YOGYAKARTA — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Daerah Istimewa Yogyakarta secara resmi menyelenggarakan Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Yogyakarta, pada Minggu (26/7). Dalam forum krusial ini, Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, menegaskan komitmen kolektif organisasi untuk menyelaraskan seluruh program kerja dengan visi strategis Pemerintah Daerah DIY, yakni "Pancamulia", serta target global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Langkah taktis ini diambil sebagai respons organisasi terhadap tantangan zaman, sekaligus upaya nyata dalam memperkuat fondasi pembangunan daerah menuju Indonesia Emas 2045. Muswil VIII ini tidak sekadar menjadi ajang pergantian kepengurusan, melainkan momentum refleksi atas kontribusi sosial dan lingkungan yang telah dilakukan selama ini.
Filosofi Bangunan: Inovasi Arsitektur Tanpa Tiang
Ada yang unik dalam gelaran Muswil kali ini. Lokasi acara, Gedung Serbaguna Mantrijeron, dipresentasikan oleh Atus sebagai representasi semangat inovasi warga LDII. Gedung ini memiliki struktur jembatan tanpa tiang penyangga di bagian tengah—sebuah karya arsitektural dari kader LDII yang sebelumnya memiliki jam terbang tinggi dalam membangun infrastruktur di Papua.
"Di gedung ini ada jembatan yang tidak memiliki sungai. Desain tersebut dibuat untuk menjaga keamanan struktur bangunan, khususnya menghadapi potensi gempa di Yogyakarta,"
Ketangguhan bangunan terhadap guncangan tektonik menjadi prioritas, mengingat Yogyakarta berada dalam zona rawan gempa. Namun, aspek keamanan bukan satu-satunya keunggulan. Gedung ini juga menerapkan sistem ekologis yang canggih.
Implementasi Ekoteologi melalui Pemanenan Air Hujan
Sejalan dengan prinsip kelestarian alam, gedung tersebut mengadopsi sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Air yang jatuh di atap tidak dibuang percuma ke saluran drainase kota, melainkan dialirkan ke bak penampungan untuk kebutuhan sanitasi dan wudhu. Penggunaan air sumur hanya dilakukan sebagai alternatif terakhir ketika cadangan air hujan habis.
"Ini merupakan ikhtiar kami dalam mendukung kehidupan yang berkelanjutan agar bumi tetap sehat, hijau, dan lestari,"
Praktik ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai religiusitas dapat diintegrasikan dengan kesadaran lingkungan, menciptakan ekosistem peribadatan yang ramah alam.
Implementasi Panca Mulia: Dari Budaya hingga Ekonomi Syariah
Atus menjabarkan secara mendetail bagaimana LDII DIY membedah konsep Pancamulia milik Pemda DIY ke dalam program aksi nyata. Pada pilar Mulia Kebudayaan, organisasi fokus pada penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal. Salah satunya melalui pengajian yang menggunakan terjemahan Al-Qur’an dan Al-Hadis dalam bahasa Jawa, guna menjaga tata krama dan etika khas Yogyakarta tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Di sektor Mulia Pendidikan, LDII DIY telah membangun jejaring lembaga pendidikan dari level PAUD hingga SMA dengan model boarding school. Pendidikan di sini tidak hanya mengejar keunggulan akademik, namun menitikberatkan pada pembentukan 29 karakter luhur yang menjadi ciri khas warga LDII.
"Kami ingin membentuk generasi yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter yang kuat,"
Sementara itu, pada aspek Mulia Lingkungan, LDII DIY terus mendorong pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim). Kampung ProKlim Sangurejo, yang saat ini memegang status kategori Utama, ditargetkan untuk naik kelas menjadi ProKlim Lestari pada tahun 2026 mendatang. Jika berhasil, ini akan menjadi sejarah sebagai ProKlim Lestari pertama di Yogyakarta yang lahir dari inisiatif organisasi dakwah.
Terakhir, pada bidang Mulia Ekonomi, kemandirian warga menjadi target utama melalui penguatan Baitul Maal wa Tamwil (BMT), koperasi syariah (KSPPS), hingga kolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Pesantren-pesantren di bawah naungan LDII juga dibekali dengan unit bisnis agar santri tidak hanya kompeten dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh secara ekonomi.
Harapan besar digantungkan pada pundak kepengurusan periode mendatang. Atus menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral. Kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan lainnya di DIY menjadi modal sosial yang harus terus dirawat demi mendukung target pembangunan berkelanjutan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.