Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Kepulauan Riau (Kepri) sukses menyelenggarakan kelas kecantikan intensif bertajuk “Cantik Menyeluruh, Luar dan Dalam” bagi generasi muda muslimah. Perhelatan yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Baitul Jannah, Batam, pada Sabtu (19/7) ini menarik antusiasme tinggi dengan kehadiran sedikitnya 150 peserta yang ingin mendalami teknik merawat diri tanpa menanggalkan identitas religius mereka.
Menjaga Marwah Muslimah di Tengah Arus Modernisasi
Kegiatan ini bukan sekadar ajang belajar bersolek, melainkan sebuah upaya strategis untuk membekali generasi muda LDII agar memiliki ketahanan diri di tengah gempuran standar kecantikan global yang sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai ketimuran dan keislaman. Wakil Ketua DPW LDII Kepri, Siajis, menegaskan bahwa merawat fisik adalah bagian dari tanggung jawab pribadi, namun tujuannya harus tetap terjaga.
“Keterampilan merawat diri dan berhias tidak boleh dipahami sebagai sarana mencari perhatian, atau sekadar mengikuti tren. Di tengah derasnya arus standar kecantikan di media sosial, generasi muda LDII diharapkan tetap tampil percaya diri dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keislaman,” ujar Siajis dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa kecantikan fisik seharusnya menjadi cerminan dari kemuliaan akhlak. Siajis mengingatkan para peserta agar senantiasa meluruskan niat dalam setiap upaya mempercantik diri.
“Jadikan kecantikan lahir dan batin sebagai sarana meraih rida Allah SWT. Kecantikan yang sesungguhnya bukan untuk memikat mata, tetapi kecantikan yang mampu menenangkan hati dan membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat,” pungkas Siajis.
Kebersihan dan Kesehatan sebagai Wujud Syukur
Selaras dengan visi tersebut, Minung Fahrudin selaku pemateri utama kelas kecantikan membedah konsep kecantikan dari perspektif hukum Islam. Menurutnya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memperhatikan kebersihan dan kerapian sebagai bentuk apresiasi atas nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta.
“Sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, kita didorong menjaga penampilan namun dengan tetap dalam koridor syar’i. Hindari tabarruj atau berhias yang berlebihan, yang dapat mengundang perhatian lawan jenis,” jelas Minung.
Lebih lanjut, Minung menekankan bahwa perawatan diri bersifat holistik. Bukan hanya soal sapuan bedak atau warna lipstik, melainkan mencakup kebugaran jasmani, stabilitas mental, dan kekuatan spiritual. Ia menyarankan agar muslimah selektif dalam memilih produk perawatan kulit agar tidak mengganggu keabsahan ibadah.
“Setiap muslimah perlu menjaga kebersihan, kesehatan, kualitas ibadah, serta memilih produk yang halal dan aman digunakan,” tuturnya kepada para peserta yang menyimak dengan saksama.
Teknik Tata Rias Natural dan Edukasi Produk Halal
Sesi praktis dalam kelas ini menghadirkan kolaborasi dengan tenaga profesional dari industri kecantikan. Shahrani, seorang Konsultan Kecantikan dari Wardah, membagikan teknik makeup natural yang elegan namun tetap fungsional bagi muslimah yang memiliki mobilitas tinggi.
“Kecantikan muslimah dapat ditampilan secara elegan tanpa harus berlebihan. Dengan tetap memperhatikan aspek kehalalan produk dan kemudahan dalam menjalankan ibadah,” tutup Shahrani.
Edukasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru bagi peserta bahwa menjadi cantik tidak berarti harus melanggar kaidah agama. Penggunaan produk yang halal dan teknik riasan yang tidak menutup pori-pori (wudhu-friendly) menjadi poin krusial yang ditekankan sepanjang sesi praktik berlangsung.
Glossary: Memahami Istilah
- Syar'i: Segala hal yang sesuai dengan hukum atau syariat Islam.
- Tabarruj: Tindakan berhias atau berpakaian secara berlebihan untuk memamerkan keindahan tubuh atau perhiasan di depan orang yang bukan mahram.
- Holistik: Cara pandang secara menyeluruh, mencakup fisik, mental, dan spiritual.
- GSG: Gedung Serba Guna, fasilitas umum yang biasa digunakan untuk pertemuan atau acara komunitas.
- DPW: Dewan Pimpinan Wilayah, struktur kepengurusan organisasi di tingkat provinsi.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.