LDII DIY Gagas Gerakan Zero Waste: Pererat Kebinekaan Lewat Aksi Lingkungan dan Gotong Royong

LDII DIY Gagas Gerakan Zero Waste: Pererat Kebinekaan Lewat Aksi Lingkungan dan Gotong Royong
foto: ilustrasi
  • Yogyakarta – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan inisiatif cerdas bertajuk gerakan Zero Waste sebagai instrumen untuk memperkokoh semangat kebinekaan. Gagasan ini mengemuka dalam forum ‘Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika’ yang menekankan bahwa kerukunan antar-elemen masyarakat dapat dibangun secara efektif melalui kerja sama konkret, salah satunya melalui aksi pelestarian lingkungan.

    Inisiatif tersebut dipaparkan langsung oleh Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, dalam agenda yang diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DIY pada Selasa (28/7/2026). Bertempat di Ingkung Grobog, Kota Yogyakarta, pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran pemerintah, organisasi kemasyarakatan (Ormas), tokoh lintas agama, kalangan akademisi, hingga pegiat komunitas. Fokus utamanya adalah merevitalisasi nilai-nilai Pancasila, persatuan, dan toleransi di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.

    Filosofi Alam dalam Keberagaman Sosial

    Sebagai sosok yang juga berlatar belakang akademisi di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Atus Syahbudin membawa perspektif unik dalam memandang kebinekaan. Ia menganalogikan struktur hutan dengan keragaman manusia di Indonesia. Menurutnya, ekosistem hutan yang sehat justru ditentukan oleh tingkat biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang tinggi di dalamnya.

    “Di hutan kita belajar bahwa biodiversitas bukan hanya tentang flora dan fauna, tetapi juga tentang keberagaman suku, budaya, bahasa, dan kehidupan yang saling menopang. Alam mengajarkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan apabila dirawat bersama,” ujar Atus Syahbudin di hadapan para peserta sosialisasi.

    Pesan ini menjadi sangat relevan mengingat derasnya arus informasi di era digital yang seringkali berpotensi memecah belah. Melalui kolaborasi lintas kelompok, diharapkan masyarakat Yogyakarta memiliki filter yang kuat terhadap provokasi dan tetap mampu menjaga harmoni sosial yang selama ini menjadi ciri khas wilayah tersebut.

    Komitmen Kebangsaan dan Rekam Jejak LDII

    LDII secara tegas menempatkan Pancasila sebagai asas organisasi sejak tahun 1972. Komitmen ini bukanlah slogan semata, melainkan diwujudkan melalui edukasi berkelanjutan mengenai wawasan kebangsaan yang telah dilakukan secara konsisten sejak dekade 1980-an. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap anggota organisasi memiliki rasa nasionalisme yang mendalam.

    “Kami berkomitmen menjaga keutuhan bangsa dengan terus mengamalkan Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Atus Syahbudin.

    Upaya membangun komunikasi yang cair dengan berbagai elemen masyarakat menjadi fondasi utama. Atus menilai bahwa nilai gotong royong dan musyawarah harus bertransformasi dari sekadar narasi menjadi budaya praktis yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

    Aksi Nyata: Gerakan Reresik Yogyakarta

    Menutup sesi dialog, LDII DIY mengajak seluruh lapisan ormas dan komunitas untuk beralih dari diskusi menuju aksi fisik yang menyatukan. Atus mengusulkan sebuah gerakan bulanan yang melibatkan massa dari berbagai latar belakang untuk membersihkan titik-titik strategis di Yogyakarta.

    “Saya mengajak kita semua melakukan aksi nyata. Bagaimana jika sebulan sekali kita bergotong royong membersihkan kawasan perempatan-perempatan di DIY melalui gerakan reresik Yogyakarta (Zero Waste) di perempatan-perempatan. Dengan bekerja bersama, kita bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat persaudaraan, komunikasi, dan semangat kebangsaan,” usulnya secara konkret.

    Gagasan Zero Waste ini dipandang sebagai media rekonsiliasi dan silaturahmi yang efektif. Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang berdiri sejajar untuk membersihkan lingkungan, sekat-sekat perbedaan akan luruh dengan sendirinya, digantikan oleh semangat kolektif untuk menjaga bumi dan bangsa secara bersama-sama.

    📖 Glosarium Istilah

    • Zero Waste: Konsep pengelolaan sampah yang bertujuan untuk meminimalkan limbah agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, seringkali melalui daur ulang dan pengurangan konsumsi.
    • Biodiversitas: Keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk interaksi ekosistem tempat mereka berada.
    • Bakesbangpol: Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, lembaga pemerintah yang mengurusi isu-isu ideologi, kewaspadaan nasional, dan hubungan antarorganisasi masyarakat.
    • Empat Pilar Kebangsaan: Landasan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.