Strategi LDII Nganjuk Perkuat Literasi Digital Generasi Muda Guna Tangkal Hoaks

Strategi LDII Nganjuk Perkuat Literasi Digital Generasi Muda Guna Tangkal Hoaks

NGANJUK — Menghadapi tantangan disinformasi yang kian masif di ruang siber, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Nganjuk mengambil langkah proaktif dengan membekali generasi mudanya melalui seminar literasi digital. Agenda bertajuk “Generasi Cerdas, Media Berkualitas: Membangun Karakter Luhur dan Menjaga Persatuan Bangsa di Era Digital” ini digelar pada Minggu (28/6) sebagai upaya konkret dalam menanamkan etika berkomunikasi serta menjaga keutuhan bangsa di tengah arus informasi yang tak terbendung.

Etika sebagai Fondasi Utama di Ruang Publik Digital

Dalam sambutannya, Ketua DPD LDII Nganjuk, Murkani, menekankan bahwa media sosial saat ini bukan sekadar alat untuk bertukar pesan. Lebih dari itu, platform digital telah bertransformasi menjadi ruang publik yang sangat dinamis, di mana setiap individu memiliki tanggung jawab moral atas apa yang mereka bagikan.

“Media sosial tidak hanya menjadi sarana berkomunikasi, tetapi juga ruang publik yang menuntut tanggung jawab dari setiap penggunanya,” papar Murkani saat memberikan arahan di hadapan para peserta.

Murkani menjelaskan bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan karakter yang kuat. Tanpa adanya saringan etika, media sosial justru berpotensi menjadi bumerang yang merusak kerukunan. Menurutnya, setiap informasi yang masuk ke dalam gawai tidak boleh langsung ditelan mentah-mentah, melainkan harus melalui proses verifikasi yang ketat agar tidak menjadi mata rantai penyebaran berita bohong atau hoaks.

Membangun Kecakapan Digital dan Karakter Luhur

LDII Nganjuk memandang bahwa generasi muda memegang peran kunci sebagai motor penggerak harmoni di dunia maya. Tak cukup hanya memiliki kecakapan teknis dalam mengoperasikan gadget, mereka juga dituntut memiliki kedewasaan berpikir agar mampu menggunakan teknologi demi kemaslahatan bersama.

“Media sosial semestinya dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, dakwah, dan mempererat silaturahmi. Karena itu, generasi muda didorong tidak hanya memiliki kecakapan memanfaatkan teknologi, tetapi juga karakter yang mampu menjaga persatuan dan kerukunan di ruang digital,” ungkap Murkani secara mendalam.

Harapannya, melalui pembekalan ini, pemuda LDII dapat tampil sebagai pengguna internet yang kritis, santun dalam bertutur kata di kolom komentar, serta aktif memproduksi konten-konten positif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Metode T.H.I.N.K dan STOP: Senjata Ampuh Verifikasi Informasi

Seminar ini juga menghadirkan para ahli dari internal organisasi untuk memberikan materi teknis. Anggota Bagian Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPD LDII Nganjuk, Anggit Dema Alfaridzi dan Reza Adi Permanan, bersama anggota Bagian Hubungan Antarlembaga, Wahyu Nurhadi, secara bergantian mengupas tuntas strategi menjaga jejak digital agar tetap bersih.

Ketiga pemateri tersebut menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan sebelum menekan tombol share. Para peserta diperkenalkan pada dua metode praktis yang sangat krusial dalam dunia literasi digital:

  • Metode T.H.I.N.K: Sebuah panduan evaluatif sebelum mengunggah konten, yang memastikan informasi tersebut True (Benar), Helpful (Bermanfaat), Inspiring (Menginspirasi), Necessary (Penting), dan Kind (Santun).
  • Metode STOP: Langkah sistematis untuk mengenali disinformasi dengan cara berhenti sejenak saat menerima informasi yang provokatif, kemudian melakukan verifikasi sumber guna memutus rantai hoaks.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini diharapkan mampu membentuk ekosistem digital yang lebih sehat di Kabupaten Nganjuk, di mana para pemuda berdiri di garda terdepan sebagai pembawa pesan perdamaian dan kebenaran.

Glossary: Istilah Literasi Digital

  • Literasi Digital: Kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber digital secara efektif dan etis.
  • Hoaks (Hoax): Informasi bohong atau berita palsu yang sengaja dibuat untuk menipu atau memanipulasi persepsi publik.
  • Jejak Digital: Rekam jejak aktivitas seseorang di internet yang sulit dihapus, mencakup unggahan, komentar, hingga riwayat pencarian.
  • Disinformasi: Informasi salah yang disebarkan secara sengaja untuk mengelabui atau merugikan pihak lain.
  • Verifikasi: Proses pemeriksaan kembali kebenaran suatu data atau informasi melalui sumber yang tepercaya.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.