Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Sleman terus mengintensifkan program pembinaan keagamaan bagi generasi muda melalui pendekatan yang inovatif dan partisipatif. Langkah strategis ini diwujudkan guna memperkuat pemahaman aqidah, kemandirian dalam beragama, serta mencetak generasi yang memiliki kedalaman ilmu (alim faqih). Salah satu implementasi konkret dari upaya tersebut tercermin dalam gelaran Cerdas Cermat Agama (CCA) yang dilaksanakan oleh TPA Akhlakul Karimah pada Kamis (6/8/2026).
Efektivitas Metode Interaktif dalam Evaluasi Pemahaman Santri
Pemilihan format kompetisi cerdas cermat bukan tanpa alasan. Metode ini dinilai jauh lebih efektif dalam memantik antusiasme santri dibandingkan pola pembelajaran konvensional yang cenderung satu arah. Dengan adanya interaksi aktif, para santri tertantang untuk menggali kembali memori mereka terhadap materi-materi keagamaan yang telah diajarkan oleh para pendidik.
Tenaga pendidik TPA Akhlakul Karimah, Yuche Pasharela Aska, mengungkapkan bahwa pola pembelajaran interaktif ini sangat membantu dalam memetakan sejauh mana daya serap anak didik terhadap materi aqidah. Menurutnya, aspek keberanian dalam menyampaikan pendapat juga menjadi salah satu poin penilaian penting dalam kegiatan ini.
“Kami ingin melihat sejauh mana santri memahami materi aqidah dan keilmuan agama. Cerdas cermat membuat mereka tidak hanya mendengar atau menghafal, tetapi juga berani menjawab dan mengingat kembali materi yang sudah dipelajari,” ujar Yuche Pasharela Aska.
Lebih lanjut, Yuche menekankan bahwa orientasi utama dari CCA bukan sekadar kemenangan dalam menjawab pertanyaan secara cepat. Para santri didorong untuk meresapi nilai-nilai filosofis dari materi agama tersebut agar dapat diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari.
“Pembelajaran agama perlu sampai pada pemahaman dan pengamalan. Kami ingin santri memiliki dasar aqidah yang kuat, memahami ilmu agama dengan baik, dan membangun akhlak melalui kebiasaan sehari-hari,” jelasnya.
Sinergi Ilmu Agama dan Pembentukan Karakter Mandiri
Ketua DPD LDII Kabupaten Sleman, Suwarjo, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi pembelajaran yang dilakukan di tingkat akar rumput. Ia memandang bahwa pembinaan generasi penerus harus senantiasa relevan dengan karakter psikologis anak-anak yang menyukai tantangan dan pengakuan atas kemampuan mereka. Melalui media cerdas cermat, santri secara tidak langsung dilatih untuk mengasah kemampuan komunikasi dan mentalitas yang tangguh.
“Anak-anak membutuhkan pola pembelajaran yang membuat mereka aktif. Cerdas cermat dapat melatih pengetahuan sekaligus keberanian menyampaikan jawaban. Ini menjadi bagian dari proses pembentukan karakter,” kata Suwarjo saat memberikan keterangan.
Suwarjo juga menggarisbawahi bahwa penguatan pondasi agama bagi generasi penerus LDII harus diberikan secara bertahap dan sistematis. Menurutnya, pemahaman agama yang kuat merupakan modal utama bagi santri untuk tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Generasi muda perlu memiliki pondasi agama yang kuat. Pengetahuan agama harus diberikan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan mereka. Dengan cara itu, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang memahami agama dan mampu menerapkannya,” tuturnya.
Investasi Strategis Melahirkan Generasi Alim dan Berakhlak Mulia
Selain fokus pada aspek kognitif keagamaan, Suwarjo menekankan pentingnya pembangunan kebiasaan baik atau habituasi dalam kehidupan sosial. Disiplin, kejujuran, serta sikap menghargai sesama merupakan pilar karakter yang harus berjalan selaras dengan pemahaman teks-teks suci. Ia mendorong agar seluruh lembaga pendidikan keagamaan di bawah naungan LDII terus menciptakan ruang belajar yang menyenangkan namun tetap memiliki target capaian yang jelas.
“Anak-anak perlu dibiasakan disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Nilai tersebut perlu berjalan bersama dengan pemahaman aqidah dan ilmu agama,” tegas Suwarjo.
Ke depan, DPD LDII Sleman berharap kegiatan seperti CCA dan brainstorming keagamaan ini dapat direplikasi secara luas dan berkelanjutan. Evaluasi berkala menjadi kunci agar kurikulum yang diterapkan tetap efektif dalam menutup celah pemahaman santri yang masih kurang.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berkembang. Evaluasi pembelajaran perlu dilakukan secara berkala agar pendidik mengetahui materi yang sudah dipahami dan bagian yang masih perlu diperkuat,” pungkasnya.
Suwarjo meyakini bahwa pendidikan agama yang berkualitas adalah investasi jangka panjang. Harapannya, generasi yang dibina saat ini akan muncul sebagai individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga alim, faqih, serta berakhlaqul karimah di tengah dinamika masyarakat modern.
📖 Glosarium Istilah
- Aqidah: Fondasi keyakinan atau sistem kepercayaan dalam Islam yang menjadi dasar dari setiap perbuatan seorang Muslim.
- Alim Faqih: Seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam sekaligus pemahaman yang tepat terhadap hukum-hukum agama Islam.
- TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an): Lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan non-formal jenis keagamaan Islam bagi anak-anak.
- Akhlaqul Karimah: Budi pekerti atau karakter mulia yang mencerminkan nilai-nilai luhur ajaran agama.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.