Yogyakarta – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Daerah Istimewa Yogyakarta terus memperkuat langkah nyata dalam pelestarian lingkungan melalui serangkaian program pengabdian berbasis masyarakat. Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII tahun 2026, ormas keagamaan ini menyoroti integrasi antara pembangunan sumber daya manusia yang religius dengan ketahanan ekologi, mulai dari pembinaan Program Kampung Iklim (ProKlim) hingga gerakan pengelolaan limbah domestik yang bernilai spiritual.
Sinergi SDM Profesional dan Kelestarian Ekosistem
Langkah ini selaras dengan visi besar Muswil VIII LDII DIY yang mengusung tema penguatan SDM profesional religius guna mewujudkan ketahanan lingkungan dan budaya dalam bingkai Pancamulia DIY. Di mata LDII, menjaga bumi bukan sekadar urusan teknis lingkungan, melainkan manifestasi dari keimanan yang diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, menekankan bahwa penyelesaian krisis lingkungan memerlukan kolaborasi lintas sektor yang menyentuh akar rumput. LDII memilih jalur edukasi yang sederhana namun berdampak masif dan berkelanjutan.
“Lingkungan adalah ruang hidup bersama. Menjaganya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian kita kepada masyarakat. Karena itu, LDII terus mengembangkan gerakan-gerakan yang mampu membangun kesadaran sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial,” ujar Atus Syahbudin yang juga merupakan akademisi di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dakwah Lingkungan: Kyai Peduli Sampah dan Sedekah Sampah
Salah satu terobosan unik yang terus digaungkan adalah Gerakan Kyai Peduli Sampah. Program ini memposisikan tokoh agama sebagai garda terdepan atau role model dalam literasi pengelolaan sampah. Para dai tidak hanya bertugas menyampaikan risalah keagamaan di atas mimbar, tetapi juga aktif memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Konsep ini kemudian diperluas melalui program Sampah Jadi Jariyah dan Sedekah Sampah Akbar. Inisiatif ini mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah; yang semula dianggap kotoran tak berguna menjadi media amal yang produktif. Sampah yang telah terpilah dikumpulkan melalui bank sampah, dan hasilnya dialokasikan untuk kepentingan sosial, seperti pembangunan fasilitas umum dan pemberdayaan ekonomi warga.
Mengenai pergeseran paradigma ini, Atus Syahbudin menjelaskan bahwa ada nilai transendental di balik setiap kilogram sampah yang terkelola.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan baik. Ketika hasil pengelolaannya digunakan untuk membantu sesama, maka sampah pun dapat menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir,” tutur pakar kehutanan tersebut.
Tak berhenti di sana, LDII DIY juga memperkenalkan metode Jugangan Ing Omah (Jugangin Om) dan Jugangan Ing Masjid (Jugangin Mas). Melalui pembuatan lubang biopori atau jugangan tradisional, sampah organik diolah secara alami menjadi kompos. Cara ini terbukti efektif mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus meningkatkan daya serap air tanah dan kesuburan tanah di sekitar pemukiman atau tempat ibadah.
Capaian Gemilang di Panggung Nasional
Pengabdian LDII DIY membuahkan apresiasi tinggi dari pemerintah pusat maupun daerah. Di Kabupaten Sleman, Padukuhan Sangurejo yang menjadi binaan LDII berhasil menyabet Trofi ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Prestasi ini terus menanjak, di mana pada tahun 2026, kawasan ini meraih predikat Padukuhan Tangguh Iklim tingkat DIY dan kini tengah diunggulkan sebagai nominator ProKlim Lestari—kategori tertinggi dalam hierarki Program Kampung Iklim nasional.
Keberhasilan serupa juga tercatat di Kabupaten Kulon Progo. Padukuhan Kembang berhasil meraih Sertifikat ProKlim Utama Tahun 2025 berkat konsistensi warga dalam menjalankan program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kesuksesan ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara LDII dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), DLHK DIY, serta akademisi perguruan tinggi.
Inovasi Ketahanan Pangan di Gunungkidul
Bergeser ke wilayah Gunungkidul, kepedulian lingkungan LDII bersenyawa dengan strategi ketahanan pangan. Warga setempat mengembangkan budidaya ikan lele dengan sentuhan teknologi lokal berupa Ramuan Barokah 354. Pakan yang diperkaya dengan empon-empon (herbal tradisional) ini mampu menekan aroma amis pada kolam dan meningkatkan kualitas daging ikan, menjadikannya solusi pangan mandiri yang ramah lingkungan.
Seluruh rangkaian program ini merupakan wujud nyata dari dakwah bil hal atau dakwah dengan perbuatan. LDII DIY berharap model pengabdian ini dapat terus direplikasi dan dikolaborasikan dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Kami ingin menghadirkan dakwah yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketahanan lingkungan dan ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun sumber daya manusia yang profesional religius,” pungkas Atus Syahbudin dalam keterangannya.
🔍 Glossary: Istilah Lingkungan LDII DIY
- ProKlim (Program Kampung Iklim): Inisiatif nasional untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal.
- Dakwah Bil Hal: Metode dakwah atau ajakan kebaikan yang dilakukan melalui aksi nyata atau keteladanan perilaku, bukan sekadar lisan.
- Biopori/Jugangan: Lubang resapan silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode pembuangan sampah organik dan resapan air.
- Amal Jariyah: Perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir bagi pelakunya meskipun ia telah meninggal dunia karena manfaatnya yang berkelanjutan.
- Empon-empon: Kelompok tanaman rimpang seperti jahe, kunyit, dan temulawak yang digunakan untuk ramuan herbal dalam pakan ternak/ikan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.