Pengurus DPD LDII Kabupaten Pemalang secara resmi menghadiri undangan Malam Wungon dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Agenda khidmat yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang tersebut berpusat di Pendopo Kabupaten Pemalang pada Minggu malam, 16 Agustus 2026. Kehadiran organisasi keagamaan ini menjadi simbol komitmen dalam menjaga kedaulatan negara serta mempererat jalinan silaturahmi antar-elemen bangsa di tingkat daerah.
Acara ini tidak hanya sekadar ritual tahunan, melainkan menjadi wadah konsolidasi bagi berbagai unsur masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga jajaran birokrasi pemerintahan. Atmosfer nasionalisme terasa kental sepanjang prosesi, yang bertujuan untuk merenungkan kembali perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia sekaligus mendoakan para pahlawan kusuma bangsa yang telah gugur mendahului.
Refleksi Perjuangan Kyai Makmur dan Nilai Kebangsaan dalam Narasi Sejarah
Salah satu poin krusial dalam pertemuan tersebut adalah penyampaian narasi sejarah oleh Ketua Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kabupaten Pemalang, Luruh Sayono. Ia mengisahkan kembali rekam jejak perjuangan Kyai Makmur, sosok ulama sekaligus Bupati Pemalang ke-26 yang memiliki andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Pemalang. Kisah ini diangkat untuk mengingatkan generasi masa kini bahwa perjuangan fisik di masa lalu dilandasi oleh spiritualitas yang kuat.
Luruh menekankan bahwa sosok Kyai Makmur adalah representasi nyata bagaimana nilai-nilai religiusitas dapat berjalan harmonis dengan semangat patriotisme. Ia berpendapat bahwa masyarakat modern saat ini harus mampu menyeimbangkan peran mereka sebagai hamba Tuhan sekaligus warga negara yang baik, tanpa harus membenturkan keduanya.
“Kyai Makmur memberikan teladan melalui perpaduan nilai agama dan kebangsaan. Nilai tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan kepada agama dan kecintaan kepada bangsa dapat berjalan bersama,” ujar Luruh Sayono di hadapan para undangan.
Sinergitas Pemerintah dan Elemen Masyarakat dalam Menjaga Kondusivitas Daerah
Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, dalam sambutannya menegaskan bahwa Malam Wungon merupakan momentum refleksi kolektif. Ia memandang kegiatan ini sebagai ruang terbuka bagi warga untuk mengambil pelajaran dari pengorbanan para pejuang. Menurut Nurkholes, tantangan di era modern memang telah berubah, namun kebutuhan akan persatuan dan kesatuan tetap menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan sosial yang harmonis di tengah dinamika perubahan zaman. Nurkholes secara khusus meminta seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, aman, dan damai, demi keberlanjutan pembangunan di Kabupaten Pemalang.
“Wungon menjadi momentum untuk melakukan refleksi atas perjuangan para pahlawan. Kita juga perlu menjaga kerukunan dan persatuan agar kehidupan masyarakat tetap aman dan kedaulatan bangsa terus terjaga,” kata Nurkholes menjelaskan.
Nurkholes juga menyadari bahwa tantangan tata kelola daerah dan sosial tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Ia mengetuk pintu kesadaran organisasi kemasyarakatan untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam merawat kohesi sosial.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sangat diperlukan. Kebersamaan menjadi modal penting untuk membangun Pemalang,” tambahnya.
Komitmen LDII Pemalang dalam Pembinaan Generasi Muda Berwawasan Nasional
Merespons pesan-pesan kebangsaan tersebut, Ketua DPD LDII Kabupaten Pemalang, Agus Sarwono, menyatakan bahwa semangat yang diusung dalam Malam Wungon sangat relevan dengan pola pembinaan yang dilakukan di lingkungan LDII. Ia menegaskan bahwa pembekalan wawasan kebangsaan merupakan salah satu pilar utama dalam mendidik warga LDII, terutama bagi generasi muda, agar memiliki karakter yang kuat dan mencintai tanah air.
Agus menilai, sejarah perjuangan tokoh lokal seperti Kyai Makmur harus terus dipublikasikan dan dipelajari agar nilai-nilainya tidak luntur tergerus waktu. Hal ini selaras dengan program pembinaan karakter yang selama ini dijalankan organisasi untuk mencetak insan yang profesional religius.
“Pesan dari Malam Wungon ini sejalan dengan pembinaan yang dijalani LDII. Kisah perjuangan Kyai Makmur mengingatkan kami pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa,” tutur Agus Sarwono.
Menutup pernyataannya, Agus memastikan bahwa LDII Pemalang akan terus proaktif membangun komunikasi yang intensif dengan pemerintah daerah serta berbagai organisasi lintas sektoral. Langkah kolaboratif ini dianggap vital untuk mendorong kegiatan-kegiatan sosial yang berdampak positif bagi masyarakat luas serta memperkuat fondasi persatuan di tingkat akar rumput.
“LDII Pemalang siap ikut berkontribusi dalam kegiatan yang memperkuat persatuan masyarakat. Kami juga ingin nilai perjuangan para pendahulu diteruskan melalui kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
📖 Glosarium Istilah
- Malam Wungon: Tradisi malam renungan atau tirakatan yang dilakukan menjelang hari peringatan kemerdekaan untuk mengenang jasa pahlawan.
- DPD LDII: Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia, struktur kepemimpinan organisasi LDII di tingkat Kabupaten/Kota.
- Wawasan Kebangsaan: Cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya dengan mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah.
- Kondusivitas: Situasi atau kondisi yang mendukung, tenang, dan aman bagi terlaksananya suatu kegiatan atau pembangunan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.