Ketika Sirene Mobil Damkar Tak Kunjung Berhenti

Ketika Sirene Mobil Damkar Tak Kunjung Berhenti

SAMPIT — Beberapa hari terakhir, suara sirene mobil pemadam kebakaran seolah menjadi suara yang akrab di tengah kehidupan warga Sampit, Kotawaringin Timur. Hampir setiap beberapa menit, sirene terdengar membelah suasana. Suara itu sontak membuat orang terhenyak, lalu bertanya dalam hati: ke mana mobil damkar itu melaju?

Di tengah kemarau yang belum juga berakhir, suara sirene bukan lagi sekadar suara kendaraan yang melintas. Bagi sebagian warga, suara itu membawa kecemasan tersendiri. Apalagi ketika api mulai mendekati lingkungan permukiman dan fasilitas umum.

Bagi Priyo, Wanhat DPD LDII Kotawaringin Timur, suara sirene memiliki makna yang lebih dalam sejak kebakaran yang melahap sebagian ruang LDII di Jalan Teratai 2 pada Minggu lalu.

"Sejak kejadian hari Minggu lalu, api yang melahap sebagian ruang LDII di jalan Teratai 2 membuat hati saya selalu berdebar ketika mendengar suara sirine damkar," ucap Priyo, Wanhat DPD LDII Kowaringin Timur.

Perasaan waswas itu tumbuh seiring kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang. Lebih dari satu bulan hujan tidak turun. Lahan-lahan kosong pun menjadi perhatian serius karena titik api dapat muncul dari area tersebut dan berpotensi menjalar ketika kondisi lingkungan sangat kering.

Dalam kondisi seperti itu, kepedulian masyarakat menjadi bagian penting dari upaya mencegah kebakaran meluas. Bukan hanya tugas petugas pemadam atau tim penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga membutuhkan kesadaran dari seluruh elemen masyarakat.

"Perlu kesadaran tinggi dari seluruh elemen masyarakat. Jika ada warga yang sengaja membakar lahan miliknya sendiri di musim kemarau yang panas ini, maka sangat berbahaya. Kondisi tanah bergambut menjadi media api untuk menjalar lebih cepat ke area yang lebih luas," ucapnya.

Api yang Semakin Mendekat

Kekhawatiran itu kini juga dirasakan warga LDII di sekitar Masjid Al Kaustar, Jalan Kaca Piring Barat. Sejak minggu lalu, warga terus berjaga di sekitar masjid. Bukan tanpa alasan. Rambatan api yang sebelumnya berada ratusan meter dari kawasan tersebut kini semakin mendekat.

Pada 25 Agustus 2025, jaraknya bahkan disebut tinggal beberapa meter dari masjid. Situasi tersebut membuat kewaspadaan harus terus dijaga, terlebih di sekitar masjid juga terdapat rumah penduduk dan pemakaman umum.

🔥 Kewaspadaan di Sekitar Masjid Al Kaustar

Warga LDII terus berjaga di sekitar Masjid Al Kaustar, Jalan Kaca Piring Barat, karena rambatan api yang sebelumnya berjarak ratusan meter dilaporkan semakin dekat hingga hanya beberapa meter dari masjid.

"Alhamdulillah, warga LDII beserta masyarakat sekitar dan tim Karhutla Kotim selalu siap siaga. Selain masjid di sekitar juga ada rumah penduduk dan pemakaman umumm," lanjutnya,

Sirene yang Mengingatkan Kita

Sirene yang terdengar berulang kali mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, di balik suara itu ada pesan yang jauh lebih panjang: alam sedang membutuhkan perhatian.

Kemarau membuat lahan menjadi mudah terbakar. Kondisi tanah bergambut juga membuat api memiliki potensi menjalar melalui lapisan yang sulit terlihat dari permukaan. Ketika api mulai mendekati permukiman, masjid, maupun fasilitas masyarakat, yang dipertaruhkan bukan hanya lahan, tetapi juga rasa aman warga.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar slogan. Tidak membakar lahan sembarangan, memastikan sumber api benar-benar padam, memperhatikan lahan kosong di sekitar permukiman, dan segera melaporkan apabila melihat tanda-tanda kebakaran merupakan bentuk kepedulian sederhana yang dapat dilakukan bersama.

Tingkatkan kepedulian terhadap lingkungan alam sekitar.

Karena satu percikan api dapat menjadi ancaman besar ketika kemarau belum berakhir.