JAKARTA - Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) terus mempertegas komitmennya dalam memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Ketua Umum DPP LDII, Ir. H. Criswanto Santoso, M.Sc, membedah secara filosofis dan praktis mengenai misi utama organisasi, yakni melahirkan figur manusia yang tidak hanya cakap secara teknis tetapi juga kokoh secara spiritual, yang dikenal dengan istilah "SDM Profesional Religius".
Sinergi Kompetensi dan Integritas Spiritual
Dalam narasi besarnya, Criswanto Santoso menjelaskan bahwa dunia modern saat ini menuntut standar profesionalisme yang tinggi. Namun, profesionalisme tanpa pondasi moral seringkali berujung pada krisis integritas. Oleh karena itu, LDII mengusung konsep dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
"Profesional itu berkaitan dengan kompetensi, mengenai skill, mengenai kemampuan untuk melakukan sesuatu secara produktif. Sementara religius adalah landasan moralnya, akhlakul karimah yang bersumber dari nilai-nilai agama," ujar Ir. H. Criswanto Santoso, M.Sc.
Beliau menekankan bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga orang-orang jujur yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Sinergi inilah yang menjadi denyut nadi perjuangan dakwah LDII di seluruh pelosok tanah air.
Enam Thobi'at Luhur sebagai Pondasi Karakter
Mencetak SDM yang berkualitas tentu memerlukan kurikulum karakter yang terukur. LDII menerapkan apa yang disebut sebagai Enam Thobi'at Luhur (enam karakter unggul) yang diinternalisasikan kepada setiap warganya sejak usia dini hingga dewasa. Enam pilar karakter tersebut meliputi:
- Rukun: Kemampuan untuk menjaga harmoni di tengah keberagaman.
- Kompak: Memiliki jiwa kebersamaan yang kuat dalam mencapai tujuan positif.
- Kerja Sama yang Baik: Memahami bahwa keberhasilan adalah hasil dari kolaborasi, bukan kerja individualistik.
- Jujur: Menjaga integritas antara perkataan dan perbuatan di mana pun berada.
- Amanah: Memegang teguh kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat maupun organisasi.
- Mujhid-Muzhid: Sikap kerja keras (mujhid) yang dibarengi dengan pola hidup hemat atau tidak boros (muzhid).
Implementasi nilai-nilai ini diharapkan mampu menciptakan individu yang mandiri secara ekonomi namun tetap rendah hati dan taat pada aturan agama serta hukum negara.
Menjawab Tantangan Global dengan Kemandirian
Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan ekonomi global, kemandirian menjadi kunci. Criswanto menjelaskan bahwa profesionalisme yang diinginkan LDII adalah profesionalisme yang solutif. Warga LDII didorong untuk memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, baik itu sebagai pengusaha, akademisi, petani, hingga birokrat, namun semuanya harus dijalankan dengan napas ibadah.
"Tujuan akhir kita adalah mencetak SDM yang mandiri, yang mampu memberi manfaat bagi orang lain, serta tetap memiliki akhlakul karimah sebagai identitas utamanya sebagai muslim," tegas Criswanto Santoso.
Dengan fokus pada pembangunan SDM ini, LDII optimis dapat membantu pemerintah dalam menekan angka kemiskinan dan meningkatkan indeks pembangunan manusia di Indonesia. Transformasi mental dari dalam diri individu inilah yang dianggap sebagai revolusi senyap namun konsisten yang dilakukan LDII untuk masa depan bangsa yang lebih gemilang.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.