Dari Keraguan Menjadi Pembawa Baki, Kisah Novin Jihan Safira di Paskibraka Kotim 2026
Berawal dari rasa ragu untuk mengikuti seleksi, keberanian Novin mencoba justru membawanya ke lapangan upacara sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih.
Tidak semua perjalanan menuju sebuah pencapaian dimulai dengan keyakinan penuh. Ada yang justru berawal dari keraguan, rasa takut gagal, dan sebuah keputusan sederhana: mencoba.
Begitulah perjalanan Novin Jihan Safira. Siswi kelas XI SMAN 1 Sampit itu sebenarnya tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di lapangan upacara sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih.
Sebelum mengikuti Paskibraka, kehidupan Novin berjalan seperti pelajar pada umumnya. Sekolah, belajar, mengikuti kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler, berolahraga, menikmati kuliner, serta menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat menjadi bagian dari kesehariannya.
Ia mengaku bukan pribadi yang sejak awal menyukai kegiatan dengan disiplin ketat dan banyak aturan. Namun justru Paskibraka kemudian mengubah cara pandangnya terhadap disiplin.
Bagi Novin, disiplin bukan lagi sekadar menaati aturan. Disiplin adalah bentuk tanggung jawab terhadap pilihan yang telah diambil.
Mengenal Novin Jihan Safira
Nama: Novin Jihan Safira
Sekolah: SMAN 1 Sampit
Kelas: XI
Cita-cita: Polisi Wanita (Polwan)
Orang tua: Kusdaryanta dan Sumarmi
Anak ke: 3
Domisili: Jalan Cilik Riwut KM 3, Sampit
Sebuah Keputusan yang Berawal dari Keraguan
Informasi tentang seleksi Paskibraka Kotawaringin Timur 2026 pertama kali diketahui Novin dari teman-teman dan para purna Paskibraka tahun 2025.
Namun ketika mendengar tentang seleksi tersebut, Novin tidak langsung merasa yakin. Ada rasa takut karena ia mengetahui bahwa seleksi Paskibraka tidak mudah. Apalagi banyak peserta lain yang menurutnya memiliki kemampuan lebih baik.
Sampai akhirnya muncul sebuah pertanyaan sederhana dalam dirinya: bagaimana kalau ia tidak mencoba?
Dari situlah keberanian muncul.
“Coba dulu. Soal lolos atau tidak, itu urusan nanti.”
Kalimat sederhana itu menjadi cara Novin menghadapi ketakutannya. Ia memilih tidak terlalu memikirkan hasil dan berusaha menikmati setiap proses seleksi sambil memberikan kemampuan terbaik.
Tahapan seleksi yang dijalani cukup panjang. Mulai dari pendaftaran online, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), tes kesehatan, parade, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kesamaptaan, wawancara, hingga tes kepribadian.
Salah satu bagian yang paling membuatnya gugup adalah tes unjuk bakat. Pada tahap tersebut, kemampuan harus ditampilkan sementara rasa gugup tetap harus dikendalikan.
Ketika akhirnya dinyatakan lolos, perasaan Novin bercampur aduk. Senang, lega, sekaligus tidak menyangka dirinya bisa sampai ke tahap tersebut. Orang pertama yang diberi tahu adalah keluarga.
Belajar Bertahan Ketika Tubuh Mulai Lelah
Menjadi Paskibraka ternyata bukan hanya tentang berdiri tegap ketika upacara berlangsung. Ada proses panjang yang harus dijalani jauh sebelum tanggal 17 Agustus.
Dalam seminggu, Novin menjalani latihan tiga kali, yaitu pada Rabu, Sabtu, dan Minggu. Di saat yang sama, ia tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai pelajar.
Pada awalnya, membagi waktu terasa berat. Namun perlahan Novin belajar mengatur prioritas. Sekolah tetap dijalankan, ibadah dijaga, komunikasi dengan keluarga tetap dilakukan, sementara latihan juga diikuti dengan sungguh-sungguh.
Dari proses tersebut ia menemukan sebuah pelajaran sederhana: waktu sebenarnya bisa diatur, asalkan seseorang mau bertanggung jawab terhadap apa yang sedang dijalaninya.
Tantangan terbesar datang ketika tubuh mulai lelah, tetapi latihan masih harus berlangsung. Ada saat ketika Novin bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia sanggup bertahan sampai selesai.
Namun kemudian ia melihat teman-teman seperjuangannya yang juga tetap bertahan.
Dari sana Novin menyadari bahwa perjuangan Paskibraka bukan hanya tentang kemampuan individu. Ada kekuatan dari kebersamaan dan saling menguatkan sebagai sebuah tim.
Kesalahan pun tidak luput dari proses tersebut. Novin pernah melakukan kesalahan dalam gerakan maupun ketika mengikuti arahan. Tetapi kesalahan tersebut justru menjadi pelajaran.
Ia belajar untuk lebih fokus dan tidak malu ketika mendapatkan koreksi. Baginya, koreksi bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sabtu, 15 Agustus: Kepercayaan yang Tidak Disangka
Dua hari sebelum pelaksanaan upacara, tepatnya Sabtu, 15 Agustus 2026, datang sebuah kabar yang tidak disangka-sangka.
Pelatihnya, Kak Junedy, menyampaikan bahwa Novin dipercaya menjadi pembawa baki Bendera Merah Putih pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Reaksi pertamanya adalah kaget.
Ada rasa bangga karena mendapatkan kepercayaan tersebut. Namun bersamaan dengan kebanggaan itu muncul pula rasa takut. Novin sadar bahwa membawa baki Bendera Merah Putih bukanlah tugas kecil.
Baginya, tugas itu bukan sekadar membawa sebuah baki. Di dalamnya terdapat simbol yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia.
Kepercayaan itu menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
Persiapan pun dilakukan lebih serius. Novin harus memperhatikan cara berjalan, sikap tubuh, ketenangan, posisi baki, hingga konsentrasi selama menjalankan tugas.
Bagian yang paling sulit baginya adalah menjaga baki agar tetap stabil dan tidak miring. Ia terus berlatih sampai akhirnya mulai mampu melakukannya dengan lebih percaya diri.
Dari sana ia kembali mendapatkan pelajaran penting: rasa siap tidak datang begitu saja. Kesiapan dibentuk dari latihan yang dilakukan berulang-ulang.
Ketika Ribuan Mata Menatap Sang Merah Putih
Senin, 17 Agustus 2026, menjadi hari yang tidak akan mudah dilupakan Novin.
Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan di Stadion 20 November Sampit.
Beberapa menit sebelum upacara dimulai, rasa gugup masih terasa. Padahal latihan telah dilakukan berkali-kali. Namun mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan menjalankan tugas di hadapan banyak orang membuat rasa gugup itu tetap muncul.
Novin kemudian mencoba menenangkan diri. Ia mengingat seluruh latihan yang telah dijalani.
Ketika melangkah, Novin berusaha tidak memikirkan hal-hal lain. Fokusnya hanya satu: menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
Di balik ketenangan yang terlihat dari luar, tersimpan rasa bangga sekaligus haru. Perjalanan yang awalnya hanya dimulai dari keberanian untuk mencoba akhirnya membawanya ke sebuah titik yang sebelumnya mungkin belum pernah ia bayangkan.
Saat Nama Orang Tua Disebut di Hadapan Banyak Orang
Ada satu momen yang paling melekat dalam ingatan Novin.
Ketika orang tuanya melihat dirinya menjadi pembawa baki dan nama Novin beserta nama kedua orang tuanya disebut di hadapan banyak orang penting, muncul perasaan bangga sekaligus haru.
Saat itulah Novin merasa bahwa rasa lelah, teguran, latihan berulang, dan perjuangan selama ini akhirnya menemukan maknanya.
Setelah tugas selesai, rasa lega yang besar muncul. Ia bersyukur karena seluruh rangkaian tugas dapat dilaksanakan dengan baik.
Setelah turun dari lapangan, keluarga dan teman-teman menjadi orang-orang pertama yang ditemuinya. Ada satu hal yang ingin segera disampaikan: terima kasih kepada mereka yang selama ini memberikan dukungan.
Di Balik Pencapaian Itu Ada Banyak Tangan yang Mendukung
Novin menyadari bahwa pencapaian tersebut bukan semata-mata hasil perjuangan dirinya sendiri.
Keluarga memberikan dukungan dan semangat. Sekolah memberikan kesempatan serta kepercayaan. Para pelatih membimbing dan mengajarkan banyak hal. Sementara lingkungan LDII memberikan dukungan moral dan nasihat agar Novin tetap menjaga sikap, tanggung jawab, serta nilai-nilai yang selama ini dipegang.
Bagi Novin, menjadi Paskibraka bukan sekadar berdiri di lapangan pada tanggal 17 Agustus. Paskibraka adalah sebuah proses panjang yang mengajarkan disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kekompakan, dan pengorbanan.
Merah Putih dan Arti Sebuah Tanggung Jawab
Bagi Novin, Merah Putih merupakan simbol perjuangan dan persatuan. Ketika mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan tugas yang berkaitan dengan Bendera Merah Putih, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menghargai perjuangan para pahlawan.
Cara menghargai perjuangan tersebut, menurutnya, adalah dengan berusaha menjadi generasi muda yang lebih baik.
Sebagai generus LDII, pengalaman Paskibraka juga tidak ingin dipandang hanya sebagai sebuah prestasi. Novin ingin menjadikannya sebagai pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Pesan Sang Ayah: Tetap Semangat dan Mempersungguh
Di balik langkah Novin hingga sampai pada titik tersebut, ada keluarga yang terus memberikan dukungan.
Novin merupakan anak ketiga dari pasangan Kusdaryanta dan Sumarmi. Keluarga tersebut tinggal di Jalan Cilik Riwut KM 3, Sampit.
Bagi keluarga, pencapaian Novin menjadi bagian dari perjalanan panjang yang masih harus terus dilanjutkan. Sang ayah, Kusdaryanta, memberikan pesan agar Novin tidak berhenti pada pencapaian hari ini.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir. Ada proses yang lebih panjang setelahnya, termasuk bagaimana menjaga semangat, memperkuat diri dalam agama, dan terus berusaha mengejar cita-cita.
Paskibraka dan Mimpi Menjadi Polwan
Sejak kecil, Novin memiliki cita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan).
Karena itu, pengalaman selama mengikuti Paskibraka terasa sangat relevan dengan impiannya. Kedisiplinan, tanggung jawab, ketegasan, kerja sama, serta ketenangan dalam menjalankan tugas menjadi bekal yang menurutnya penting untuk masa depan.
Paskibraka juga semakin menguatkan keyakinannya bahwa sebuah cita-cita tidak dapat diraih hanya dengan keinginan. Dibutuhkan kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk melewati proses yang tidak selalu mudah.
Dari “coba dulu” menjadi sebuah pengalaman yang akan dibawa Novin dalam mengejar cita-citanya.
Jangan Takut Mengambil Langkah Pertama
Ada satu pesan yang ingin disampaikan Novin kepada anak-anak muda yang ingin berprestasi tetapi masih takut mencoba.
Menurutnya, seseorang tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk memulai. Sebab, terkadang keberanian justru muncul setelah seseorang berani mengambil langkah pertama.
Baginya, kegagalan tetap memberikan pengalaman. Sementara keberhasilan memberikan pencapaian. Karena itu, lebih baik mencoba dan belajar dari prosesnya daripada terus bertanya-tanya bagaimana jika dahulu memilih untuk berani mencoba.
Dari Keraguan, Lahir Sebuah Keberanian
Perjalanan Novin Jihan Safira menuju lapangan upacara pada 17 Agustus 2026 tidak dimulai dengan keyakinan bahwa dirinya pasti berhasil. Semuanya bermula dari keraguan, kemudian sebuah keputusan sederhana untuk mencoba.
Dari seleksi yang panjang, latihan yang melelahkan, kesalahan, koreksi, hingga kepercayaan membawa baki Bendera Merah Putih, Novin menemukan bahwa sebuah pencapaian selalu memiliki cerita panjang di belakangnya.
Kini, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan seorang pelajar kelas XI SMAN 1 Sampit yang masih memiliki jalan panjang untuk mewujudkan cita-citanya menjadi Polwan.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, ketika Novin mengingat kembali 17 Agustus 2026, ia akan selalu mengingat satu hal: bahwa semua itu bermula ketika dirinya yang masih ragu memilih untuk berkata, “Coba dulu.”

