JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) secara resmi membuka Pelatihan Jurnalistik LINES (LDII News Network) Batch 7 di Kantor DPP LDII, Patal Senayan, Jakarta. Pelatihan intensif yang diikuti oleh 56 peserta ini merupakan langkah strategis organisasi dalam melakukan kaderisasi sekaligus memperkokoh kemampuan komunikasi di tengah gempuran era new media yang semakin kompleks.
Program yang dirancang dalam format kursus mendalam ini dijadwalkan berlangsung setiap akhir pekan selama dua bulan penuh. Fokus utamanya adalah membekali para kader dengan keterampilan jurnalistik yang mumpuni agar mampu menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi positif mengenai kiprah organisasi kepada khalayak luas.
Media Organisasi Sebagai Jembatan Informasi Strategis
Eksistensi media internal dalam sebuah organisasi kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen krusial dalam membangun relasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Sekretaris Umum DPP LDII, Tri Gunawan Hadi, menekankan bahwa media organisasi memiliki peran multifungsi, mulai dari jembatan komunikasi hingga alat perlindungan institusi.
“Media organisasi dibutuhkan sebagai jembatan komunikasi antara organisasi dengan pemerintah dan masyarakat. Media juga alat untuk klarifikasi isu, membendung hoaks, bahkan dalam situasi tertentu kadang menjadi tameng untuk suatu institusi,” ujar Tri Gunawan Hadi pada Jumat (22/8/2026).
Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa kanal media resmi organisasi bertindak sebagai saluran informasi otoritatif untuk menyampaikan kontribusi nyata LDII kepada stakeholder. Di tengah banyaknya disinformasi, kehadiran jurnalis internal yang kompeten diharapkan mampu membangun citra positif dan memastikan masyarakat mendapatkan perspektif yang akurat mengenai kegiatan dan kebijakan organisasi.
Upaya Menghadapi Fenomena Post-Truth dan Branding Positif
Tantangan jurnalistik saat ini semakin berat dengan munculnya fenomena post-truth, di mana opini publik lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dan keyakinan personal dibandingkan fakta objektif. Ketua DPP LDII Bidang Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM), Rulli Kuswahyudi, mengingatkan para peserta akan pentingnya kejelian dalam menyikapi isu dan melakukan framing yang tepat.
“Ibarat naik kapal, kita melihat ada daratan kecil dari kejauhan, kita anggap itu kecil dan bisa dilalui, tapi yang tak diketahui kalau daratan itu hanya sebagian kecil di balik sebuah gunung yang besar,” jelas Rulli Kuswahyudi saat memberikan pemaparan materi.
Menurut Rulli, LDII telah lama menghadapi berbagai stigma negatif di masyarakat. Oleh karena itu, strategi branding melalui media digital menjadi kunci untuk mengubah persepsi publik. Ia menegaskan bahwa tugas utama Kelompok Kerja (Pokja) LINES di bawah Departemen KIM adalah menciptakan konten edukatif yang bermutu, bukan sekadar mengikuti tren atau mencari popularitas sesaat.
Dorongan Kontribusi Generasi Muda Mengelola Algoritma
Dalam ekosistem media sosial yang digerakkan oleh algoritma, organisasi dituntut untuk proaktif dalam memproduksi narasi yang baik. Rulli menekankan bahwa jika kader tidak mengisi ruang digital dengan konten yang bermanfaat, maka isu-isu negatif akan terus mendominasi dan menghakimi citra organisasi melalui mekanisme algoritma tersebut.
Pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan generator konten yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas tinggi. Rulli mengajak generasi muda LDII untuk mengambil peran aktif sebagai pelaku sejarah dalam membangun branding organisasi, bukan hanya menjadi penonton atau objek dari arus informasi digital.
“Jangan hanya jadi penonton atau objek algoritma, tapi menjadi pelaku,” tegas Rulli Kuswahyudi kepada para peserta pelatihan.
Melalui pembekalan selama dua bulan ke depan, para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk memperkuat humas organisasi di wilayah masing-masing, sekaligus menunjukkan pribadi yang luhur dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
📖 Glosarium Istilah
- LINES (LDII News Network): Sayap media dan jaringan berita internal di bawah naungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia.
- Post-Truth: Era di mana fakta objektif kalah pengaruh oleh emosi dan keyakinan pribadi dalam pembentukan opini publik.
- Framing: Cara penyajian realitas di media yang menekankan bagian tertentu untuk membentuk perspektif pembaca.
- New Media: Media yang berbasis teknologi digital dan internet yang memungkinkan interaksi dua arah.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.