SALATIGA – Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kota Salatiga secara resmi menyelenggarakan perhelatan Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47. Mengusung tema filosofis “Menampilkan 29 Karakter Luhur, Amal Saleh Riang Gembira”, kegiatan yang dipusatkan di Gedung PPG Kota Salatiga ini berlangsung selama tiga hari penuh, mulai tanggal 24 hingga 26 Juli 2026. Sebanyak 81 peserta yang merepresentasikan lintas generasi—dari kalangan pemuda hingga mereka yang telah berkeluarga—turut serta menyelami kurikulum pembinaan karakter yang komprehensif.
Internaliasi Nilai dan Niat Ikhlas
Rangkaian acara ini dibuka langsung oleh KH. Syukur Sutadi, selaku Dewan Penasehat DPD LDII Kota Salatiga. Dalam pidato arahannya, beliau menitikberatkan pada urgensi menata niat dalam setiap perbuatan. Menurutnya, pondasi utama dari sebuah perubahan karakter adalah keikhlasan yang tulus hanya demi mengharapkan rida Sang Pencipta.
“Semoga seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan dengan aman, lancar, selamat, dan penuh keberkahan. Tetap semangat mengikuti setiap proses sehingga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar,” ujar KH. Syukur Sutadi.
Beliau juga menekankan bahwa atmosfer kegembiraan harus tetap terjaga sepanjang proses belajar. Suasana hati yang positif dinilai menjadi katalisator efektif dalam menyerap materi-materi berat terkait moralitas dan karakter, sehingga apa yang dipelajari tidak berhenti pada tatanan teori, melainkan mewujud dalam perilaku nyata sehari-hari.
Estafet Ilmu dari CAI Nasional
Menariknya, kurikulum yang disajikan dalam CAI 47 Salatiga ini merupakan hasil kristalisasi dari Camping CAI Nasional yang sebelumnya telah digelar di Bumi Perkemahan Kosambiwojo, Jombang. Tiga narasumber utama, yakni H. Agung Setyawan, S.T., Andreas Nasrudin, dan Stevin Indra, hadir membagikan wawasan segar yang mereka peroleh dari acara berskala internasional tersebut.
Dipandu secara dinamis oleh Khusna Budiyanto dan Dian Maret sebagai pembawa acara, para narasumber menceritakan pengalaman mereka saat dibina langsung oleh para pakar pengembangan karakter nasional. Sebagaimana diketahui, CAI Nasional sebelumnya dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, yang memberikan prestise tersendiri bagi muatan materi yang disampaikan di tingkat daerah.
“Yang terpenting bukan kemeriahannya, melainkan bagaimana nilai-nilai yang dipelajari dapat dipahami dan diamalkan oleh peserta sehingga menjadi bekal dalam membentuk pribadi yang berkarakter luhur, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas H. Agung Setyawan, S.T. saat memberikan pemaparan materi.
Metode Pembelajaran Interaktif melalui FGD
Memasuki hari kedua, intensitas kegiatan semakin meningkat dengan penerapan metode Focus Group Discussion (FGD). Para peserta tidak lagi sekadar menjadi pendengar pasif, melainkan dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang. Di sini, dinamika kelompok diasah melalui diskusi kritis mengenai problematika riil yang dihadapi generasi muda saat ini.
Pendampingan dilakukan secara intensif oleh para fasilitator berpengalaman, di antaranya Dian Nirmala, S.Pd., Sulistyorini, S.Pd., Dian Maret, S.Pd., Billy, S.Pi., serta H. Agung Setyawan, S.T. Fokus utama FGD ini adalah mencari solusi konkret atas berbagai tantangan di lingkungan sekolah, keluarga, hingga pergaulan masyarakat dengan menggunakan instrumen 29 karakter luhur sebagai pisau analisis.
Melalui simulasi pemecahan masalah ini, panitia berharap para peserta memiliki kesiapan mental dan intelektual dalam mendampingi generasi penerus. Kemampuan berpikir kritis, teknik komunikasi yang efektif, serta empati sosial menjadi hasil akhir yang diharapkan dari sesi diskusi tersebut.
Testimoni dan Harapan Masa Depan
Dampak positif dari kegiatan ini mulai dirasakan langsung oleh para peserta. Naufal, salah seorang santri dari Pondok Pesantren Sabilul Jannah, menyatakan kekagumannya terhadap metode pembinaan yang diterapkan. Ia merasa wawasannya terbuka lebar, terutama dalam memandang konflik dan mencari jalan keluar secara bijak.
“Saya senang bisa mengikuti CAI ini. Materinya sangat bermanfaat untuk membentuk karakter luhur dan memberikan gambaran bagaimana mencari solusi ketika menghadapi berbagai permasalahan,” kata Naufal dengan penuh antusias.
Penyelenggaraan CAI 47 ini diharapkan mampu menjadi titik balik bagi penguatan moralitas di Kota Salatiga. Dengan mengimplementasikan 29 karakter luhur, DPD LDII Kota Salatiga optimis dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga memiliki kedalaman religiusitas dan nasionalisme yang kuat untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara di masa mendatang.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.