Merespons tantangan kedaulatan pangan nasional, DPD LDII Kabupaten Klaten mengambil langkah konkret dengan mengedukasi masyarakat melalui pemanfaatan komoditas lokal. Ajang Lomba Masak Sorgum yang digelar di Taman Nyi Ageng Rakit, kawasan wisata Rowo Jombor, Klaten, pada Minggu (9/8/2026), menjadi bukti nyata bagaimana diversifikasi pangan dapat dimulai dari dapur rumah tangga. Kegiatan yang diinisiasi oleh Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) ini melibatkan partisipasi aktif perwakilan Pimpinan Cabang (PC) LDII dari seluruh pelosok Kabupaten Klaten.
⚡ Poin Utama Berita
- Ketahanan Pangan Keluarga: Fokus utama kegiatan adalah menggerakkan sektor keluarga sebagai basis terdepan kemandirian pangan nasional.
- Sorgum sebagai Alternatif: Pemanfaatan sorgum didorong sebagai bahan pangan fungsional yang tangguh dan bergizi untuk menggantikan ketergantungan pada satu jenis karbohidrat.
- Pemberdayaan Perempuan: Ibu rumah tangga diposisikan sebagai agen perubahan yang strategis dalam mengolah potensi pangan lokal menjadi sajian bernilai ekonomi dan kesehatan.
Mengapa Pemanfaatan Sorgum Menjadi Prioritas Strategis LDII Klaten?
Ketua DPD LDII Kabupaten Klaten, Sigit Winoto, menekankan bahwa fondasi ketahanan pangan yang kuat tidak selalu lahir dari kebijakan makro yang kompleks, melainkan dari kebiasaan konsumsi di tingkat terkecil, yaitu keluarga. Dalam pandangannya, sorgum memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal oleh masyarakat luas sebagai bagian dari program diversifikasi pangan.
“Ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari program besar. Keluarga dapat memulainya dengan mengenal bahan pangan lokal dan mengolahnya menjadi makanan yang disukai anggota keluarga,” ujar Sigit.
Sigit menambahkan bahwa kompetisi ini dirancang agar tidak sekadar menjadi ajang seremonial. Sebaliknya, ini adalah stimulasi bagi warga LDII untuk berani bereksperimen dengan teknik pengolahan yang membuat sorgum tampil menarik dan lezat. Ia berharap para peserta mampu membawa pulang pengetahuan ini untuk kemudian dikembangkan menjadi menu rutin yang sehat bagi keluarga masing-masing.
Bagaimana Peran Perempuan dalam Mewujudkan Kemandirian Pangan Lokal?
Perempuan memegang kendali utama dalam menentukan kualitas nutrisi dan variasi hidangan di meja makan. Oleh karena itu, edukasi mengenai bahan pangan alternatif seperti sorgum sangat mendesak untuk dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Melalui keterampilan mengolah bahan yang tersedia di alam sekitar, ketergantungan terhadap bahan pangan impor atau komoditas tertentu dapat dikurangi secara perlahan.
Rustatik, selaku penanggung jawab kegiatan, menyatakan bahwa kreativitas ibu-ibu dalam memodifikasi bahan dasar lokal adalah kunci transformasi ekonomi. Kreativitas ini tidak hanya menjawab kebutuhan gizi keluarga, tetapi juga membuka peluang usaha mikro yang berbasis pada kearifan lokal.
“Kami ingin ibu-ibu semakin kreatif dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia. Hasilnya dapat menjadi menu keluarga sekaligus memiliki peluang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” tutur Rustatik.
Selain aspek teknis memasak, kegiatan ini juga memperkuat potensi ekonomi keluarga. Dengan menguasai pengolahan sorgum, para perempuan di lingkungan LDII Klaten diharapkan mampu menciptakan produk pangan olahan yang memiliki daya jual tinggi di pasar yang kini mulai melirik gaya hidup sehat dan konsumsi produk non-gandum.
Apa Dampak Inisiatif Diversifikasi Pangan Ini Bagi Masyarakat?
Langkah LDII Klaten mendapatkan apresiasi luas, termasuk dari tokoh agama dan sesepuh di kawasan Rowo Jombor. Juminah Sutopo, salah satu tokoh masyarakat setempat, menilai bahwa pengenalan sumber karbohidrat alternatif sangat krusial di tengah ketidakpastian iklim dan tantangan pasokan pangan global di masa depan.
“Ini kegiatan yang sangat baik untuk ketahanan pangan di masa depan. Masyarakat perlu mengenal lebih banyak sumber pangan dan tidak bergantung pada satu jenis bahan makanan,” ungkap Juminah dengan nada optimis.
Melalui aksi nyata ini, LDII Klaten berkomitmen untuk terus memberikan edukasi yang berkelanjutan. Fokusnya bukan hanya pada aspek produksi, melainkan pada pembangunan ekosistem pangan yang mandiri, mulai dari edukasi dini mengenai bahan lokal, pengembangan keterampilan teknis, hingga penguatan jejaring ekonomi warga.
📖 Glosarium Istilah
- Sorgum: Tanaman serealia serbaguna yang tahan kekeringan, kaya serat, dan bebas gluten, sering digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif.
- Diversifikasi Pangan: Upaya untuk mendorong masyarakat agar memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi sehingga tidak terfokus hanya pada satu jenis (seperti beras).
- DPD LDII: Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia, struktur organisasi di tingkat kabupaten/kota.
- Kemandirian Pangan: Kemampuan suatu komunitas atau negara dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri/lokal untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pangan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.