Membangun fondasi kesehatan masa depan bangsa sejatinya dimulai dari meja makan keluarga. Menyadari urgensi tersebut, Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPD LDII Kota Surabaya menginisiasi Seminar Parenting Skill bertajuk “Meneladani Pola Makan Rasulullah Guna Membangun Generasi Sehat, Cerdas dan Berakhlakul Karimah”. Acara yang berlangsung di Gedung Serba Guna Sabilurrosyidin, Surabaya, pada Minggu (19/7/2026) ini dihadiri sedikitnya 300 perwakilan ibu dari berbagai tingkatan PC dan PAC LDII se-Surabaya untuk membedah tuntas kaitan erat antara nutrisi dan pola asuh.
Meninggalkan 4 Sehat 5 Sempurna, Beralih ke Isi Piringku
Dalam sesi utama, Sofiatun, seorang Dosen Prodi Fisioterapi D IV Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair), menekankan bahwa paradigma lama mengenai nutrisi perlu segera diperbarui. Ia menyoroti transisi dari konsep klasik 4 Sehat 5 Sempurna menuju pedoman gizi seimbang yang lebih terukur, yakni “Isi Piringku”. Langkah ini dianggap krusial di tengah kepungan tren makanan cepat saji yang mendominasi gaya hidup perkotaan.
“Kami mengajak masyarakat menerapkan pedoman gizi seimbang melalui konsep Isi Piringku sebagai pengganti konsep lama 4 Sehat 5 Sempurna. Kalau dulu fokusnya pokoknya ada nasi, lauk, sayur, buah, dan susu. Sekarang melalui Isi Piringku kebutuhan karbohidrat, protein, sayur, dan buah sudah terukur,” urai Sofiatun saat memaparkan materi.
Menurut Sofiatun, susu bukan lagi satu-satunya parameter kesempurnaan gizi karena sumber protein bisa didapatkan dari berbagai jenis bahan pangan lain seperti ikan maupun telur. Ia mengingatkan bahwa masalah gizi memiliki spektrum yang luas; tidak hanya soal kekurangan berat badan, namun juga obesitas yang kini kian marak akibat ketidakseimbangan asupan.
Waspada GGL: Bahaya Tersembunyi dalam Kemasan
Selain proporsi porsi makan, Sofiatun juga memberikan peringatan keras terkait konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL). Ia memberikan panduan praktis: maksimal empat sendok makan gula, satu sendok teh garam, dan lima sendok makan minyak per hari. Hal ini seringkali terabaikan karena banyak orang tidak terbiasa membaca label nutrisi pada produk minuman atau makanan kemasan.
“Kalau membeli minuman kemasan, biasakan membaca label kandungan gulanya. Sering kali satu botol minuman sudah mengandung gula hingga sekitar 40 gram,” tambah Sofiatun.
Ia menegaskan bahwa diet bukanlah berarti berhenti makan, melainkan seni mengatur pola makan yang bijak. Keseimbangan ini harus didukung dengan aktivitas fisik yang rutin agar energi yang masuk tidak bertumpuk menjadi masalah kesehatan di masa depan.
Food Parenting: Membentuk Karakter Melalui Meja Makan
Sisi lain yang tidak kalah vital adalah aspek psikologis dalam pemberian makan. Karlin, seorang ahli hipnoterapis yang menjadi pemateri kedua, menyoroti fenomena picky eater atau anak yang pilih-pilih makanan. Menurutnya, perilaku makan anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua membangun pengalaman makan sejak usia dini.
“Anak tidak lahir sebagai picky eater. Cara orang tua mengarahkan, memberi contoh, dan membangun pengalaman makan anak sangat menentukan kebiasaan makannya di masa depan,” tegas Karlin.
Karlin juga mengkritisi kebiasaan orang tua yang membiarkan anak makan sambil menonton gawai atau mengejar-ngejar anak saat waktu makan tiba. Pola asuh authoritative atau demokratis dianggap sebagai pendekatan terbaik. Dengan memadukan kasih sayang dan ketegasan, anak diajarkan untuk mengenali sinyal rasa lapar dan kenyang secara alami tanpa distraksi teknologi.
Ibu Sebagai Madrasah Utama Generasi Unggul
Wakil Ketua DPD LDII Surabaya, Khamim Thohari, menegaskan bahwa peran ibu dalam ekosistem keluarga tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan manapun. Ibu adalah sosok pertama yang menanamkan nilai-nilai karakter sekaligus menjaga kualitas fisik anak melalui asupan gizi yang halal dan thayyib.
“Ibu adalah madrasah utama bagi anak-anaknya. Apa yang ditanamkan sejak dini di dalam keluarga akan menjadi fondasi yang menentukan kualitas generasi penerus di masa mendatang,” ujar Khamim Thohari menutup penjelasannya.
Melalui seminar ini, LDII Surabaya berharap para ibu memiliki bekal yang komprehensif, mulai dari pemahaman medis hingga pendekatan psikologis. Sinergi antara pemenuhan gizi yang tepat dan pola asuh yang bijak diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan akhlak yang mulia sesuai teladan Rasulullah SAW.
Glossary: Memahami Istilah Kesehatan & Parenting
- Isi Piringku: Pedoman gizi seimbang dari Kemenkes RI yang mengatur porsi dalam satu piring terdiri dari 50% buah dan sayur, serta 50% sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein.
- 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK): Periode emas sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun yang menentukan pertumbuhan otak dan fisik jangka panjang.
- Food Parenting: Praktik pola asuh yang berkaitan dengan cara orang tua mengatur lingkungan, perilaku, dan interaksi saat anak makan.
- Authoritative Parenting: Pola asuh demokratis di mana orang tua memberikan aturan yang jelas namun tetap responsif dan memberikan dukungan emosional kepada anak.
- GGL: Singkatan dari Gula, Garam, dan Lemak; komponen yang konsumsinya harus dibatasi untuk mencegah penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.