LDII Sukoharjo Perkuat Ketahanan Keluarga Guna Cetak Generasi Berkarakter di Era Digital

LDII Sukoharjo Perkuat Ketahanan Keluarga Guna Cetak Generasi Berkarakter di Era Digital
foto: ilustrasi
LDII Sukoharjo Perkuat Ketahanan Keluarga Guna Cetak Generasi Berkarakter di Era Digital
  • Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Sukoharjo secara intensif terus mengupayakan penguatan fondasi keluarga melalui penyelenggaraan seminar keorangtuaan bertajuk “Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Era Digital”. Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Masjid Albarokah Hall & Convention, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, sebagai respons terhadap kompleksitas tantangan pengasuhan di masa kini. Seminar yang dihadiri oleh ratusan peserta ini bertujuan untuk membekali para orang tua dengan keterampilan mendidik yang relevan dengan perkembangan teknologi namun tetap berakar pada nilai-nilai moral yang kokoh.

    Urgensi Ketahanan Keluarga Sebagai Fondasi Pembentukan Karakter

    Ketua DPD LDII Sukoharjo, Dalono Abdul Rosyid, menegaskan bahwa keluarga memiliki posisi sentral yang tidak tergantikan dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas. Menurutnya, keberhasilan pendidikan seorang anak sangat bergantung pada kualitas interaksi dan pendampingan di dalam rumah tangga. Ia menyoroti bahwa peran lembaga pendidikan formal hanyalah pendukung, sementara tanggung jawab utama tetap berada di pundak orang tua.

    “Anak pertama kali belajar dari lingkungan keluarga. Cara orang tua berbicara, bersikap, mengambil keputusan, hingga menggunakan teknologi akan menjadi contoh bagi anak,” ujar Dalono Abdul Rosyid.

    Kesadaran akan pentingnya kehadiran orang tua sebagai figur teladan menjadi poin krusial yang ditekankan sepanjang acara. Dalono menjelaskan bahwa di era informasi yang sangat terbuka, anak-anak membutuhkan kompas moral yang kuat, dan hal tersebut hanya bisa dibangun jika orang tua hadir secara utuh dalam keseharian anak, bukan sekadar memberikan fasilitas materi semata.

    Strategi Pendampingan Proporsional di Tengah Arus Digitalisasi

    Tantangan pengasuhan modern saat ini dinilai jauh lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya akibat akses informasi yang tanpa batas melalui gawai. Dalono Abdul Rosyid mengingatkan bahwa orang tua tidak boleh buta teknologi jika ingin memberikan arahan yang tepat kepada anak-anak mereka. Penguasaan literasi digital bagi orang tua menjadi prasyarat mutlak untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat di rumah.

    “Kita tidak bisa sekadar melarang anak menggunakan gawai. Orang tua perlu memahami manfaat dan risikonya, kemudian membuat aturan yang disepakati bersama,” tutur Dalono.

    Ia menambahkan bahwa pendekatan pelarangan total terhadap teknologi seringkali justru memicu rasa penasaran yang negatif pada anak. Oleh karena itu, LDII mendorong pola komunikasi persuasif dan dialogis dalam menetapkan batasan penggunaan perangkat digital, sehingga anak-anak merasa memiliki tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri di dunia maya.

    Metode Keteladanan dan Pembiasaan Nilai Keagamaan di Rumah

    Pilar utama dalam pembentukan karakter anak di lingkungan LDII berfokus pada praktik sehari-hari yang konsisten. Dalono Abdul Rosyid memaparkan bahwa nilai-nilai keagamaan, kedisiplinan, kemandirian, serta sopan santun tidak cukup hanya diajarkan melalui lisan, melainkan harus dipraktikkan langsung oleh orang tua. Keteladanan dianggap sebagai bahasa yang paling dipahami oleh anak dalam menyerap nilai-nilai kehidupan.

    “Keteladanan lebih mudah diterima anak daripada nasihat yang hanya disampaikan berulang-ulang. Karena itu, orang tua harus terlebih dahulu memberikan contoh,” tegas Dalono.

    Dengan menerapkan kebiasaan positif seperti kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab atas tugas domestik sederhana, anak akan tumbuh dengan mentalitas yang kuat. Hal ini diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi individu yang religius dan mampu menyaring pengaruh buruk dari luar.

    Ruang Diskusi Interaktif Mengenai Problematika Pengasuhan Kontemporer

    Seminar ini juga berfungsi sebagai forum terbuka bagi para orang tua untuk saling berbagi kendala yang mereka hadapi dalam mendidik anak. Materi yang disampaikan meliputi teknik komunikasi efektif dalam keluarga, cara membangun hubungan emosional yang sehat, hingga langkah-langkah konkret dalam memperkuat akhlak anak di tengah gempuran media sosial. Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan banyaknya pertanyaan seputar pola asuh yang ideal bagi generasi alfa.

    Melalui penguatan kapasitas ini, DPD LDII Sukoharjo berharap program serupa dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Penguatan keluarga diyakini menjadi kunci utama untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan mahir teknologi, tetapi juga memiliki integritas karakter yang mulia.

    “Kami ingin orang tua memiliki bekal yang cukup untuk mendampingi anak menghadapi perubahan zaman. Keluarga yang kuat akan membantu melahirkan generasi yang religius, berkarakter, mandiri, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak,” tutup Dalono Abdul Rosyid.

    📖 Glosarium Istilah

    • Era Digital: Suatu kondisi zaman di mana kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh penggunaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet.
    • Ketahanan Keluarga: Kondisi dinamis suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
    • Gawai (Gadget): Perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus dan praktis, seperti ponsel pintar, tablet, atau komputer portabel.
    • Karakter: Watak, sifat, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.