Ponpes Sya’airullah Bekasi Bekali Santriwati Keterampilan Olah Daun Kelor guna Cegah Anemia

Ponpes Sya’airullah Bekasi Bekali Santriwati Keterampilan Olah Daun Kelor guna Cegah Anemia
foto: ilustrasi

Para santriwati di Pondok Pesantren Khusus Putri (PKPPS) Sya’airullah, Bekasi, Jawa Barat, menunjukkan inisiatif luar biasa dalam menjaga kesehatan secara mandiri. Melalui program bertajuk “Gerakan Remaja Sehat Tanpa Anemia dengan Daun Kelor”, sebanyak 42 santriwati jenjang Wustha dan Ulya dibekali keterampilan mengolah tanaman kelor yang tumbuh subur di sekitar pesantren menjadi berbagai varian camilan sehat. Kegiatan yang berlangsung pada 4 hingga 6 Juli 2026 ini tidak hanya berfokus pada praktik pengolahan pangan, tetapi juga memberikan edukasi mendalam mengenai gizi seimbang bagi remaja.

Inovasi Pangan Lokal sebagai Solusi Pencegahan Anemia Remaja

Persoalan anemia pada remaja putri sering kali dianggap sebagai kondisi kesehatan yang sepele, padahal dampaknya sangat signifikan terhadap konsentrasi belajar dan stamina harian. Fenomena inilah yang mendorong tim pengabdian masyarakat untuk memperkenalkan daun kelor sebagai alternatif nutrisi yang terjangkau dan mudah didapatkan. Daun kelor yang selama ini hanya dianggap sebagai tanaman pagar, kini disulap menjadi biskuit, puding, hingga nugget yang menggugah selera.

“Kelor dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar pesantren dan memiliki beragam kandungan gizi,” ujar Royani Chairiyah, Dosen Prodi Kebidanan Universitas Binawan yang menjadi salah satu pemateri utama dalam program tersebut.

Royani memaparkan bahwa masa pertumbuhan yang cepat serta siklus menstruasi rutin pada remaja putri menyebabkan kebutuhan akan zat besi meningkat tajam. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi melalui pola makan yang bergizi seimbang, risiko kekurangan zat besi atau anemia akan meningkat. Gejala-gejala seperti pusing dan mudah lelah sering kali mengganggu aktivitas akademik para santriwati di lingkungan pondok.

“Keluhan seperti mudah lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi juga kerap dianggap sebagai kondisi biasa. Padahal, jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas dan proses belajar,” ungkap Royani Chairiyah.

Edukasi Terintegrasi dan Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat

Program ini dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) yang didukung penuh oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2026. Pelaksanaannya dirancang secara sistematis melalui lima tahapan utama, mulai dari sosialisasi, pelatihan intensif, penerapan teknik pengolahan, hingga pendampingan dan evaluasi berkelanjutan.

Sebelum memulai pelatihan teknis, para santriwati menjalani pemeriksaan kadar hemoglobin untuk memetakan kondisi kesehatan awal mereka. Selain itu, dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan mengenai gizi. Pendekatan berbasis data ini memastikan bahwa program yang dijalankan tepat sasaran dan dapat diukur tingkat keberhasilannya secara akurat.

“Selanjutnya, santri mendapat materi mengenai gizi seimbang dan pencegahan anemia. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan daun kelor menjadi berbagai produk pangan,” jelas Royani Chairiyah.

Tantangan terbesar dalam program ini adalah mengubah persepsi remaja terhadap sayuran. Oleh karena itu, teknik pengolahan difokuskan pada produk yang akrab dengan lidah generasi muda. Dengan mengubah kelor menjadi nugget dan biskuit, para santriwati lebih antusias untuk mengonsumsinya secara rutin sebagai bagian dari diet harian mereka.

Pembentukan Duta Santri Sehat dan Kemandirian Ekonomi Pesantren

Keberlanjutan program menjadi perhatian utama. Tidak berhenti pada pelatihan teknis semata, kegiatan ini juga berhasil melahirkan kader yang dijuluki sebagai “Duta Santri Sehat”. Para kader ini disiapkan untuk menjadi agen perubahan yang akan terus menyebarkan informasi mengenai kesehatan dan pencegahan anemia kepada rekan-rekan mereka di lingkungan pesantren secara persuasif.

Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang sangat positif, di mana pemahaman santriwati mengenai gizi melonjak hingga lebih dari 30 persen. Selain perbaikan pengetahuan, tim pengabdian juga mencatat adanya indikasi perbaikan kadar hemoglobin pada santriwati selama masa pendampingan. Menariknya, produk olahan kelor ini juga diproyeksikan untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai unit usaha mandiri milik pesantren.

“Biskuit, puding, dan nugget kelor yang dibuat para santri tidak berhenti sebagai hasil praktik. Produk tersebut juga diarahkan untuk memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan usaha pesantren,” lanjut Royani Chairiyah.

Melalui integrasi antara edukasi kesehatan dan keterampilan praktis, PKPPS Sya’airullah membuktikan bahwa lingkungan pesantren mampu menjadi pusat inovasi yang mendukung kemandirian ekonomi sekaligus kesehatan para santrinya. Penggunaan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar terbukti efektif menjadi solusi cerdas dalam menghadapi tantangan gizi di masa depan.

📖 Glosarium Istilah

  • Anemia: Kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau hemoglobin untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh.
  • Kelor (Moringa oleifera): Tanaman tropis yang dikenal sebagai "superfood" karena kandungan protein, vitamin, dan mineralnya yang sangat tinggi, terutama zat besi.
  • PMP (Pemberdayaan Masyarakat Pemula): Program hibah pengabdian masyarakat yang bertujuan memfasilitasi akademisi dalam membantu memecahkan masalah di tengah masyarakat.
  • Wustha dan Ulya: Jenjang pendidikan formal di pondok pesantren yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.