BANYUWANGI — Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Jawa Timur, KH Moch. Amrodji Konawi, mengonsolidasi ratusan warga dalam aksi nyata penyelamatan ekosistem pesisir melalui kegiatan bersih pantai di Pantai Cemara, Banyuwangi, pada Minggu (23/8/2026). Inisiatif yang menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini mengusung visi besar dalam mewujudkan Banyuwangi yang bersih, lestari, dan berkelanjutan sebagai manifestasi kepedulian umat terhadap alam.
Langkah ini merupakan implementasi langsung dari program strategis nasional DPP LDII yang bertajuk “Kerja Bersama Bakti untuk Negeri”. Sebelum menyisir garis pantai, para peserta telah terlebih dahulu melakukan penanaman 1.000 bibit mangrove dan pelepasan 50 tukik ke habitat asalnya. Aktivitas kemudian berlanjut dengan aksi kolektif memungut sampah plastik, sisa kayu, serta limbah rumah tangga yang mengotori area pantai akibat terbawa arus laut.
“Hari ini kita tidak hanya tanam bibit mangrove, tetapi juga langsung bersih-bersih pantai. Pantai harus kita jaga bersama karena menjadi wajah daerah dan sumber kehidupan masyarakat,” ujar KH Moch. Amrodji Konawi di sela-sela kegiatan.
Implementasi Program Nasional Kerja Bersama Bakti untuk Negeri
Aksi lingkungan ini melibatkan ratusan relawan yang berasal dari struktur Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pengurus Cabang (PC) LDII se-Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran berbagai elemen, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga ibu-ibu majelis taklim, menunjukkan bahwa kesadaran ekologis telah merambah seluruh lapisan generasi. Mereka bahu-membahu memilah sampah secara manual guna mempermudah proses daur ulang dan pengolahan limbah akhir.
KH Moch. Amrodji menekankan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah edukasi jangka panjang bagi generasi muda. Dengan terjun langsung ke lapangan, diharapkan muncul pemahaman mendalam mengenai bahaya polusi plastik terhadap rantai makanan dan kelangsungan ekosistem laut. Aksi fisik ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakpedulian lingkungan yang kerap terjadi di kawasan wisata pesisir.
Sinergi Strategis dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
Keberhasilan agenda ini tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci agar upaya pelestarian lingkungan tidak bersifat sporadis, melainkan berkelanjutan dan terintegrasi dengan kebijakan daerah.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada DPD LDII Banyuwangi dan Pemkab Banyuwangi yang sudah memfasilitasi kegiatan ini. Mulai dari koordinasi dengan pemerintah daerah, menyiapkan lokasi, hingga menggerakkan warga untuk ikut bersama-sama dalam kegiatan pelestarian lingkungan,” ungkap Amrodji memberikan apresiasi atas sinergitas yang terjalin.
Gayung bersambut, gerakan ini selaras dengan program “Resik” yang digalakkan oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Melalui semangat Banyuwangi ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), LDII berkomitmen menjadi motor penggerak masyarakat dalam menjaga estetika dan kesehatan lingkungan yang menjadi daya tarik utama pariwisata di Bumi Blambangan.
Edukasi Perubahan Budaya dalam Pengelolaan Sampah Pesisir
Kepala Bidang Pengawasan Dampak Lingkungan DLH Banyuwangi, Rudianto, ST, memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi keterlibatan organisasi kemasyarakatan seperti LDII. Menurutnya, pembersihan pantai secara periodik memberikan dampak instan bagi kenyamanan wisatawan dan kesehatan nelayan, namun perubahan perilaku tetap menjadi tantangan terbesar.
“Ini adalah langkah konkret untuk mengurangi sampah di Banyuwangi, khususnya di wilayah pantai. Saya yakin wisatawan dan nelayan akan semakin nyaman beraktivitas, serta warga juga semakin sehat karena lingkungannya menjadi bersih,” kata Rudianto.
Ia menegaskan bahwa intervensi pemerintah dalam bentuk fasilitas kebersihan tidak akan pernah cukup jika tidak dibarengi dengan revolusi mental di masyarakat terkait cara membuang sampah. Rudianto mengingatkan bahwa budaya bersih harus menjadi identitas warga Banyuwangi guna menjaga ekosistem pesisir tetap produktif bagi masa depan.
“Sebesar apa pun usaha pemerintah daerah membersihkan sampah, kalau tidak ada perubahan budaya membuang sampah, maka akan percuma,” tegasnya menutup pernyataan.
📖 Glosarium Istilah
- LDII: Lembaga Dakwah Islam Indonesia, organisasi kemasyarakatan berbasis Islam yang aktif dalam bidang dakwah, sosial, dan lingkungan hidup.
- DLH: Dinas Lingkungan Hidup, unsur pelaksana pemerintah daerah di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.
- Tukik: Sebutan untuk bayi penyu yang baru menetas dan biasanya dilepaskan ke laut sebagai bagian dari upaya konservasi hewan dilindungi.
- Mangrove: Hutan bakau yang berfungsi mencegah abrasi pantai, menjaga ekosistem pesisir, dan menyerap karbon dalam jumlah besar.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.