LDII Takalar Perkuat Kemandirian Ekonomi Pemuda Melalui Workshop Kewirausahaan Strategis

LDII Takalar Perkuat Kemandirian Ekonomi Pemuda Melalui Workshop Kewirausahaan Strategis
foto: ilustrasi
  • TAKALAR – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Takalar mengambil langkah konkret dalam membina generasi muda dengan menggelar workshop kewirausahaan intensif bertajuk “Merdeka Berkarya, Mandiri Berwirausaha”. Kegiatan strategis ini diikuti oleh 91 pemuda utusan LDII yang berkumpul di Masjid Nurul Jihad Barembeng, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (23/8/2026). Inisiatif ini merupakan upaya organisasi dalam menjawab tantangan ketidakpastian ekonomi global dengan mencetak wirausahawan muda yang tangguh dan berkarakter.

    Peran Strategis Pemuda dalam Struktur Demografi dan Pembangunan Nasional

    Dalam sambutan pembukaannya, Sekretaris DPD LDII Takalar, Abdul Haris, menggarisbawahi betapa krusialnya peran pemuda sebagai motor penggerak ekonomi bangsa. Berdasarkan data demografi terkini, proporsi pemuda di Indonesia memegang kendali yang signifikan terhadap produktivitas nasional di masa depan.

    “Berdasarkan data statistik terbaru, jumlah pemuda Indonesia usia 16–30 tahun mencapai sekitar 66,83 juta jiwa. Artinya, hampir seperempat atau sekitar 24 persen dari total penduduk Indonesia adalah pemuda,” ujar Abdul Haris di hadapan para peserta.

    Ia menambahkan bahwa di tengah transisi menuju era digital dan industri 4.0, peran pemuda tidak lagi terbatas pada sektor formal sebagai pekerja kantoran. Pemanfaatan teknologi informasi membuka ruang bagi generasi Z dan milenial untuk menjadi sentral perekonomian melalui inovasi wirausaha yang mandiri.

    Empat Tantangan Utama Generasi Muda di Sektor Ekonomi Modern

    Meski potensi tersedia luas, Abdul Haris secara mendalam memaparkan empat hambatan fundamental yang sering kali menjegal langkah pemuda dalam membangun kemandirian ekonomi. Tantangan pertama adalah kesenjangan keterampilan (skills gap), di mana banyak lulusan belum memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja sehingga terjebak dalam pekerjaan berupah rendah.

    Kedua, terbatasnya akses terhadap permodalan dan penetrasi pasar yang menjadi momok bagi perintis usaha baru. Ketiga, fenomena jeratan utang, khususnya pinjaman online ilegal yang kian mengkhawatirkan di kalangan anak muda. Terakhir, minimnya pengalaman praktis yang membuat daya saing pemuda melemah di sektor formal maupun informal.

    “Tantangan disrupsi teknologi, persaingan global yang ketat, hingga ketidakpastian ekonomi menuntut kita untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi pemain utama,” tegas Abdul Haris.

    Ia mengajak para peserta untuk memaknai kemerdekaan dengan semangat melawan ketergantungan dan kemalasan. Jika pahlawan masa lalu berjuang dengan senjata, maka pemuda hari ini berjuang dengan kesiapan menghadapi masa depan yang kompetitif.

    Implementasi Ekonomi Syariah dalam Delapan Bidang Pengabdian LDII

    Visi kemandirian ekonomi ini bukan tanpa landasan. Abdul Haris menjelaskan bahwa penguatan ekonomi pemuda sejalan dengan komitmen berkelanjutan organisasi melalui "Delapan Bidang Pengabdian LDII untuk Bangsa", khususnya pada klaster Ekonomi Syariah. Fokus utamanya adalah mendorong ekonomi kerakyatan yang berbasis nilai-nilai luhur agama.

    LDII secara konsisten mengembangkan ekosistem UMKM dan memperkuat lembaga keuangan syariah berbasis komunitas. Tujuannya jelas: memastikan roda perekonomian bergerak di atas fondasi yang halal, transparan, serta sepenuhnya terbebas dari praktik riba. Workshop ini menjadi jembatan untuk memasukkan pemuda ke dalam ekosistem tersebut.

    Transformasi Karakter dan Pengembangan Kompetensi Bisnis yang Berkelanjutan

    Memasuki sesi teknis, narasumber Nur Wahyudin memaparkan materi bertajuk “Workshop Generus Hebat, Dorong Generasi Muda Berani Berwirausaha dan Naik Kelas”. Ia menekankan bahwa keberhasilan finansial harus dibarengi dengan cita-cita besar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

    “Generasi muda harus punya keberanian untuk mencoba, tidak takut mengalami kegagalan, serta tidak hanya menunggu peluang tetapi mampu menciptakan peluang,” tandas Nur Wahyudin.

    Para peserta tidak hanya dijejali teori, namun juga dilatih menyusun Business Pitch dan Business Plan yang komprehensif. Mereka diajarkan menentukan target pasar, menganalisis keunggulan produk, hingga merancang strategi pemasaran digital yang efektif. Namun, Nur Wahyudin menegaskan bahwa aspek “naik kelas” tidak hanya soal omzet usaha, melainkan juga menyangkut kematangan agama, pengendalian emosi (emotional control), dan kemampuan berpikir strategis (strategic thinking).

    Melalui pelatihan yang holistik ini, diharapkan lahir generasi baru pelaku usaha dari Takalar yang tidak hanya cakap dalam berbisnis, tetapi juga memiliki integritas moral dan karakter yang kuat untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.

    📖 Glosarium Istilah

    • Ekonomi Syariah: Sistem ekonomi yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip Islam, mengutamakan keadilan dan menghindari praktik riba (bunga).
    • Disrupsi Teknologi: Perubahan besar yang mengubah tatanan lama akibat inovasi teknologi baru yang lebih efisien dan modern.
    • Business Pitch: Presentasi singkat dan padat yang bertujuan meyakinkan pihak lain (investor atau mitra) tentang potensi suatu ide bisnis.
    • Strategic Thinking: Kemampuan menganalisis situasi dan merencanakan langkah jangka panjang untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.