Hal Tak Terduga Bisa Terjadi Dimanapun Engkau Berada

Hal Tak Terduga Bisa Terjadi Dimanapun Engkau Berada

Berangkat untuk berdakwah ke Kuala Pembuang, rombongan pengurus LDII Kotawaringin Timur tidak pernah menyangka bahwa di tengah perjalanan pulang mereka akan menerima kabar tentang kebakaran di sekitar Masjid Al Haq Sampit. Perjalanan itu pun berubah menjadi sebuah pelajaran tentang ikhtiar, kepedulian, koordinasi, dan rasa syukur.

SAMPIT — Minggu pagi, pukul 06.00 WIB, ketika sebagian besar orang baru memulai aktivitas, rombongan pengurus LDII Kotawaringin Timur telah bersiap meninggalkan Sampit. Tujuannya jelas: Kuala Pembuang, ibu kota Kabupaten Seruyan.

Sebuah Toyota Innova warna hitam keluaran 2010 menjadi kendaraan yang membawa rombongan menempuh perjalanan sekitar 180 kilometer. Dengan kecepatan sedang, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

Namun pagi itu tidak sepenuhnya cerah. Asap kebakaran hutan menyelimuti udara. Tidak terlalu tebal, sehingga jarak pandang bagi pengemudi masih cukup nyaman, tetapi keberadaan asap tetap menjadi tanda bahwa musim kemarau membutuhkan kewaspadaan.

Di dalam kendaraan, perjalanan terus berlangsung. Jalan panjang di depan menjadi bagian dari ikhtiar untuk memenuhi agenda dakwah dan silaturahim. Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa jam kemudian, sebuah kabar dari Sampit akan membuat perjalanan tersebut memiliki cerita yang sama sekali berbeda.

Menyusuri Pesisir Menuju Kuala Pembuang

Sekitar 80 kilometer dari Sampit, rombongan memasuki kawasan Ujung Pandaran. Pemandangan pun berubah. Perjalanan mulai menyusuri tepian laut.

Angin bulan Agustus terasa cukup kuat di kawasan pesisir. Langit tampak diselimuti mendung, meski hujan belum turun. Jalan aspal dan bentangan laut menjadi pemandangan yang menemani perjalanan.

Ada ketenangan tersendiri ketika kendaraan melaju di kawasan pesisir. Namun di balik suasana tersebut, rombongan tetap menjaga tujuan perjalanan: bertemu jamaah, menyampaikan pesan dakwah, dan memperkuat silaturahim.

Perjalanan dakwah memang tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Terkadang ada jarak yang harus ditempuh, waktu yang harus disediakan, dan kondisi perjalanan yang harus dihadapi. Tetapi selama tujuan yang hendak dicapai adalah kebaikan, perjalanan panjang menjadi bagian dari proses yang layak dijalani.

Senyum Jamaah Menjadi Sambutan Pertama

Sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di PC Kuala Pembuang. Perjalanan panjang dari Sampit untuk sementara berakhir.

Beberapa jamaah telah menunggu kedatangan rombongan. Senyum dan keramahan menjadi sambutan pertama yang mereka terima.

Setelah menempuh perjalanan sejak pagi, rombongan kemudian menikmati sarapan. Hidangan yang tersaji sederhana tetapi menggugah selera: ikan kakap, mi, dan urap sayuran.

Dalam perjalanan silaturahim, makanan bukan sekadar pengisi tenaga. Ia juga menjadi simbol keramahan tuan rumah kepada tamu yang datang dari jauh. Percakapan, senyum, dan hidangan sederhana menyatukan orang-orang yang sebelumnya terpisah oleh jarak.

Selesai sarapan, rombongan menuju Ikhwanul Khoir di Jalan Cilik Riwut RT 15 RW 02, Kuala Pembuang 1, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan.

Dari Perjalanan Panjang Menuju Ruang Dakwah

Jamaah telah hadir ketika rombongan tiba di tempat kegiatan. Suasana pertemuan terasa hangat. Setelah perjalanan dari Sampit, kini perhatian seluruh rombongan tertuju pada agenda utama: pembinaan dan dakwah.

Pertemuan diawali oleh M. Siroj. Ia menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih atas sambutan yang diberikan oleh jamaah di Kuala Pembuang, kemudian memperkenalkan para pengurus yang datang dari Kotawaringin Timur.

Rombongan tersebut terdiri dari Noor Priyo, H. Ahsanudin, Arif Rahman, Ahmad Choirin, dan Agus Fitria Budi.

Setelah pembukaan, rangkaian tausiyah dimulai. Pesan yang disampaikan tidak hanya berbicara tentang kehidupan hari ini, tetapi juga tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang akan datang.

Ilmu, Bekal yang Tidak Boleh Ditinggalkan

Arif Rahman menjadi salah satu penyampai tausiyah. Ia mengingatkan jamaah tentang pentingnya membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan kepahaman agama.

“Barang siapa ingin mendapatkan dunia, maka tetapilah (kuasailah) ilmunya, barangsiapa ingin mendapatkan kesuksesan akhirat, maka tetapilah ilmunya.”
— Dikutip dalam tausiyah dari ucapan Ali bin Abi Thalib r.a.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu merupakan bekal penting dalam menentukan arah kehidupan. Tanpa ilmu, seseorang akan lebih mudah kehilangan pegangan ketika berhadapan dengan berbagai persoalan dan perubahan zaman.

Ilmu juga tidak berhenti pada pengetahuan. Ia diharapkan melahirkan kepahaman, kemudian diwujudkan dalam amal dan akhlak.

Membangun Akhlak Sejak Usia Dini

Arif Rahman kemudian mengarahkan perhatian pada persoalan generasi muda. Menurutnya, keberhasilan pembinaan akhlak harus dimulai sejak usia dini.

Anak-anak hari ini adalah generasi yang akan menghadapi tantangan kehidupan pada masa mendatang. Karena itu, pendidikan dan pembinaan tidak dapat menunggu hingga mereka dewasa.

Orang tua dan para pengurus memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan sarana serta fasilitas yang menunjang pendidikan dasar dan pembinaan generasi muda usia dini.

Pembinaan generasi membutuhkan kerja bersama. Tidak cukup hanya mengandalkan satu pihak. Keluarga, lingkungan, para pengurus, dan masyarakat perlu berjalan dalam arah yang sama.

Sebab membentuk akhlak bukan pekerjaan sehari dua hari. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan keteladanan, kesabaran, perhatian, dan lingkungan yang mendukung.

Sedekah dan Infak untuk Pembinaan Umat

Pesan berikutnya disampaikan oleh H. Ahsanudin. Ia mengajak jamaah agar semakin memperbanyak sedekah dan infak fi sabilillah.

“Tidak berkurang harta yang digunakan untuk bersodaqoh.”

Ia menjelaskan bahwa harta yang diinfakkan di jalan Allah untuk keperluan pembinaan umat diharapkan menjadi amal jariyah.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan. Sebab kegiatan dakwah, pendidikan, pembinaan generasi, dan berbagai kebutuhan umat membutuhkan dukungan dan kepedulian bersama.

Harta yang dimiliki bukan hanya tentang apa yang dapat dinikmati hari ini. Sebagian darinya dapat menjadi jalan menghadirkan manfaat bagi orang lain dan menjadi bekal amal yang terus mengalir.

Pertemuan Berakhir, Tetapi Cerita Belum Selesai

Rangkaian pertemuan akhirnya sampai pada penghujung acara. Doa penutup dipanjatkan, kemudian rombongan bersama jamaah melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah.

Secara agenda, pertemuan telah selesai. Pesan-pesan tentang ilmu, pembinaan generasi, sedekah, dan kepedulian terhadap umat telah disampaikan.

Namun justru setelah itu, sebuah kabar datang.

PUKUL 11.45 WIB

Kabar Kebakaran Datang dari Sampit

Sekitar pukul 11.45 WIB, ketika rombongan masih berada di Kuala Pembuang, kabar yang tidak pernah mereka bayangkan datang.

Terjadi insiden kebakaran di sekitar kompleks Masjid Al Haq di Jalan Teratai 2, Sampit. Lokasi tersebut memiliki arti khusus bagi rombongan karena rumah H. Ahsanudin berada di sekitar kawasan tersebut.

Sekejap, Perhatian Beralih ke Rumah di Kejauhan

Suasana yang sebelumnya dipenuhi pesan dakwah mendadak berubah. Perhatian rombongan tertuju ke Sampit, tempat keluarga dan rumah H. Ahsanudin berada.

Jarak sekitar 180 kilometer membuat rombongan tidak mungkin langsung berada di lokasi. Namun jarak bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan.

Koordinasi segera dilakukan. Informasi dicari dan komunikasi dijalin untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

Dalam situasi seperti itu, kepanikan tidak banyak membantu. Yang dibutuhkan adalah informasi yang jelas, komunikasi yang cepat, dan koordinasi yang baik.

Rombongan yang beberapa saat sebelumnya berkumpul untuk membicarakan pembinaan umat kini menghadapi persoalan nyata yang terjadi jauh di tempat mereka berangkat pagi tadi.

Tiga Puluh Menit yang Menegangkan

Sekitar 30 menit kemudian, kabar yang ditunggu akhirnya datang: kobaran api telah berhasil dipadamkan.

Kabar itu segera disambut dengan rasa syukur oleh rombongan pengurus. Ketegangan yang sempat muncul perlahan mereda.

Tidak ada yang lebih melegakan daripada mengetahui bahwa api telah berhasil dikendalikan, terutama ketika lokasi kejadian berada dekat dengan rumah orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memang dapat merencanakan perjalanan, menentukan tujuan, menyusun agenda, bahkan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Namun tetap ada hal-hal yang berada di luar perkiraan manusia.

Dan pada saat itulah, ikhtiar, doa, koordinasi, serta ketenangan menjadi sangat berarti.

Dakwah dan Kepedulian Tidak Berjarak

Ada satu hal menarik dari peristiwa tersebut. Rombongan sedang berada jauh dari Sampit untuk menjalankan agenda dakwah, tetapi ketika kabar kebakaran datang, rasa kepedulian tetap hadir seketika.

Inilah makna lain dari kebersamaan. Jarak geografis boleh memisahkan, tetapi perhatian dan kepedulian tidak harus ikut terpisah.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan belajar bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan nasihat. Dakwah juga berkaitan dengan kepedulian kepada sesama, kesediaan membantu, menjaga komunikasi, dan hadir ketika orang lain menghadapi kesulitan.

Apa yang terjadi pada siang itu seolah menjadi pelengkap dari tausiyah yang baru saja disampaikan. Ilmu tidak berhenti di ruang pertemuan. Nilai kepedulian diuji ketika kehidupan menghadirkan situasi yang tidak direncanakan.

Pulang dengan Perasaan yang Berbeda

Setelah kondisi dipastikan aman, rombongan kemudian bersiap kembali ke Sampit.

Jalan yang sama kembali dilewati. Aspal panjang di kawasan pesisir kembali menjadi teman perjalanan. Laut dan angin pesisir masih menyertai perjalanan pulang.

Namun perjalanan pulang kali ini terasa berbeda.

Jika perjalanan pagi dipenuhi semangat menuju agenda dakwah, perjalanan pulang membawa pengalaman lain: kabar kebakaran, rasa khawatir, koordinasi, dan akhirnya rasa syukur.

Sekitar pukul 18.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di Sampit.

Langkah Pertama Setelah Tiba: Masjid Al Haq

Sesampainya di Sampit, rombongan tidak langsung beristirahat. Mereka menuju Masjid Al Haq untuk melaksanakan shalat Maghrib.

Setelah shalat, rombongan melihat langsung kondisi bangunan dan lingkungan sekitar pascakebakaran.

Pemandangan di lokasi menjadi penutup perjalanan yang tidak pernah ada dalam agenda keberangkatan pagi hari.

Pagi tadi mereka berangkat membawa agenda dakwah. Siang hari mereka menerima kabar kebakaran. Sore hari mereka kembali ke Sampit. Dan malamnya, mereka berdiri di lokasi untuk melihat kondisi setelah api berhasil dipadamkan.

Satu hari, dua tempat, dan begitu banyak pelajaran.

Kita Tidak Pernah Tahu Apa yang Menanti di Depan

Perjalanan menuju Kuala Pembuang mengajarkan bahwa manusia hanya dapat merencanakan. Selebihnya, kehidupan menghadirkan kejadian-kejadian yang tidak selalu masuk dalam agenda.

Rombongan berangkat pukul 06.00 WIB dengan tujuan menghadiri pertemuan dakwah. Mereka melewati jalan panjang, asap kebakaran, kawasan Ujung Pandaran, tepian laut, dan angin pesisir.

Di Kuala Pembuang mereka disambut jamaah, menikmati sarapan, kemudian mengikuti pertemuan dakwah. Mereka berbicara tentang ilmu, pembinaan generasi, sedekah, dan infak fi sabilillah.

Tetapi sebelum perjalanan pulang dimulai, kabar kebakaran datang dari Sampit.

Peristiwa itu mengubah warna perjalanan.

Dari sana kita belajar satu hal penting: hal tak terduga dapat terjadi di mana pun kita berada.

Karena itu, selama perjalanan hidup masih berlangsung, manusia perlu selalu menyiapkan diri. Bukan hanya dengan rencana, tetapi juga dengan doa, ilmu, ketenangan, kepedulian, dan kesediaan untuk mengambil tindakan ketika keadaan berubah.

Dari Kuala Pembuang untuk Sampit

Ada ironi kecil namun penuh makna dalam perjalanan ini. Rombongan pergi jauh untuk menyampaikan pesan tentang pembinaan umat, tetapi dalam perjalanan yang sama mereka mendapatkan pengalaman nyata tentang pentingnya kepedulian dan kebersamaan.

Tausiyah tentang ilmu mengingatkan pentingnya memiliki bekal menghadapi kehidupan. Pesan tentang pembinaan generasi mengingatkan pentingnya mempersiapkan masa depan. Ajakan bersedekah mengingatkan tentang manfaat harta bagi sesama.

Kemudian sebuah kebakaran datang menguji sisi lain dari semuanya: bagaimana manusia merespons keadaan yang tidak terduga.

Tidak semua pelajaran datang melalui mimbar. Sebagian hadir melalui perjalanan. Sebagian melalui pertemuan. Dan sebagian lagi hadir melalui sebuah kabar yang membuat kita sejenak terdiam dan bersyukur ketika semuanya dapat dikendalikan.

Perjalanan Selesai, Pelajaran Tetap Tinggal

Minggu itu akhirnya menjadi perjalanan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar perjalanan Sampit–Kuala Pembuang–Sampit.

Ada sekitar 180 kilometer yang ditempuh. Ada pertemuan dengan jamaah Kuala Pembuang. Ada tausiyah tentang ilmu dan pembinaan generasi. Ada pesan tentang sedekah dan infak. Ada doa. Ada kabar kebakaran. Ada koordinasi. Ada rasa cemas. Ada kabar bahwa api telah padam. Dan akhirnya ada rasa syukur ketika rombongan kembali ke Sampit.

Semua terjadi dalam satu hari.

Perjalanan itu seolah mengajarkan bahwa hidup pun demikian. Kita berangkat dengan rencana, tetapi tidak pernah mengetahui seluruh kejadian yang akan ditemui di sepanjang jalan.

Maka, bekalilah perjalanan dengan ilmu. Jaga silaturahim. Perbanyak amal kebaikan. Peduli kepada sesama. Tetap tenang ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga. Dan jangan lupa bersyukur ketika sebuah ujian berhasil dilewati.

Sebab jalan dakwah bukan hanya tentang sampai ke tujuan.

Jalan dakwah adalah tentang apa yang kita pelajari sepanjang perjalanan, siapa yang kita temui, kebaikan apa yang kita tinggalkan, dan bagaimana kita tetap bersyukur ketika hal tak terduga datang di tengah perjalanan.

Lokasi pertemuan: Ikhwanul Khoir, Jalan Cilik Riwut RT 15 RW 02, Kuala Pembuang 1, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan.

Lokasi insiden: Sekitar kompleks Masjid Al Haq, Jalan Teratai 2, Sampit.

Rombongan: Noor Priyo, H. Ahsanudin, Arif Rahman, Ahmad Choirin, dan Agus Fitria Budi.

Perjalanan: Berangkat dari Sampit pukul 06.00 WIB dan kembali sekitar pukul 18.00 WIB.

```