JEMBER – Keterbatasan fisik nyatanya bukan menjadi tembok penghalang bagi seseorang untuk menebar manfaat dan syiar agama. Inilah yang dibuktikan oleh Ahmad Muzakir, seorang pria asal Desa Tanggul, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di tengah kondisi penglihatan yang tidak berfungsi, ia justru mendedikasikan hidupnya sebagai juru dakwah bagi warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di desanya.
Sudah satu dekade atau sepuluh tahun lamanya, sosok yang akrab disapa Ustaz Muzakir ini aktif memberikan ceramah serta pengajaran agama. Meski hidup dalam kegelapan fisik, semangatnya dalam menyebarkan ajaran Islam tidak pernah pudar. Ia menjadi bukti nyata bahwa cahaya iman mampu melampaui penglihatan indrawi.
"Tuna netra tak menghalangi seseorang untuk berdakwah," tutur narasi dalam program Padamu Negeri LDII TV saat meliput aktivitas harian Ustaz Muzakir.
Kelebihan di Balik Keterbatasan
Berdasarkan penuturan sang ibunda, Ahmad Muzakir lahir pada tahun 1975. Sejak hari pertama menghirup udara dunia, ia sudah divonis mengalami kebutaan permanen. Namun, di balik takdir tersebut, Allah SWT memberikan anugerah luar biasa berupa daya ingat yang sangat tajam. Ustaz Muzakir dikenal sangat mudah menghafal ayat-ayat suci Alquran serta teks-teks Hadis.
Kemampuannya tidak berhenti pada hafalan semata. Ia juga piawai dalam menyampaikan kandungan serta makna dari setiap ayat kepada jamaah dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Masyarakat di Desa Tanggul melihat sosoknya bukan sebagai penyandang disabilitas, melainkan sebagai sumber inspirasi spiritual yang dihormati.
Dedikasi Sepuluh Tahun Berdakwah
Perjalanan Ustaz Muzakir sebagai juru dakwah di lingkungan LDII Jember tidaklah singkat. Pengabdian selama sepuluh tahun menunjukkan konsistensi dan integritasnya dalam menjalankan tugas mulia. Syiar yang ia lakukan mencakup berbagai lapisan usia, mulai dari pemuda hingga orang tua, yang rutin menghadiri pengajian di wilayah tersebut.
Metode dakwah yang dilakukan pun tergolong alami namun berbobot. Dengan mengandalkan hafalan kuatnya, ia membimbing warga untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap bangsa dan agama tidak memerlukan kesempurnaan fisik, melainkan ketulusan hati.
Kisah Ahmad Muzakir kini menjadi perbincangan hangat sebagai oase hikmah di tengah hiruk-pikuk dunia. Ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki porsi tanggung jawab yang sama dalam kebaikan, asalkan ada kemauan yang kuat untuk terus belajar dan berbagi.
📖 Glosarium Istilah
- Juru Dakwah: Seseorang yang bertugas menyebarkan ajaran agama Islam (da'i).
- Tuna Netra: Kondisi seseorang yang mengalami hambatan atau keterbatasan dalam indra penglihatan.
- Syiar: Upaya untuk mengenalkan, membesarkan, atau menyebarluaskan ajaran agama kepada khalayak.
- Istiqomah: Sikap teguh pendirian dan konsisten dalam melakukan kebaikan atau ibadah.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.