LDII Babat Gelar Pengajian Sarimbit, Bekali Pasangan Rahasia Komunikasi dan Keharmonisan Rumah Tangga

LDII Babat Gelar Pengajian Sarimbit, Bekali Pasangan Rahasia Komunikasi dan Keharmonisan Rumah Tangga
foto: ilustrasi

LAMONGAN – Menyadari bahwa ketahanan bangsa dimulai dari lingkup terkecil yakni keluarga, Pengurus Cabang (PC) LDII Kecamatan Babat menggelar agenda Pengajian Sarimbit yang sarat makna. Bertempat di Masjid Baitul Firdaus, Babat, Lamongan, ratusan pasangan suami istri berkumpul untuk mendalami seni berkomunikasi dalam rumah tangga melalui kegiatan bertajuk “Sehidup Sesurga” pada akhir Juli lalu.

⚡ Poin Utama Berita

  • Pengajian Sarimbit Babat: Inisiatif PC LDII Babat untuk membekali ratusan pasutri dengan ilmu psikologi pernikahan dan agama.
  • Konsep Komunikasi Islami: Penekanan pada keteladanan Rasulullah SAW sebagai fondasi utama dalam berinteraksi dengan pasangan.
  • Ketahanan Keluarga: Upaya strategis dalam menciptakan masyarakat yang kuat melalui keharmonisan rumah tangga dan pemenuhan "Tangki Cinta".

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, keharmonisan rumah tangga membutuhkan pembaruan ilmu yang berkelanjutan. Oleh karena itu, LDII menghadirkan pasangan praktisi, Rio Azadi dan Sovia Sahid, yang merupakan pengurus DPW LDII Jawa Timur sekaligus ahli di bidangnya masing-masing, guna membedah problematika keluarga dari sudut pandang medis, psikologi, dan spiritual.

Apa Poin Utama dari Kegiatan Pengajian Sarimbit Ini?

Inti dari pengajian ini adalah menyelaraskan pemahaman antara suami dan istri mengenai tujuan pernikahan sebagai bentuk ibadah tertinggi. Rio Azadi, yang juga merupakan seorang dokter spesialis penyakit dalam, menekankan bahwa kunci keberhasilan sebuah hubungan terletak pada cara pasangan tersebut mengelola komunikasi sehari-hari.

"Konsep komunikasi dalam rumah tangga yang berkembang saat ini sejatinya telah diajarkan dalam Islam melalui keteladanan Rasulullah SAW. Tinggal bagaimana kita memahami dan menerapkannya dalam kehidupan keluarga," — ujar Rio Azadi.

Menurut Rio, perbedaan karakter bukanlah penghalang, melainkan instrumen untuk saling melengkapi. Ia mengajak para peserta untuk selalu kembali pada niat awal pernikahan saat badai konflik menerpa. Dengan memandang pernikahan sebagai ladang pahala, setiap gesekan karakter dapat disikapi dengan lebih bijaksana dan penuh empati.

Bagaimana Mengatasi Masalah Komunikasi Suami Istri?

Sovia Sahid, pemilik Klinik Motiva Konsulting, memaparkan secara detail bahwa kegagalan komunikasi sering kali menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa pria dan wanita memiliki “bahasa” yang berbeda dalam memproses masalah. Pria cenderung fokus pada solusi instan, sementara wanita lebih membutuhkan ruang untuk didengarkan dan dimengerti secara emosional.

Sovia menguraikan lima fase krusial dalam perjalanan pernikahan yang harus dipahami oleh setiap pasangan: fase bulan madu, kekecewaan, kesadaran, perubahan, hingga akhirnya mencapai cinta sejati. Pemahaman atas fase-fase ini membantu pasangan untuk tidak cepat menyerah saat berada di fase kekecewaan.

“Kita tahu bahwa menikah itu menyatukan dua insan, dan paling banyaknya waktu yang kita lewati bersama adalah berkomunikasi, sehingga terkadang ini juga menjadi kunci keharmonisan dalam rumah tangga,” — jelas Sovia Sahid.

Lebih lanjut, ia memperkenalkan metafora "Tangki Cinta". Layaknya kendaraan yang membutuhkan bahan bakar untuk melaju, hubungan suami istri pun memerlukan pasokan apresiasi, waktu berkualitas, sentuhan fisik, serta tindakan pelayanan yang tulus. Jika tangki ini kering, maka laju rumah tangga akan terhambat oleh konflik dan kedinginan emosional.

Mengapa Ketahanan Keluarga Sangat Berdampak bagi Masyarakat?

Ketua PC LDII Babat, Sumarlin, menegaskan bahwa kualitas sebuah lingkungan masyarakat sangat bergantung pada kualitas keluarga-keluarga di dalamnya. Rumah tangga yang stabil dan harmonis akan melahirkan generasi yang memiliki kesehatan mental baik serta mampu berkontribusi positif bagi sosial.

"Keluarga yang harmonis adalah kunci utama terbentuknya masyarakat yang kuat serta anak-anak yang bahagia. Karena itu, pembinaan keluarga perlu terus dilakukan dan tidak berhenti setelah pasangan melangsungkan pernikahan," — pungkas Sumarlin.

Melalui Pengajian Sarimbit ini, LDII berharap para pasutri di Kecamatan Babat memiliki ketahanan mental yang kokoh. Dengan demikian, mereka tidak hanya mampu menjaga keutuhan rumah tangga sendiri, tetapi juga menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitar dalam membangun tatanan sosial yang religius dan harmonis.

📖 Glosarium Istilah

  • Sarimbit: Istilah dalam bahasa Jawa yang berarti pasangan atau bersama-sama (suami istri).
  • PC LDII: Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Islam Indonesia di tingkat kecamatan.
  • Tangki Cinta: Sebuah konsep psikologi populer yang merujuk pada kebutuhan emosional seseorang untuk merasa dicintai oleh pasangannya.
  • DPW LDII: Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia di tingkat provinsi.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.