Menjadi seorang pemimpin tidak sekedar hanya mampu memberikan perintah, namun
lebih daripada itu. Seorang pemimpin
hendaklah bisa menjadi panutan dan teladan
bagi umatnya. Mengemban amanah yang membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan umatnya.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil."
— QS. An-Nisa' [4]: 58
Sifat-Sifat Pemimpin Sejati
Pemimpin memiliki sifat lemah lembut,
tidak kasar, andhap asor,
tata krama, adil,
rofik,
muhsin, serta
aris/bijaksana.
Lemah Lembut
Tidak kasar & keras
Tata Krama
Sopan & santun
Adil
Menegakkan kebenaran
Aris
Bijaksana & penuh pertimbangan
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
"Maka sebab Rahmat dari Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (perkara) itu."
— QS. Ali Imran [3]: 159
Mangku, Nylondohi, dan Ndlosori
Pemimpin bisa mangku,
nylondohi, dan
ndlosori dalam rangka
untuk memberikan perhatian dan mengayomi umat. Tiga konsep dalam bahasa Jawa ini
menggambarkan kedalaman kepemimpinan yang berlandaskan kerendahan hati dan ketulusan.
Mangku
Ngemong — merawat, membimbing dengan penuh kasih sayang
Mangku berarti bisa ngemong, membuat umat merasa
nyaman dan tenang.
Seperti seorang ibu yang memangku anaknya, seorang pemimpin hendaknya
memberikan rasa aman, perlindungan, dan kehangatan bagi yang dipimpinnya.
Tidak ada ketakutan, tidak ada tekanan yang tidak perlu — yang ada adalah
rasa percaya dan rasa nyaman.
Nylondohi
Merendah, mengalah, menyapa lebih dulu demi menghormati
Nylondohi artinya merendah diri, mengalah, atau mau
menyapa dan menegur lebih dulu demi berdamai dan menghormati orang lain.
Ini bukan kelemahan — ini adalah kekuatan karakter
yang menunjukkan besar jiwa. Pemimpin yang nylondohi tidak menunggu
dihormati, melainkan memulai memberikan penghormatan.
Ndlosori
Duduk atau tidur selonjor di lantai — simbol kesederhanaan
Ndlosori berasal dari kata dasar ndlosor yang artinya duduk
atau tiduran selonjor di lantai secara santai dengan kaki melunjur
tanpa alas. Secara filosofis, ndlosori melambangkan
kesederhanaan dan
ketanahan fisik seorang
pemimpin — tidak berlebihan dalam kemewahan, mau bersama rakyatnya
di lantai yang sama, tanpa sekat dan tanpa jarak.
Dalil Al-Quran tentang Kerendahan Hati Pemimpin
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَكَ
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman."
— QS. Asy-Syu'ara' [26]: 215
Ayat ini secara langsung memerintahkan Rasulullah ﷺ — pemimpin tertinggi umat Islam —
untuk merendahkan diri kepada pengikutnya
yang beriman. Perintah ini selaras dengan konsep
nylondohi dan
ndlosori: seorang pemimpin
tidak boleh merasa lebih tinggi, justru harus memberikan ruang kedekatan
dan keterbukaan.
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang baik (salam)."
— QS. Al-Furqan [25]: 63
"Berjalan di atas bumi dengan rendah hati" — inilah esensi
andhap asor dan
ndlosori. Tidak sombong,
tidak membeda-bedakan, dan tetap menjaga adab ketika dihadapkan pada
ketidaktahuan atau kebodohan orang lain.
Hadis-Hadis tentang Kepemimpinan yang Lembut
Hadis Shahih
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."
— HR. Bukhari & Muslim
Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan — melainkan
amanah dan tanggung jawab.
Setiap orang, dalam kapasitasnya masing-masing, adalah pemimpin. Dan yang
membedakan pemimpin yang baik adalah bagaimana ia
mangku (mengayomi),
nylondohi (merendah),
dan ndlosori (bersederhana)
terhadap yang dipimpinnya.
Hadis Shahih
مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَمَا نُزِعَ الرِّفْقُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
"Tidaklah kelembutan ada pada suatu perkara melainkan ia memperindahnya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari suatu perkara melainkan ia memperburuknya."
— HR. Muslim
Kelembutan — yang dalam konteks ini adalah sikap rofik
dan mangku — bukan kelemahan.
Justru ia memperindah kepemimpinan.
Pemimpin yang tegas tanpa kelembutan akan terasa kaku dan menakutkan.
Pemimpin yang lembut tanpa ke tegasan akan terasa lemah. Namun
pemimpin yang tegas sekaligus lembut
— itulah yang dimaksud dengan mangku, nylondohi, dan ndlosori.
Hadis Shahih
الْمُؤْمِنُ هَيِّنٌ لَيِّنٌ سَهْلٌ
"Seorang mukmin itu mudah (tidak sulit), lembut, dan lapang dada."
— HR. Ahmad
Tiga sifat dalam hadis ini — hayyin
(mudah/mudah didekati), layyin
(lembut), dan sahl
(lapang/sederhana) — adalah cerminan sempurna dari
mangku,
nylondohi, dan
ndlosori.
Teladan Teragung: Rasulullah ﷺ
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung."
— QS. Al-Qalam [68]: 4
Akhlak agung Rasulullah ﷺ mencakup seluruh sifat yang telah disebutkan:
beliau mangku umatnya dengan
penuh kasih sayang, beliau nylondohi
dengan menyapa lebih dulu, mengalah, dan tidak pernah membalas keburukan
dengan keburukan, dan beliau ndlosori
dengan hidup sederhana, duduk di lantai bersama sahabatnya, makan dari
mangkuk yang sama, hingga beliau bersabda:
Hadis Shahih
آكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ وَأَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ
"Aku makan seperti seorang budah makan, dan aku duduk seperti seorang budah duduk."
— HR. Ibnu Sa'd
Inilah ndlosori yang sesungguhnya.
Tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Tidak ada kesombongan
dalam kesederhanaan. Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kekuatan kepemimpinan
justru terletak pada kerendahan yang penuh martabat.
Tegas itu bukan keras. Lembut itu bukan lemah. Mangku, nylondohi, dan ndlosori
adalah bukti bahwa pemimpin sejati tidak perlu meninggikan suara untuk didengar,
tidak perlu merendahkan orang lain untuk dihormati, dan tidak perlu kemewahan
untuk menunjukkan kebesaran.
— Meresapi Filosofi Kepemimpinan Jawa-Islami