Dalam sejarah perjalanan dakwah Islam, sosok Mu’adz bin Jabal dikenal sebagai sahabat yang memiliki kedalaman ilmu dan semangat ibadah yang luar biasa. Namun, sebuah fragmen peristiwa klasik memberikan kita perspektif baru mengenai bagaimana kesalehan pribadi harus berpadu harmonis dengan empati terhadap sesama atau liyan. Peristiwa ini bermula saat Mu’adz mengimami salat Isya bagi kaumnya dengan membacakan surah Al-Baqarah yang cukup panjang, yang kemudian memicu keberatan dari seorang makmum yang merupakan pekerja keras.
⚡ Poin Utama Berita
- Keseimbangan Ibadah: Rasulullah SAW menekankan pentingnya imam memperhatikan kondisi makmum yang bervariasi (lemah, sakit, atau memiliki urusan mendesak).
- Adab Menegur: Teguran Nabi kepada Mu’adz bin Jabal dilakukan secara tegas namun bersifat mendidik (edukatif), bukan untuk mempermalukan.
- Ego dalam Ibadah: Kesalehan pribadi tidak boleh dipaksakan kepada orang lain; memahami hak 'liyan' adalah bagian dari kematangan spiritual.
Kisah ini bermula ketika seorang pria Anshar yang baru pulang bekerja merasa tidak sanggup mengikuti durasi salat Mu’adz yang sangat lama. Pria tersebut memutuskan untuk memisahkan diri dan salat sendirian secara ringkas. Saat kabar ini sampai ke telinga Mu’adz, ia sempat melabeli pria tersebut sebagai seorang munafik. Perselisihan ini akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW dan melahirkan sebuah koreksi fundamental bagi para pemimpin dan ahli ibadah.
Mengapa Rasulullah Menegur Mu’adz bin Jabal Saat Mengimami Salat?
Respons Rasulullah SAW terhadap laporan pria Anshar tersebut sangat lugas. Beliau tidak menyalahkan semangat Mu’adz dalam membaca Al-Qur'an, namun beliau mengoreksi cara Mu’adz dalam menempatkan ibadah tersebut di ruang publik. Nabi SAW memandang bahwa membebani makmum dengan durasi yang berlebihan dapat menimbulkan fitnah atau kerusakan dalam agama.
"Wahai Mu’adz, apakah engkau hendak membuat kerusakan/fitnah?" ujar Nabi ﷺ yang diulang hingga tiga kali, sebagaimana diriwayatkan oleh HR. Bukhari dan Muslim.
Beliau kemudian memberikan instruksi teknis agar dalam salat berjamaah, imam memilih surah-surah yang lebih ringkas seperti Surah Wasy-Syamsi wadhuhaha atau Al-A’la. Pesan ini bukan berarti merendahkan kualitas ibadah, melainkan sebuah bentuk kasih sayang kepada umat agar mereka tidak merasa terbebani oleh agama itu sendiri.
Pentingnya Memahami Kondisi 'Liyan' dalam Kehidupan Beragama
Seorang imam atau pemimpin tidak sedang berdiri sendirian di hadapan Sang Pencipta; ia sedang membawa rombongan. Dalam rombongan itu, ada orang tua yang fisiknya mulai merenta, ada orang sakit yang menahan nyeri, ada ibu yang gelisah memikirkan anaknya, hingga pekerja yang tubuhnya lelah setelah seharian membanting tulang. Di sinilah kebijaksanaan atau hikmah diperlukan.
Rasulullah ﷺ memberikan batasan yang jelas melalui sabdanya:
"Apabila salah seorang di antara kalian mengimami manusia, hendaklah ia meringankan shalatnya, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan lanjut usia. Namun apabila ia shalat sendirian, silakan ia memanjangkannya sesuai kehendaknya," tegas Nabi ﷺ.
Ketentuan ini mengajarkan bahwa hak pribadi untuk menikmati ibadah yang panjang harus dibatasi saat melibatkan kepentingan publik. Apa yang menurut kita baik secara personal, belum tentu relevan jika dipaksakan menjadi beban bagi orang lain.
Seni Menegur dan Menerima Koreksi Tanpa Melibatkan Ego
Menarik untuk mencermati reaksi Mu’adz bin Jabal. Sebagai seorang ulama di kalangan sahabat, ia tidak membela diri dengan alasan "sedang ibadah" atau "makmum yang kurang sabar". Ia menerima teguran tersebut dengan lapang dada. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menanggalkan egonya demi kebenaran.
Di sisi lain, Rasulullah mengajarkan bagaimana cara meluruskan kesalahan tanpa menghancurkan karakter pelakunya. Beliau menegur kesalahan Mu’adz, namun tetap menjaga kehormatannya sebagai sahabat mulia. Pola ini juga terlihat saat Nabi menangani kasus seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid. Nabi melarang para sahabat bertindak kasar, membiarkan orang tersebut menyelesaikan hajatnya, baru kemudian memberikan edukasi dengan lembut. Strategi ini memastikan bahwa kesalahan diperbaiki tanpa melahirkan permusuhan baru yang lebih besar.
Menyeimbangkan Kesalehan Pribadi dengan Rahmat bagi Sesama
Islam tidak menginginkan kesalehan yang justru menghancurkan keseimbangan hidup atau menjauhkan manusia dari Tuhan karena merasa agama terlalu berat. Dakwah yang bijak adalah dakwah yang tidak membuat orang takut, tidak membuat orang merasa hina, dan tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.
Pelajaran dari Mu’adz bin Jabal menyadarkan kita bahwa tujuan akhir ibadah adalah melembutkan hati. Tanda seseorang semakin dekat dengan Allah bukan hanya terlihat dari durasi salatnya, melainkan dari seberapa besar rasa rendah hati, kasih sayang, dan kebijaksanaannya dalam berinteraksi dengan sesama makhluk. Hikmah adalah kuncinya: ilmu memberitahu kita apa yang benar, sementara hikmah memberitahu kita bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat.
📖 Glosarium Istilah
- Liyan: Istilah yang merujuk pada pihak lain, orang lain, atau sesama di luar diri subjek.
- Fitnah: Dalam konteks hadis ini, merujuk pada perbuatan yang menyebabkan orang lain merasa berat, benci, atau menjauh dari ajaran agama.
- Hikmah: Kebijaksanaan dalam memahami rahasia di balik hukum-hukum Allah serta ketepatan dalam bertindak.
- Anshar: Golongan sahabat Nabi yang berasal dari Madinah yang menyambut dan membantu kaum Muhajirin.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.