Perkuat Harmoni dan Budaya Daerah, LDII Situbondo Hadiri Kirab 2.400 Ancak Agung

Perkuat Harmoni dan Budaya Daerah, LDII Situbondo Hadiri Kirab 2.400 Ancak Agung
foto: ilustrasi
  • SITUBONDO – Jajaran pengurus DPD LDII Kabupaten Situbondo turut serta menyemarakkan gelaran Kirab 2.400 Ancak Agung yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Perhelatan kolosal yang berlangsung pada Sabtu (15/8/2026) ini menjadi momen istimewa karena memadukan tiga peringatan besar sekaligus, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208, serta peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

    Kehadiran ribuan Ancak Agung yang diarak di sepanjang jalan protokol tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi warga, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam atas keberagaman budaya dan sejarah yang dimiliki wilayah tersebut.

    Tradisi Ancak Agung sebagai Manifestasi Syukur dan Kebersamaan Masyarakat

    Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, dalam sambutannya menekankan bahwa tradisi Ancak Agung merupakan cermin dari kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai religius dan sejarah lokal. Menurutnya, partisipasi masif warga dalam mengarak ancak tersebut menunjukkan identitas kultural yang masih terjaga dengan sangat baik di Situbondo.

    “Ancak Agung merupakan tradisi masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini ungkapan rasa sukacita masyarakat menyambut Maulid Nabi. Ini sebuah sejarah di mana masyarakat terlibat dengan mengungkapkan rasa sukacitanya,” ujar Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo.

    Selain sebagai ritual keagamaan, kirab ini juga diproyeksikan menjadi daya tarik wisata budaya yang dapat memperkuat jati diri daerah. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendorong perkembangan potensi sejarah, kuliner khas, hingga permainan tradisional agar tetap relevan di tengah modernisasi.

    Refleksi Sejarah Panjang Transformasi Pemerintahan Kabupaten Situbondo

    Momentum Harjakasi ke-208 ini juga dimanfaatkan Bupati untuk mengajak masyarakat menoleh kembali pada akar sejarah daerah. Perjalanan administratif Situbondo mengalami transformasi panjang, mulai dari periode Besuki hingga menjadi Panarukan sebelum akhirnya menyandang nama Situbondo secara resmi.

    “Secara historis, penetapan 15 Agustus 1818 sebagai Hari Jadi Kabupaten Situbondo memiliki dasar Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 12 Tahun 2013. Regulasi tersebut menyebut tanggal 15 Agustus 1818 sebagai awal berjalannya pemerintahan daerah yang berkaitan dengan pengangkatan KRT Prawiroadiningrat atau Bambang Soetiknyo sebagai Bupati pertama Besuki,” jelas Bupati.

    Lebih lanjut, ia memaparkan evolusi wilayah tersebut yang sempat berganti nama menjadi Panarukan pada tahun 1858. Nama Panarukan sendiri sangat monumental dalam catatan kolonial karena menjadi titik akhir dari pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Berdasarkan catatan sejarah dari Universitas Jember, barulah pada tahun 1972 nama wilayah ini ditetapkan menjadi Kabupaten Situbondo seiring dengan pemindahan pusat pemerintahan.

    Bukti sejarah lain yang memperkuat signifikansi kawasan ini adalah catatan dalam kitab Nagarakrtagama. Kawasan Panarukan, yang kala itu disebut Patukangan, tercatat pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dari Majapahit dalam perjalanannya ke wilayah timur Jawa pada tahun 1359.

    Sinergi Organisasi Keagamaan dalam Melestarikan Identitas Budaya Lokal

    Keterlibatan LDII dalam acara ini merupakan bentuk konkret dari dukungan organisasi terhadap program-program pemerintah daerah yang menjunjung tinggi kerukunan dan pelestarian tradisi. Kehadiran berbagai elemen masyarakat dari lintas organisasi menunjukkan adanya soliditas sosial yang kuat di Situbondo.

    Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Situbondo, Anwarudin, mengungkapkan bahwa partisipasi mereka adalah wujud tanggung jawab sosial dan keagamaan untuk hadir di tengah-tengah masyarakat dalam merayakan hari bersejarah bagi daerah maupun bangsa.

    “Kegiatan ini dihadiri sejumlah unsur organisasi keagamaan dan masyarakat setempat. Kirab ini mempertemukan masyarakat dalam sebuah kegiatan yang menggabungkan peringatan keagamaan dengan rangkaian peringatan hari jadi daerah dan kemerdekaan,” tutur Anwarudin.

    Melalui partisipasi aktif ini, LDII berharap sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan seluruh elemen masyarakat dapat terus terjaga. Hal ini selaras dengan visi pembangunan daerah yang dicanangkan pemerintah kabupaten untuk terus bergerak ke arah yang lebih baik melalui penguatan identitas lokal dan pembangunan berkelanjutan.

    📖 Glosarium Istilah

    • Ancak Agung: Sebuah struktur atau tempat berbentuk gunungan yang biasanya berisi hasil bumi atau makanan, digunakan sebagai simbol rasa syukur dalam tradisi masyarakat Jawa Timur.
    • Harjakasi: Akronim dari Hari Jadi Kabupaten Situbondo, diperingati setiap tanggal 15 Agustus.
    • Nagarakrtagama: Naskah kakawin Jawa Kuno peninggalan Kerajaan Majapahit yang berisi catatan sejarah dan wilayah kekuasaan Majapahit.
    • KRT Prawiroadiningrat: Tokoh sejarah yang diangkat sebagai Bupati pertama Besuki pada tahun 1818.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.