MATARAM — Muslihun, seorang warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), secara resmi menyandang gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Penelitiannya yang mendalam menyoroti fenomena sosial kontemporer yang kian kompleks, yakni upaya pencegahan perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) melalui integrasi nilai-nilai agama dan prinsip psikologi humanistik.
Dalam pemaparannya di hadapan dewan penguji, Muslihun menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan selama ini seringkali hanya menyentuh permukaan tanpa memahami akar psikologis dan spiritual pelakunya. Melalui model "Humanistik-Religius", ia menawarkan sebuah paradigma baru yang menitikberatkan pada penguatan identitas diri serta pemahaman nilai-nilai ketuhanan sebagai pondasi utama perilaku manusia.
Urgensi Ketahanan Keluarga dalam Menghadapi Arus Sosial
Disertasi tersebut menggarisbawahi bahwa keluarga merupakan benteng pertahanan pertama dan utama. Muslihun berargumen bahwa kerentanan terhadap pengaruh perilaku menyimpang seringkali bermula dari rapuhnya komunikasi dan kasih sayang di lingkungan domestik. Oleh karena itu, pendekatan humanistik diperlukan untuk membangun kepercayaan diri individu, sementara sisi religius memberikan arah moral yang jelas.
"Pencegahan fenomena LGBT tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang bersifat intimidatif atau sekadar memberikan stigma negatif. Sebaliknya, diperlukan sentuhan humanistik yang dipadukan dengan pemahaman agama yang mendalam agar individu memiliki kesadaran internal untuk menjaga fitrahnya sebagai manusia," ujar Muslihun dalam keterangannya pasca sidang terbuka tersebut.
Strategi yang ia tawarkan melibatkan sinergi antara institusi pendidikan, tokoh agama, dan lingkungan sosial. Muslihun melihat bahwa selama ini ada kesenjangan antara teori psikologi yang cenderung bebas nilai dengan doktrin agama yang terkadang kaku dalam penyampaiannya. Penelitian ini mencoba menjembatani kedua kutub tersebut agar menghasilkan solusi praktis yang dapat diterapkan di masyarakat luas.
Apresiasi Akademisi dan Kontribusi bagi Masyarakat
Keberhasilan Muslihun meraih gelar doktor ini tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga dinilai sebagai kontribusi nyata bagi dunia akademis dalam menjawab problematika sosial yang sensitif. Para penguji mengapresiasi keberaniannya mengangkat isu LGBT dari sudut pandang pencegahan yang sistematis dan berbasis riset lapangan.
Muslihun juga menekankan pentingnya peran organisasi kemasyarakatan seperti LDII dalam mengedukasi warganya secara berkelanjutan. Pendidikan karakter yang berbasis pada "Tri Sukses" LDII—yakni alim-faqih, berakhlakul karimah, dan mandiri—dipandang sejalan dengan temuan risetnya mengenai penguatan integritas individu.
"Kehadiran disertasi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi para praktisi pendidikan dan dakwah dalam membimbing generasi muda agar tetap berada pada koridor norma yang berlaku di Indonesia," tambah Muslihun dengan nada optimis.
Keberhasilan ini menambah daftar panjang kader LDII yang berkontribusi dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui pemikiran-pemikiran yang ilmiah namun tetap berpegang teguh pada nilai religius, diharapkan solusi atas berbagai tantangan moral bangsa dapat ditemukan dan diimplementasikan secara efektif demi masa depan generasi penerus yang lebih baik.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.