Melawan Penyakit 'Nanti': Mengapa Menunda Ibadah Bisa Melumpuhkan Pertumbuhan Iman?

Melawan Penyakit 'Nanti': Mengapa Menunda Ibadah Bisa Melumpuhkan Pertumbuhan Iman?
foto: ilustrasi
  • Dalam menjalani kehidupan spiritual, banyak individu terjebak dalam jebakan yang tak kasat mata namun mematikan: kemalasan untuk bersegera dalam kebaikan. Fenomena ini sering kali bermanifestasi dalam kata sederhana, "nanti". Faidzunal A. Abdillah, seorang pemerhati sosial dan lingkungan sekaligus warga LDII yang berdomisili di Serpong, Tangerang Selatan, menyoroti bagaimana kebiasaan menunda ketaatan secara perlahan dapat melumpuhkan hati dan memadamkan cahaya iman tanpa disadari oleh pelakunya.

    Malas: Penyakit Hati yang Senyap

    Kemalasan seringkali tidak datang seperti serangan jantung yang mendadak, melainkan seperti rayap yang menggerogoti struktur bangunan dari dalam. Ia tidak membuat seseorang berhenti bernapas secara biologis, namun ia sanggup membuat hati berhenti bertumbuh menuju keridaan Tuhan. Melalui refleksinya, Faidzunal menggambarkan bagaimana semangat ibadah yang kian mengikis dapat membuat kehidupan spiritual seseorang menjadi gersang.

    Ketidakmampuan untuk segera merespons panggilan ibadah bukan disebabkan oleh kurangnya waktu, melainkan karena hilangnya prioritas. Bayangkan sebuah situasi di mana seseorang memiliki kemampuan membaca Al-Quran, memiliki waktu luang, dan didukung oleh kesehatan raga yang prima, namun justru memilih untuk berucap, "Nanti saja." Tanpa alasan yang mendasar, hari demi hari berlalu tanpa tilawah, hingga akhirnya mushaf tetap tertutup rapat dan hati semakin jauh dari tuntunan Ilahi.

    Jebakan Rutinitas dan Prioritas yang Keliru

    Selain tilawah, penundaan juga kerap terjadi pada amalan sunnah dan pencarian ilmu. Sering ditemukan fenomena di mana seseorang segera beranjak setelah salat wajib berakhir, seolah-olah memiliki urusan duniawi yang luar biasa mendesak, padahal terkadang itu hanya sekadar gaya atau kepura-puraan. Kesibukan dunia dianggap sebagai beban yang harus segera diselesaikan, sementara panggilan menuju rida Allah diletakkan di daftar tunggu paling akhir.

    "Sebenarnya aku bisa mengerjakan shalat sunnah, tetapi selalu terlewat. Habis sholat wajib langsung pergi. Terlihat buru-buru, padahal cuma bergaya atau pura-pura," ujar Faidzunal A. Abdillah dengan nada penuh refleksi.

    Ketidakhadiran dalam majelis ilmu juga menjadi sorotan. Kaki yang seharusnya melangkah menuju taman-taman surga justru seringkali memilih untuk tetap rebahan atau teralihkan oleh hiburan yang fana. Padahal, setiap langkah menuju majelis ilmu memiliki derajat kecintaan tersendiri di sisi Allah. Namun, seribu alasan kerap diciptakan untuk melegitimasi ketidakhadiran tersebut.

    Gengsi dan Keraguan dalam Beramal

    Bukan hanya soal ibadah fisik, kemalasan juga merambah ke aspek sosial dan lisan. Keinginan untuk bersedekah seringkali dihadang oleh sifat kikir yang berbalut lupa. Seseorang bisa saja berlagak lupa saat ada ajakan beramal, padahal harta terus berputar dan kesempatan untuk bersedekah tidak selalu datang dua kali.

    Di sisi lain, ketakutan akan penilaian manusia juga menjadi penghambat besar. Banyak orang yang memiliki kapasitas untuk memberikan nasihat atau mengajak pada kebaikan, namun memilih bungkam karena takut dianggap sok saleh atau menggurui. Padahal, satu kalimat tulus yang diucapkan bisa menjadi kunci hidayah bagi orang lain dan investasi amal jariyah hingga hari kiamat.

    "Rasanya aku bisa mengajak kepada kebaikan, tetapi malu. Sudah malu, jadi tak mau lagi. Takut dianggap sok saleh, takut dinilai menggurui, hingga akhirnya kebenaran dibiarkan berlalu tanpa suara," tambah Faidzunal.

    Landasan Teologis: Bersegera dalam Kebaikan

    Islam secara tegas melarang sifat malas dan menunda-nunda ketaatan. Dalam Al-Quran, Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk berlomba-lomba dalam kebajikan (Fastabiqul Khairat). Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 148: “Maka berlomba-lombalah kalian dalam mengerjakan kebaikan.”

    Lebih lanjut, dalam Surah Ali 'Imran ayat 133, Allah mengajak hamba-Nya untuk segera menjemput ampunan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Perintah ini menunjukkan bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

    Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras melalui haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

    "Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah yang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap..." (HR. Muslim).

    Beliau bahkan secara khusus memanjatkan doa agar terhindar dari penyakit mental ini, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Memutus Rantai 'Nanti' dengan Langkah Kecil

    Cara terbaik untuk mengalahkan kemalasan bukanlah dengan menunggu motivasi besar datang, melainkan dengan memaksakan diri melakukan tindakan kecil secara konsisten. Ibadah yang dilakukan secara berkelanjutan (istiqamah) jauh lebih dicintai Allah dibandingkan amal besar yang hanya dilakukan sesekali.

    Jangan membiarkan kata "nanti" berubah menjadi "tidak pernah". Kita tidak pernah tahu apakah esok hari mata kita masih bisa melihat huruf-huruf Al-Quran, apakah lutut kita masih sanggup menopang tubuh untuk bersujud, atau apakah harta kita masih ada untuk disedekahkan. Lawanlah kemalasan dengan satu langkah nyata sekarang juga.

    "Jangan menunggu semangat datang untuk beribadah. Justru beribadahlah, maka semangat akan mengikuti. Karena iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan serta kelalaian," tegas Faidzunal dalam pesan penutupnya.

    📚 GLOSSARY (ISTILAH PENTING)

    • Tilawah: Kegiatan membaca ayat-ayat Al-Quran dengan benar sesuai kaidah tajwid.
    • Majelis Ilmu: Pertemuan atau tempat berkumpul untuk mempelajari ajaran agama Islam.
    • Amal Jariyah: Perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang melakukannya telah meninggal dunia.
    • Fastabiqul Khairat: Prinsip berlomba-lomba dalam melakukan segala bentuk kebajikan.
    • Prokrastinasi: Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau tugas secara sengaja.
    • Hidayah: Petunjuk dari Allah SWT yang membimbing seseorang menuju jalan kebenaran.
    • Istiqamah: Sikap teguh pendirian dan konsisten dalam melakukan ketaatan.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.