Dua Kunci Utama Meraih Kebahagiaan Hakiki Menurut KH Ubaidillah Alhasany

Dua Kunci Utama Meraih Kebahagiaan Hakiki Menurut KH Ubaidillah Alhasany
foto: ilustrasi
Dua Kunci Utama Meraih Kebahagiaan Hakiki Menurut KH Ubaidillah Alhasany
  • Mengejar kebahagiaan seolah menjadi perlombaan tanpa henti bagi setiap manusia di berbagai penjuru dunia. Namun, ironisnya, banyak yang justru merasa kian jauh dari rasa tenang meskipun telah mencapai puncak materi atau popularitas. Menanggapi fenomena spiritual ini, KH Ubaidillah Alhasany menguraikan bahwa kunci kebahagiaan terletak pada cara pandang manusia terhadap dunia dan kemampuan menerima kenyataan hidup.

    ⚡ Poin Utama Berita

    • Hakikat Dunia: Dunia dipandang sebagai kesenangan yang menipu (mata’ul ghuruur) dengan nilai yang sangat kecil dibanding akhirat.
    • Prinsip Qona’ah: Kemampuan menerima kenyataan hidup atau qona’ah menjadi pilar utama kebahagiaan emosional dan spiritual.
    • Iman sebagai Tolok Ukur: Kebahagiaan hakiki tidak bersumber dari materi, melainkan dari kemurnian iman yang terjaga dalam kondisi apa pun.

    Apa Dua Kunci Utama Meraih Kebahagiaan Menurut KH Ubaidillah Alhasany?

    Dalam sebuah wejangan spiritual yang mendalam, KH Ubaidillah Alhasany menekankan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang sulit diraih selama manusia memegang teguh dua prinsip dasar. Kunci pertama adalah ketepatan dalam menilai dunia. Beliau mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam ilusi kemewahan fana yang seringkali menyesatkan logika dan batin.

    “Dunia ini hanyalah kenikmatan yang menipu (mata’ul ghuruur) dan nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Tidak ada kehidupan kecuali hanyalah membujuk, kehidupan dunia nyaris tidak ada nilai,” ujar KH Ubaidillah Alhasany.

    Habib Ubaid, sapaan akrabnya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kecenderungan manusia modern yang menjadikan dunia sebagai orientasi tunggal. Banyak individu menghabiskan seluruh energi dan waktunya untuk ambisi keduniaan yang belum tentu tercapai, namun di saat yang sama justru kehilangan kedamaian di dalam hatinya.

    Mengapa Harta dan Popularitas Bukan Jaminan Kebahagiaan?

    Seringkali, masyarakat umum terjebak dalam stigma bahwa kekayaan materi, pangkat yang tinggi, atau popularitas adalah tiket menuju hidup yang menyenangkan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Habib Ubaid menegaskan bahwa indikator-indikator tersebut bersifat semu dan tidak menyentuh akar ketenangan jiwa.

    “Banyak orang kaya atau populer namun hidupnya merana,” kata beliau menekankan fakta realitas sosial saat ini.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kunci kebahagiaan sebenarnya adalah rasa syukur dan kemampuan menerima kenyataan atas apa pun yang dialami serta berapa pun yang dimiliki. Tanpa rasa syukur, sebesar apa pun pencapaian seseorang, ia akan selalu merasa kekurangan dan terjebak dalam kecemasan yang berkepanjangan.

    Bagaimana Cara Menjaga Iman di Tengah Ujian Kehidupan?

    Inti dari kehidupan seorang hamba, menurut KH Ubaidillah Alhasany, adalah iman. Iman dipandang sebagai harta yang tak ternilai harganya, melebihi segala bentuk kemewahan di bumi. Ia berpendapat bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu menjaga kelanggengan Islam di dalam dadanya hingga akhir hayat.

    “Keimanan dan kelanggengan dalam Islam adalah karunia terbesar serta kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki,” jelas Habib Ubaid.

    Beliau juga menyitir sebuah pemahaman mendalam mengenai takdir manusia yang berbeda-beda. Mengacu pada Hadits Qutsy, ia menjelaskan bahwa Allah menjaga iman hamba-Nya melalui berbagai cara yang unik. Ada yang dijaga imannya melalui kecukupan harta, namun ada pula yang justru lebih terjaga dalam kemiskinan. Begitu pula dengan kesehatan; ada yang kian bertaqwa saat sehat, sementara yang lain justru menemukan jalan kembali kepada Sang Pencipta saat diuji dengan sakit.

    “Karena sakitnya ia malah taqorrubilalloh, banyak mendekat kepada Alloh,” tuturnya memberikan perspektif tentang hikmah di balik musibah fisik.

    Sebagai penutup, KH Ubaidillah Alhasany mengimbau seluruh umat untuk senantiasa mengedepankan sikap husnudzon atau berprasangka baik terhadap setiap ketetapan Allah. Dengan meyakini bahwa kondisi saat ini adalah yang terbaik untuk menjaga iman, seseorang akan lebih mudah meraih husnul khotimah.

    📖 Glosarium Istilah

    • Mata’ul Ghuruur: Istilah dalam bahasa Arab yang berarti kesenangan atau perhiasan yang menipu/palsu.
    • Qona’ah: Sikap merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan merasa rela atas pemberian Allah.
    • Husnudzon: Berprasangka baik, dalam konteks ini berarti selalu berpikir positif terhadap segala takdir Tuhan.
    • Taqorrubilalloh: Upaya atau tindakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.