Melalui peristiwa ini, umat Islam belajar bahwa di balik rutinitas ibadah yang tampak sederhana, terdapat getaran cinta yang mampu menarik perhatian Allah SWT.
Keunikan Ibadah yang Memantik Tanya di Kalangan Sahabat
Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang masyhur, terdapat seorang imam yang memiliki kebiasaan distingtif saat memimpin shalat berjamaah. Setiap kali selesai membaca surah lain setelah Al-Fatihah, ia tidak langsung ruku, melainkan selalu menutupnya dengan membaca Surah Al-Ikhlas. Pola ini dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang hingga memicu rasa heran di benak para sahabat lainnya. Mengapa ia seolah terpaku pada satu surah yang ringkas, sementara khazanah Al-Qur'an begitu luas dan kaya akan pilihan ayat-ayat lainnya?Rasa penasaran tersebut akhirnya membawa mereka untuk melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah ﷺ sekembalinya mereka dari ekspedisi militer. Mereka menginginkan kepastian apakah tindakan imam tersebut sesuai dengan tuntunan ataukah sekadar preferensi pribadi yang kurang tepat dalam konteks berjamaah. Namun, di sinilah kearifan nubuwah bekerja dengan cara yang sangat elegan.Prinsip Tabayyun Rasulullah dalam Menyikapi Perbedaan
Alih-alih langsung memberikan fatwa pembenaran atau penyalahan, Rasulullah ﷺ justru mengajarkan sebuah metodologi penting dalam berinteraksi: tabayyun atau klarifikasi. Beliau memerintahkan para sahabat untuk menanyakan alasan di balik tindakan tersebut secara langsung kepada yang bersangkutan. Pendekatan ini menegaskan bahwa setiap amal manusia tidak bisa dinilai secara hitam-putih hanya dari penampakan lahiriahnya, melainkan harus dipahami dari aspek motivasi dan niat yang melandasinya.“Tanyakan kepadanya mengapa ia melakukan itu?” ujar Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.Ketika ditanya, jawaban yang keluar dari lisan sahabat tersebut sangat lugas namun sarat akan emosi spiritual yang mendalam. Ia tidak mencari alasan teknis atau sekadar kemudahan karena surahnya yang pendek. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa kecintaannya pada Surah Al-Ikhlas berakar pada esensi kandungannya yang merepresentasikan sifat-sifat Tuhan yang ia sembah.
“Karena surah itu berisi sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, dan aku sangat mencintai membacanya,” ungkap sahabat tersebut dengan tulus.
Ketulusan Hati sebagai Inti dari Setiap Amal Ibadah
Mendengar jawaban yang penuh ketulusan tersebut, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kabar gembira yang tidak ternilai harganya. Beliau tidak meminta sang imam mengubah kebiasaannya demi keragaman bacaan, melainkan memberikan legitimasi atas kecintaan tersebut. Sebuah validasi langsung dari langit bahwa cinta yang tulus dari seorang hamba kepada firman-Nya akan membuahkan cinta yang serupa dari Sang Khalik.“Sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya,” tegas Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim.Kisah ini menjadi pengingat keras bagi setiap mukmin bahwa kualitas sebuah ibadah seringkali tidak ditentukan oleh seberapa panjang atau rumitnya ritual yang dilakukan, melainkan seberapa besar kehidupan hati yang disertakan di dalamnya. Seorang hamba yang membaca Surah Al-Ikhlas karena benar-benar merindukan Allah memiliki kedudukan yang jauh berbeda dengan mereka yang membacanya sekadar karena ingin cepat selesai.
Keseimbangan Antara Sunnah dan Manifestasi Cinta
Meskipun kisah ini memberikan ruang bagi ekspresi cinta dalam ibadah, terdapat adab penting yang harus digarisbawahi. Praktik sahabat ini diterima karena ia tidak menyelisihi kaidah dasar syariat dan yang terpenting, ia mendapatkan persetujuan (taqrir) langsung dari Nabi ﷺ. Hal ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan: kita harus senantiasa menghidupkan cinta dalam setiap sujud dan bacaan kita, namun tetap berada dalam koridor mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.Surah Al-Ikhlas yang ringkas itu sejatinya memuat inti dari seluruh ajaran tauhid. Di dalamnya terkandung pengakuan bahwa Allah adalah Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk (Ash-Shamad), tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, serta tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Memahami kandungan ini bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan sebuah perjalanan ruhani untuk mengenal siapa sebenarnya yang kita sembah.Hikmah lain yang dapat dipetik adalah pentingnya adab ilmiah dan keterbukaan dalam berkomunikasi. Para sahabat tidak segan bertanya ketika menemui hal baru, dan pemimpin tidak terburu-buru menghakimi sebelum memahami duduk perkara. Inilah fondasi masyarakat yang sehat: bertanya untuk belajar, menjawab dengan kejujuran, dan menimbang segala sesuatu dengan timbangan keikhlasan.📖 Glosarium Istilah
- Tabayyun: Proses meneliti, mengklarifikasi, atau mencari kejelasan mengenai suatu informasi sebelum mengambil kesimpulan.
- Tauhid: Konsep dalam Islam yang menyatakan keesaan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
- Ash-Shamad: Salah satu Asmaul Husna yang berarti Tuhan Yang Maha Dibutuhkan atau tempat bergantung segala sesuatu.
- Taqrir: Persetujuan atau ketetapan Nabi Muhammad ﷺ terhadap perbuatan atau ucapan sahabat yang terjadi di hadapan beliau atau dilaporkan kepada beliau.
⚠️ Waspada Bahaya Karhutla! Pakai Masker jika sedang beraktivitas di luar ruangan
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.