Tantangan AI dan Perubahan Iklim: LDII DIY Siapkan SDM Profesional Religius Menuju Indonesia Emas 2045

Tantangan AI dan Perubahan Iklim: LDII DIY Siapkan SDM Profesional Religius Menuju Indonesia Emas 2045
foto: ilustrasi
  • SLEMAN – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan urgensi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi religius yang kokoh. Langkah strategis ini diambil guna menjawab turbulensi zaman yang dipicu oleh ledakan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital yang masif, hingga ancaman krisis iklim yang kian nyata mengancam ketahanan nasional.

    Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, memaparkan pandangan tersebut dalam acara Media Gathering Pra Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII DIY yang berlangsung di Resto Makan di Sawah, Sleman, Sabtu (25/7/2026). Muswil VIII yang mengusung tema “Penguatan SDM Profesional Religius untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan dan Budaya dalam Mendukung Pancamulia Daerah Istimewa Yogyakarta” diproyeksikan menjadi kompas bagi kontribusi organisasi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

    Menjawab Tantangan Teknologi dan Krisis Pangan

    Dunia saat ini sedang berada dalam persimpangan jalan akibat disrupsi teknologi. Menurut Atus, kompetensi akademik semata tidak lagi memadai untuk menavigasi kompleksitas masa depan. Bangsa Indonesia memerlukan generasi yang adaptif namun tetap memegang teguh integritas moral.

    “Muswil akan menyoroti pembangunan SDM profesional religius, karena kami memandang era kecerdasan buatan dan transformasi digital, bonus demografi, dan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, termasuk mengancam ketahanan pangan, tidak cukup dihadapi bangsa Indonesia dengan hanya mengandalkan kompetensi akademik,” ujar Atus Syahbudin.

    Ia menambahkan bahwa kualitas SDM masa depan harus mencakup literasi digital yang mumpuni serta kearifan dalam bersosial media. Lebih jauh, Atus menekankan pentingnya gaya hidup berkelanjutan sebagai tameng menghadapi krisis lingkungan.

    “Tantangan bangsa hari ini bukan hanya bagaimana mencetak SDM yang cerdas dan adaptif terhadap teknologi, tetapi juga SDM yang berintegritas, berliterasi digital, bijak bermedsos, serta mengusung gaya hidup berkelanjutan guna pelestarian lingkungan yang lebih bersih, sehat dan hijau. Untuk itu, Muswil VIII menjadi momentum memperkuat kontribusi LDII dalam menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045,” tuturnya.

    Implementasi Delapan Bidang Pengabdian

    Komitmen LDII dalam membangun bangsa diwujudkan melalui delapan klaster bidang pengabdian yang menjadi tulang punggung program kerja organisasi. Kedelapan bidang tersebut meliputi wawasan kebangsaan, dakwah, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan herbal, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, teknologi digital, serta energi baru terbarukan.

    Dalam sektor pendidikan, LDII DIY telah mengambil langkah konkret dengan mengembangkan model boarding school seperti SMA Insan Mulia Boarding School (IMBS) Yogyakarta dan SMP Al Karima. Lembaga pendidikan ini tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan umum, tetapi juga mengintegrasikan pembinaan karakter melalui sistem 29 Karakter Luhur.

    Di ranah ekonomi, penguatan literasi keuangan syariah menjadi prioritas melalui optimalisasi peran KSPPS-P Budi Pekerti Luhur (Bupelur), Baitul Maal wat Tamwil (BMT), serta koperasi pondok pesantren. Hal ini bertujuan menciptakan kemandirian ekonomi umat yang berbasis syariah di tengah fluktuasi ekonomi global.

    Pelopor Ketahanan Lingkungan: Dari Sampah hingga Kampung Iklim

    LDII DIY juga menunjukkan tajinya dalam isu lingkungan. Gerakan inovatif seperti “Kyai Peduli Sampah” dan “Sedekah Sampah Akbar” telah berhasil menggerakkan akar rumput. Hingga tahun 2023, tercatat ada 313 Kelompok Sedekah Sampah berbasis masjid yang telah diinisiasi, mengubah sampah menjadi nilai jariyah bagi masyarakat.

    “Komitmen lingkungan juga diwujudkan melalui pengembangan dan pendampingan intensif dua lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim). Padukuhan Sangurejo, Sleman, menjadi salah satu contoh keberhasilan program tersebut. Sangurejo sebelumnya meraih ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2024, kemudian mendapat penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY,” ujar Atus Syahbudin.

    Prestasi serupa juga diraih oleh Padukuhan Kembang di Kulon Progo yang menyabet Sertifikat ProKlim Utama 2025. Selain itu, warga LDII di Gunungkidul telah berhasil mengembangkan ketahanan pangan mandiri melalui budidaya lele dengan formula pakan herbal “Ramuan Barokah 354”.

    Momentum Konsolidasi Nasional

    Hadir dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, memberikan apresiasi tinggi terhadap visi yang diusung oleh LDII DIY. Ia menilai keselarasan antara bonus demografi dan persiapan menuju 2045 harus dikelola dengan sangat serius melalui penguatan delapan bidang pengabdian.

    “Sebagai anak bangsa harus mampu memanfaatkan dua momen dalam pembangunan manusia, yaitu bonus demografi dan Indonesia Emas 2045. Saya mengapresiasi tema Muswil VIII LDII DIY. Hal ini sangat relevan dan penting untuk disikapi,” ujar Dody Taufiq Wijaya.

    Dody juga mengingatkan bahwa pembangunan SDM yang hebat tidak akan berarti tanpa adanya stabilitas nasional. Oleh karena itu, wawasan kebangsaan harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas organisasi. Menurutnya, rasa nasionalisme yang kuat adalah syarat mutlak agar program strategis organisasi dapat berjalan dengan aman dan lancar.

    “Tanpa wawasan kebangsaan, stabilitas akan terganggu, termasuk dalam aspek ibadah,” pungkas Dody Taufiq Wijaya.

    Melalui perhelatan Muswil VIII ini, LDII DIY bertekad mengukuhkan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan visi Pancamulia DIY. Fokus pada SDM profesional religius diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian global dan dinamika teknologi di masa depan.

  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.