Bina Generasi Muda, LDII Kotim Hadirkan Guru Pondok Wali Barokah Kediri

Pembinaan generasi muda tidak cukup dilakukan sesaat. Ia membutuhkan perhatian, keteladanan, pendampingan, dan kesinambungan agar generasi penerus siap menjaga agama sekaligus melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi.

SAMPIT (29/8) — Masa depan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh kuatnya kepemimpinan hari ini. Lebih dari itu, keberlanjutan organisasi sangat bergantung pada kesiapan generasi penerus yang sejak dini mendapatkan pembinaan secara terarah, intensif, dan berkesinambungan.

Kesadaran itulah yang menjadi dasar bagi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kotawaringin Timur dalam memperkuat pembinaan generasi muda atau generus. Tidak hanya menyiapkan anak-anak dan remaja menjadi generasi yang cerdas, pembinaan juga diarahkan untuk membentuk pribadi yang memiliki pemahaman agama, akhlak, serta kesiapan dalam melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang.

Untuk memperkuat upaya tersebut, DPD LDII Kotawaringin Timur menghadirkan dua guru dari Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, yakni H. Widiarto Ismail dan Zuhal Mufarro. Keduanya memberikan bimbingan, pendampingan, diskusi, serta penguatan kepada para pembina generasi muda di lingkungan LDII Kotim. Bertempat Masjid Al Barokah Sampit dan diikuti secara hybrid oleh PC dan PAC LDII Se Kotawaringin Timur, pada Sabtu (29/8/26)-Minggu(30/8/26).

“Pembinaan generasi penerus merupakan sebuah keniscayaan agar tongkat estafet kepemimpinan dan kelestarian agama dapat terus berjalan dengan baik.”

Dua Hari Memperkuat Pembinaan Generus

Kegiatan pembinaan tersebut dilaksanakan selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 29–30 Agustus 2026. Agenda dirancang untuk memberikan ruang pembelajaran sekaligus refleksi bersama mengenai pentingnya peran seluruh unsur dalam membina generasi penerus.

Pada hari pertama, kegiatan dibagi dalam empat sesi, yakni pagi, siang, sore, dan malam. Berbagai sesi tersebut diisi dengan bimbingan, diskusi, sharing pengalaman, serta wejangan agama yang ditujukan kepada para pembina generasi muda.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur. Mulai dari pengurus organisasi, pakar pendidikan, guru, hingga para orang tua. Mereka memiliki satu kesamaan peran, yakni menjadi bagian penting dalam lingkungan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.

Dalam pembekalan awal, H. Widiarto Ismail mengingatkan bahwa fondasi dalam menuntut ilmu agama harus dimulai dari niat yang benar. Menurutnya, niat bukan hanya ditentukan pada awal seseorang melangkah, tetapi juga harus terus dijaga sepanjang proses menuntut ilmu.

“Harus punya niat, bisa menata niat, dan menjaga niat. Karena sebab keadaan bisa mengubah niat.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa proses pendidikan agama tidak semata-mata berkaitan dengan bertambahnya pengetahuan. Lebih dari itu, ilmu harus memberikan pengaruh terhadap hati, sikap, dan perilaku seseorang.

Ilmu yang Hidup dalam Hati

Widiarto menjelaskan bahwa pembinaan generasi penerus memiliki posisi penting dalam kehidupan beragama dan organisasi. Pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian agama, menyiapkan regenerasi pengurus, menyelamatkan generasi muda dari berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman, serta membentuk anak-anak yang sholih dan sholihah.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya materi yang telah dipelajari. Ilmu harus benar-benar masuk ke dalam hati, dipahami maknanya, lalu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adapun ilmu, maka ilmu dalam hati adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu dipelajari, dipahami, dan diamalkan.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa proses pembinaan generasi muda harus menyentuh tiga unsur penting sekaligus, yakni pengetahuan, pemahaman, dan pengamalan. Ketiganya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi generasi penerus.

Belajar dari Sejarah Kelestarian Islam

Senada dengan pentingnya menjaga kelestarian agama, Zuhal Mufarro turut mengajak peserta melihat perjalanan sejarah Islam di berbagai belahan dunia. Ia mencontohkan bagaimana keberadaan umat Islam di sejumlah wilayah pernah mengalami masa kejayaan, namun kemudian mengalami perubahan besar akibat lemahnya proses regenerasi.

Ia menyinggung sejarah Islam di Spanyol dan Filipina sebagai bahan pembelajaran bagi pentingnya menyiapkan generasi penerus secara serius dan berkelanjutan.

“Karena tidak ada regenerasi, maka kejayaan Islam hanya tinggal nama. Dulunya masjid sekarang menjadi gereja.”

Zuhal, yang merupakan pria kelahiran Purworejo dan kini berdomisili di Kepanjen, Malang, juga menguraikan sejumlah nilai penting dalam kehidupan seorang muslim, di antaranya mengenai hakikat syukur, iman, dan doa.

Ia mengingatkan bahwa setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah memiliki hikmah dan ketentuan-Nya sendiri. Seorang hamba perlu memiliki keyakinan serta kesabaran dalam menunggu ketetapan terbaik dari Allah SWT.

“Doa bisa dikabulkan saat itu juga, ditunda, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik.”

Pembinaan Sesuai Tahapan Usia

Selain pembekalan agama, kegiatan tersebut juga memberikan ruang diskusi mengenai pola pembinaan generasi muda sesuai dengan jenjang usia. Setiap fase pertumbuhan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang tepat.

Dalam sesi diskusi, peserta membahas berbagai kiat pembinaan generasi muda, mulai dari usia dini, masa anak-anak, remaja, hingga generasi yang memasuki usia dewasa dan persiapan pra nikah. Pembahasan juga menyentuh pentingnya penyusunan materi dan kurikulum pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan generasi di setiap tahap perkembangan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara organisasi, tenaga pendidik, pembina, dan orang tua. Sebab, pembentukan generasi yang kuat tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu pihak.

Pembinaan generasi muda menjadi investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun dari proses yang konsisten, keteladanan yang baik, serta pendidikan yang berkesinambungan, akan tumbuh generasi yang memiliki ilmu, akhlak, dan tanggung jawab.

Bagi LDII Kotawaringin Timur, menghadirkan guru Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat kualitas para pembina. Dengan pembina yang memiliki pemahaman dan arah pembinaan yang kuat, generasi penerus diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang sholih dan sholihah, berilmu, berakhlakul karimah, mandiri, serta siap melanjutkan perjuangan dan kepemimpinan di masa depan.

Estafet itu sedang dipersiapkan hari ini. Melalui tangan para guru, pembina, orang tua, dan seluruh elemen organisasi, generasi muda LDII Kotim diharapkan tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga menjadi generasi yang mampu menjaga nilai agama dan menghadapi perubahan zaman dengan penuh keimanan.

LDII Kotawaringin Timur | Pembinaan Generasi Penerus untuk Masa Depan yang Berkelanjutan