Menanamkan Nasionalisme di Balik Mimbar: LDII Jatim Bekali Calon Dai Wawasan Kebangsaan yang Kokoh

Menanamkan Nasionalisme di Balik Mimbar: LDII Jatim Bekali Calon Dai Wawasan Kebangsaan yang Kokoh
Menanamkan Nasionalisme di Balik Mimbar: LDII Jatim Bekali Calon Dai Wawasan Kebangsaan yang Kokoh
  • NGANJUK – Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital yang kian masif, peran pemuka agama dalam menjaga stabilitas sosial menjadi kian krusial. Menyadari hal tersebut, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur menggelar pembekalan wawasan kebangsaan yang intensif bagi para calon juru dakwah. Agenda strategis ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, pada Rabu (24/6/2026) sebagai upaya mencetak dai yang tidak hanya mumpuni secara religius, tetapi juga memiliki rasa nasionalisme yang mendalam.

    Tantangan yang membayangi masyarakat saat ini tidak lagi sekadar pergeseran nilai sosial, melainkan juga gempuran informasi tanpa filter yang melintasi batas-batas negara. Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi, menjelaskan bahwa fenomena ini menuntut adaptabilitas tinggi dari para pendakwah. Pemahaman yang luas menjadi modal utama agar pesan-pesan agama tetap relevan dengan dinamika zaman tanpa mengesampingkan jati diri bangsa.

    “Kondisi tersebut menuntut para juru dakwah memiliki pemahaman yang luas agar mampu memberikan panduan yang relevan bagi masyarakat,” tegas Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi.

    Dakwah dalam Bingkai Kebhinnekaan

    Seorang juru dakwah nantinya akan terjun langsung ke tengah masyarakat yang memiliki lapisan latar belakang yang sangat variatif. Amrodji menekankan bahwa tanpa fondasi wawasan kebangsaan yang kuat, dakwah berisiko menjadi eksklusif dan berpotensi memicu keretakan sosial. Baginya, menjaga persatuan dan kerukunan adalah bagian integral dari misi dakwah itu sendiri.

    “Wawasan kebangsaan menjadi fondasi penting dalam menjalankan dakwah di Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan juga diperlukan agar para dai mampu menempatkan dakwah sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan bermasyarakat yang saling menghormati dan menghargai perbedaan,” jelas Amrodji.

    Dalam pemaparannya, Amrodji juga mengingatkan bahwa aktivitas religius tidak boleh dipisahkan dari konteks kehidupan bernegara. Nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi ruh dalam setiap narasi yang disampaikan di atas mimbar. Hal ini demi memastikan bahwa dakwah berkontribusi positif bagi keberlangsungan NKRI.

    “Juru dakwah harus mampu menjadi teladan dalam menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keutuhan bangsa,” tambahnya.

    Literasi Digital dan Ketahanan Informasi

    Selain aspek ideologis, tantangan teknologis juga menjadi sorotan utama. Kehadiran ruang digital memang mempermudah penyebaran syiar, namun di sisi lain, ia juga menjadi ladang subur bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga narasi fragmentasi. Amrodji mendorong para calon dai untuk memiliki kecerdasan dalam memilah dan memilih informasi sebelum menyampaikannya kembali kepada umat.

    “Karena itu, para dai perlu memiliki kemampuan menyikapi berbagai informasi secara bijak dan proporsional. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan dapat menjadi agen edukasi yang mendorong masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi sekaligus tetap menjaga persatuan,” terangnya.

    Langkah preventif ini diharapkan mampu melahirkan profil pendakwah masa depan yang moderat. Dengan kapasitas keilmuan agama yang dalam dipadukan dengan kesadaran sosiopolitik yang matang, para alumni Ponpes Al Ubaidah diharapkan mampu menjadi perekat sosial yang tangguh di tengah arus dinamika global yang terus bergejolak.

    Glossary Artikel

    • Wawasan Kebangsaan: Cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
    • Juru Dakwah (Dai): Orang yang bertugas menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat luas.
    • Kohesi Sosial: Tingkat keterikatan dan harmoni antar anggota kelompok dalam masyarakat.
    • Literasi Digital: Kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang didapat melalui media digital secara bijak.
    • Eksklusif: Terpisah dari yang lain; cenderung menutup diri dari pengaruh atau kelompok luar.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.