Kemarau Panjang, Waspada Api! Lahan Gambut Mudah Terbakar

api
Warga LDII Berjaga di Masjid, Waspada Kebakaran di sekitar area
Kemarau Panjang, Waspada Api! Lahan Gambut Mudah Terbakar

Kemarau Panjang, Waspada Api! Lahan Gambut Mudah Terbakar

Sampit, 18 Agustus 2026 — Kewaspadaan terhadap kebakaran lahan gambut

Kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran, terutama pada wilayah yang memiliki struktur tanah gambut. Kondisi gambut yang mengering membuat api lebih mudah merambat dan sulit dikendalikan.

Sampit (18/8). Berdasarkan pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84 persen wilayah dan September sebesar 25,41 persen wilayah.

Sebagian besar wilayah Indonesia juga mengalami sifat musim kemarau yang lebih kering dari normal atau bawah normal, serta berlangsung dengan durasi yang lebih panjang. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya di daerah yang memiliki lahan gambut.

Puncak kemarau 2026:

Agustus: 48,84% wilayah Indonesia

September: 25,41% wilayah Indonesia

Sebagian wilayah mengalami kemarau lebih kering dari normal dan berdurasi lebih panjang.

Lahan Gambut Sangat Rentan Terbakar

Kondisi kering, terutama pada wilayah dengan struktur tanah gambut, sangat rentan terhadap kebakaran. Ketika gambut mengalami kekeringan dan terbakar, api tidak selalu terlihat menyala di permukaan.

Api dapat menimbulkan bara dan merambat mengikuti lapisan gambut. Bahkan, kebakaran dapat berlangsung di bawah permukaan tanah sehingga titik api sulit terlihat dan berpotensi muncul kembali di lokasi lain.

Kondisi inilah yang membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika memasuki musim kemarau. Api kecil yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi kebakaran lahan yang mengancam lingkungan, rumah warga, maupun fasilitas umum.

Warga LDII Ketapang Siaga Lindungi Masjid dan Rumah Warga

Seperti kejadian baru-baru ini, ketika Indonesia sedang memperingati Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, warga LDII di PC Ketapang bersiap siaga menjaga Masjid Al Kautsar dan rumah warga sekitar dari ancaman rambatan api yang membakar lahan.

Langkah kewaspadaan dilakukan dengan melibatkan para pemuda untuk berjaga di sekitar masjid. Mereka bersiap mengantisipasi apabila kobaran api bergerak mendekati fasilitas ibadah dan permukiman warga.

“Malam ini para pemuda jaga di masjid. Siap siaga jika terjadi kebakaran,” ujar Priyo, pembina LDII Kotim, memberikan arahan untuk menjaga keamanan sarana dan fasilitas ibadah tersebut.

Siapkan Mesin Air, Selang, dan Tandon

Sebagai langkah antisipasi, beberapa mesin air atau alkon disiapkan di lokasi. Selain itu, warga juga menyiapkan selang dan tandon air yang dapat digunakan apabila rambatan api semakin mendekat.

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memperkecil risiko apabila api bergerak menuju lingkungan masjid. Warga juga terus memantau kondisi lahan yang terbakar agar perkembangan api dapat diketahui sedini mungkin.

“Jarak titik kobaran api kurang dari 100 meter dari masjid,” ucap Agus Fitria, sesepuh LDII di Masjid Al Kautsar.

Lahan Sekitar Masjid Diupayakan Menjadi Area Pengaman

Sementara itu, koordinator lapangan Surono memberikan masukan agar lahan di sekitar masjid ditebas dan dibuatkan parit sebagai salah satu upaya menghambat rambatan api.

“Radius dari masjid kurang lebih 10 meter,” ucap Surono.

Upaya membersihkan area sekitar bangunan dan membuat batas pengaman menjadi bagian dari kewaspadaan masyarakat menghadapi risiko kebakaran lahan. Namun, penanganan kebakaran tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan koordinasi dengan pihak yang berwenang.

Waspada Membakar Lahan Saat Kemarau

Musim kemarau menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan sekitar. Masyarakat diimbau tidak membakar lahan sembarangan, karena kondisi kering dapat membuat api mudah menjalar dan sulit dikendalikan.

Sebelum menggunakan api di sekitar lahan, pertimbangkan kondisi cuaca, arah angin, keberadaan bahan yang mudah terbakar, serta dampaknya terhadap lingkungan dan permukiman warga.

Jaga Lingkungan, Cegah Kebakaran Sejak Dini

Kebakaran lahan gambut bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan asap yang berdampak luas. Karena itu, pencegahan menjadi langkah penting yang dapat dilakukan bersama.

Kepedulian warga dalam melakukan pemantauan dan kesiapsiagaan menjadi contoh penting bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, potensi kebakaran dapat ditekan sejak dini.

Jangan menunggu api membesar. Mari menjaga lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan, dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran.