3 Pengibar Bendera Cilik SD Baitul Ilmi: Kisah Nayra, Hasna, dan Dyastika di HUT RI ke-81 LDII Kotim

3 Pengibar Bendera Cilik SD Baitul Ilmi: Kisah Nayra, Hasna, dan Dyastika di HUT RI ke-81

3 Pengibar Bendera Cilik SD Baitul Ilmi di Balik Khidmat Upacara HUT RI ke-81

Ada pemandangan berbeda yang mencuri perhatian dalam Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia yang dilaksanakan DPD LDII Kotawaringin Timur, Senin, 17 Agustus 2026. Di tengah barisan peserta upacara, tiga gadis kecil yang usianya bahkan belum genap 10 tahun berdiri tegap dengan seragam petugas pengibar bendera.

Mereka bukan siswa sekolah menengah yang biasanya identik dengan tugas tersebut. Mereka adalah tiga siswi kelas 2 SD Baitul Ilmi Sampit yang mendapat kepercayaan untuk mengibarkan Sang Merah Putih. Siapa mereka, dan bagaimana kisah mereka hingga mampu berdiri percaya diri di hadapan peserta upacara?

Tiga Nama Kecil di Balik Sang Merah Putih

Ketiga siswi tersebut adalah Nayra Azkadina Azzahra, 8 tahun, Hasna Annaila Aisya, 7 tahun, dan Dyastika Zelinda Az-Zifrani, 8 tahun.

Ketiganya mendapat tugas menjadi pengibar bendera pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh DPD LDII Kotawaringin Timur di halaman Masjid Al Barokah Sampit.

Bagi mereka, tugas tersebut awalnya menghadirkan perasaan campur aduk. Ada rasa senang dan bangga karena dipercaya, tetapi juga ada ketakutan akan melakukan kesalahan. Namun, mereka memilih menjalaninya dengan ikhlas karena menyadari bahwa kesempatan tersebut merupakan bagian dari proses belajar.

“Awalnya senang dan ikhlas dipilih karena hal ini membuat mereka belajar, walaupun takut di pertengahan.”

Bukan Sekadar Berdiri di Depan Tiang Bendera

Menjadi pengibar bendera ternyata bukan perkara sederhana bagi tiga anak kelas 2 SD. Ada banyak gerakan yang harus dipelajari dan dihafalkan. Mulai dari gerak jalan di tempat, berjalan, berpindah haluan, hingga memahami aba-aba.

Latihan dilakukan cukup intensif. Dalam satu minggu mereka bisa berlatih hingga empat kali pada pagi hari. Latihan juga dilakukan pada hari Sabtu bersama Bu Endah.

Dari ketiganya, Dyastika memiliki pengalaman sedikit berbeda. Ia mengaku sudah terbiasa menjadi petugas pengibar bendera setiap hari Senin di sekolah. Sementara Hasna dan Nayra belum pernah sama sekali menjalankan tugas tersebut.

Meski begitu, pengalaman Dyastika tidak serta-merta membuat tugas mereka menjadi mudah. Ketiganya mengaku sering merasa gugup dan takut salah, terutama ketika harus melakukan gerakan secara bersamaan.

“Tarik Napas, Buang Napas”

Di balik latihan yang berulang, ada satu hal penting yang terus diajarkan pembimbing mereka, Rizky Putri Wulan Ramadhani, S.Pd.: ketenangan.

Ketika rasa gugup datang, ketiganya diminta menarik napas dan membuangnya perlahan. Mereka juga diarahkan untuk tidak terlalu memikirkan banyaknya orang yang berada di hadapan mereka.

“Tarik napas dan buang napas, lalu abaikan apa yang ada di depan. Anggap seperti teman yang ada di kelas,” menjadi salah satu cara Bu Wulan membantu mereka mengatasi rasa gugup.

Pesan lainnya adalah memperhatikan tempo dan tetap bersikap profesional ketika terjadi kesalahan. Jika salah, mereka diminta mengikuti teman di sebelahnya dan kembali melanjutkan gerakan.

Dari Tidak Bisa Menjadi Bisa

Bagi Bu Wulan, proses latihan ketiganya menjadi perjalanan belajar yang menarik. Mereka datang bukan sebagai anak-anak yang sudah menguasai gerakan paskibra, melainkan belajar dari dasar.

“Dari yang tidak tahu caranya gerak jalan jadi tahu cara gerak jalan. Dari yang tidak tahu caranya mengikat jadi tahu caranya mengikat, dan dari yang tidak tahu caranya aba-aba menjadi tahu caranya aba-aba dan hafal setiap ucapannya,” ungkap Bu Wulan.

Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk belajar bertanggung jawab. Dengan latihan, bimbingan, dan dukungan orang tua, ketiga siswi tersebut perlahan mampu menguasai tugas yang sebelumnya terasa asing.

Dipilih Bukan Tanpa Alasan

Bu Wulan menjelaskan bahwa pemilihan Nayra, Hasna, dan Dyastika tidak dilakukan secara sembarangan. Salah satu pertimbangannya adalah kesesuaian tinggi badan dan rasa percaya diri mereka.

Ketiganya juga memiliki karakter yang mendukung proses latihan. Mereka dinilai ceria, dapat diatur, dan cepat belajar.

Menariknya, Bu Wulan sendiri mengaku masih dalam tahap belajar. Ia mendapat banyak arahan dari Bu Regy dan Bu Endah karena sudah cukup lama tidak mengingat kembali dasar-dasar gerakan paskibra.

“Jujur saya juga sudah lupa dalam hal dasar gerakan paskibra,” ungkapnya.

Justru dari proses tersebut terlihat bahwa kegiatan ini bukan hanya menjadi ruang belajar bagi ketiga siswi, tetapi juga bagi pembimbingnya.

Ketika Sang Merah Putih Mulai Naik

Hari yang selama ini mereka persiapkan akhirnya tiba.

Pada 17 Agustus 2026, ketiganya berdiri di hadapan peserta upacara. Kali ini bukan lagi halaman sekolah dan bukan sekadar latihan. Di hadapan mereka ada banyak orang yang menyaksikan setiap langkah dan gerakan.

Gugup tentu masih terasa. Namun, latihan yang dilakukan berkali-kali membuat mereka mampu menjalankan tugas hingga Sang Merah Putih berhasil dikibarkan.

Perasaan mereka setelah bendera berkibar pun sederhana: senang dan lega.

Bahkan setelah tugas selesai, pikiran mereka kembali menjadi seperti anak-anak seusianya. Ada keinginan untuk segera beristirahat, sekaligus rasa penasaran yang polos: “Bagus enggak ya aku ngibarin tadi?”

Terharu Melihat Hasil Latihan

Bagi Bu Wulan, momen ketika melihat ketiga anak didiknya mengibarkan bendera menjadi bagian paling berkesan selama proses pendampingan.

Ada rasa haru ketika melihat apa yang selama ini dilatih akhirnya membuahkan hasil.

“Momen paling berkesan saat mereka mengibarkan bendera di hari 17 Agustus. Di situ saya cukup terharu, karena selama ini saya belajar dan mengajari mereka telah membuahkan hasil yang memuaskan, apalagi di usia mereka yang terbilang sangat kecil.”

Perasaan haru tersebut bukan semata karena tugas berhasil diselesaikan. Lebih dari itu, ada perjalanan panjang dari anak-anak yang belum mengetahui dasar gerakan, kemudian belajar, berlatih, melakukan kesalahan, memperbaikinya, hingga akhirnya mampu menjalankan tugas di hadapan banyak orang.

Tiga Cita-Cita, Satu Semangat

Pengalaman menjadi pengibar bendera ternyata meninggalkan kesan bagi ketiganya. Ketika ditanya apakah mereka ingin kembali menjadi pengibar bendera jika mendapat kesempatan, jawabannya singkat namun penuh semangat: Insyaallah.

Namun, masing-masing memiliki cita-cita yang berbeda.

  • Dyastika Zelinda Az-Zifrani bercita-cita menjadi mubalighot.
  • Hasna Annaila Aisya ingin menjadi seorang YouTuber.
  • Nayra Azkadina Azzahra ingin menjadi koki sekaligus mubalighot.

Tiga cita-cita yang berbeda itu menjadi gambaran bahwa di balik seragam kecil dan langkah-langkah tegap mereka, tersimpan mimpi besar yang sedang tumbuh.

Pelajaran yang Lebih Besar dari Sebuah Upacara

Kisah Nayra, Hasna, dan Dyastika bukan hanya tentang tiga anak yang berhasil mengibarkan bendera. Ada pelajaran tentang keberanian menerima tanggung jawab, kemauan untuk belajar, disiplin dalam berlatih, serta keberanian untuk tetap melangkah meskipun rasa gugup belum sepenuhnya hilang.

Di usia 7 dan 8 tahun, mereka mungkin belum sepenuhnya memahami luasnya makna perjuangan kemerdekaan. Tetapi melalui langkah kecil mereka di halaman Masjid Al Barokah Sampit, mereka sedang belajar mengenal arti tanggung jawab, kebersamaan, kedisiplinan, dan cinta kepada Tanah Air.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika mereka sudah tumbuh dewasa, ada satu kenangan yang akan tetap tersimpan: pagi 17 Agustus 2026, ketika tiga gadis kecil dari kelas 2 SD Baitul Ilmi berdiri tegap dan dengan penuh keberanian membantu mengibarkan Sang Merah Putih.

Pesan Bu Wulan kepada ketiga siswinya pun sederhana namun bermakna: terus belajar. Jika ada yang belum bisa, jangan malu untuk dibantu, dibimbing, dan diajarkan. Sebab setiap pengalaman yang dijalani hari ini dapat menjadi bekal untuk menghadapi kesempatan berikutnya.

“Suatu saat jika ada pengibaran seperti ini lagi, usahakan masih diingat setiap langkah yang pernah diajarkan.”

Tiga gadis kecil, tiga langkah tegap, satu Sang Merah Putih.
Sebuah pengalaman kecil hari ini, yang mungkin kelak menjadi kenangan besar dalam perjalanan hidup mereka.