Prof. Umi Fathanah: Ilmuwan LDII yang Dedikasikan Riset Membran untuk Kemaslahatan Air Bersih

Prof. Umi Fathanah: Ilmuwan LDII yang Dedikasikan Riset Membran untuk Kemaslahatan Air Bersih
foto: ilustrasi

BANDA ACEH — Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mencatatkan prestasi akademik gemilang dengan mengukuhkan lima guru besar baru dalam Sidang Terbuka Senat Akademik yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Selasa (7/7/2026). Di antara jajaran akademisi tersebut, Prof. Umi Fathanah, seorang warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), resmi menyandang gelar profesor di bidang Teknologi Rekayasa Kimia Polimer dan Membran Fungsional, sebuah pencapaian yang mempertegas kontribusi nyata ormas keagamaan dalam dunia sains nasional.

Dedikasi Satu Dekade untuk Krisis Air Bersih

Gelar tertinggi akademik ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari konsistensi riset yang ditekuni Prof. Umi selama lebih dari sepuluh tahun. Fokus utamanya terletak pada pengembangan teknologi membran fungsional, sebuah metode filtrasi canggih yang dirancang untuk menjawab tantangan ketersediaan air bersih di tengah meningkatnya polusi lingkungan.

Inti dari inovasi yang dikembangkan Prof. Umi adalah penciptaan membran polimer yang memiliki ketahanan superior terhadap fouling atau akumulasi kotoran. Penumpukan zat organik dan mikroorganisme pada permukaan membran seringkali menjadi kendala utama karena dapat menurunkan efisiensi penyaringan secara drastis.

“Ketertarikan saya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, bagaimana ilmu pengetahuan dapat menghadirkan solusi bagi kebutuhan dasar manusia, yaitu air yang layak dan aman,” ujar Umi saat menjelaskan filosofi di balik penelitiannya.

Mengubah Limbah Pertanian Menjadi Teknologi Tinggi

Langkah progresif Prof. Umi terlihat pada pemilihan material risetnya yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Ia memanfaatkan bahan-bahan alami dan limbah yang selama ini kurang bernilai ekonomis, seperti kitosan, silika, magnesium hidroksida, hingga nanoselulosa yang diekstrak dari biomassa limbah pertanian.

Pemanfaatan material lokal ini tidak hanya menurunkan biaya produksi membran, tetapi juga menjadi strategi jitu dalam pengelolaan limbah secara sirkular. Dengan teknologi ini, sistem pengolahan air dapat beroperasi lebih efisien, hemat energi, dan memiliki masa pakai yang jauh lebih panjang, sehingga sangat aplikatif baik bagi sektor industri maupun pemenuhan kebutuhan domestik masyarakat.

“Ketika limbah pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi material bernilai tinggi, di situlah saya melihat bahwa ilmu dapat menjadi jembatan antara inovasi, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” tuturnya penuh keyakinan.

Baginya, standar keberhasilan sebuah riset tidak semata-mata diukur dari jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional atau deretan penghargaan bergengsi.

“Saya selalu meyakini bahwa ukuran keberhasilan sebuah penelitian bukan hanya banyaknya publikasi atau penghargaan yang diperoleh, tetapi sejauh mana hasil penelitian itu dapat memberi manfaat bagi kehidupan,” ungkapnya lagi.

Amanah Ilmu untuk Kemaslahatan Umat

Perjalanan mencapai puncak karier akademik ini diakui Prof. Umi penuh dengan dinamika. Sebagai seorang dosen, peneliti, sekaligus pembimbing mahasiswa yang juga menjalankan peran di dalam keluarga, ketekunan menjadi kunci utama. Baginya, setiap eksperimen yang gagal di laboratorium merupakan bagian dari proses panjang menuju kematangan sebuah inovasi.

“Jabatan profesor bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan untuk terus berkarya dan memberi manfaat melalui ilmu pengetahuan,” tegasnya mengenai tanggung jawab moral yang kini ia emban.

Menatap masa depan, Prof. Umi berkomitmen untuk memperluas jejaring kolaborasi. Sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset pemerintah, dan sektor industri menjadi target strategis agar teknologi membran ini bisa diproduksi massal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas secara merata.

Sebagai figur inspiratif di lingkungan LDII, ia memberikan pesan mendalam bagi generasi muda yang bercita-cita menapaki dunia akademik. Menurutnya, motivasi dalam menuntut ilmu harus diletakkan pada koridor pengabdian yang luhur.

“Ilmu bukan semata-mata untuk mengejar gelar atau kedudukan, tetapi untuk memberi manfaat kepada sesama dengan niat karena Allah SWT,” pesannya menutup pembicaraan.

Ia meyakini sepenuhnya bahwa ilmu pengetahuan yang didedikasikan untuk memecahkan persoalan sosial dan menjaga kelestarian alam akan menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan bagi dunia dan akhirat.

📖 Glosarium Istilah

  • Membran Polimer: Lapisan penyaring tipis berbahan plastik atau senyawa kimia berantai panjang yang digunakan untuk memisahkan zat pencemar dari air.
  • Fouling: Fenomena penumpukan kotoran atau mikroorganisme pada permukaan membran penyaring yang dapat menghambat aliran air.
  • Biomassa: Bahan biologis yang berasal dari organisme hidup, dalam konteks ini merujuk pada limbah pertanian yang digunakan sebagai bahan baku riset.
  • Nanoselulosa: Material berbahan dasar serat tumbuhan yang diolah hingga ukuran nanometer untuk memberikan kekuatan mekanik pada membran.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.