SURAKARTA – Menyadari bahwa keharmonisan rumah tangga sering kali ditentukan oleh kualitas hubungan antaranggota keluarga besar, Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Jebres menggelar seminar parenting yang cukup unik. Mengusung tema strategi membangun keselarasan antara mertua dan menantu, kegiatan ini berlangsung di Masjid Pucangsawit, Surakarta, pada Minggu (12/7/2026). Ratusan peserta yang terdiri atas para ibu dan remaja putri tampak memenuhi lokasi acara dengan antusiasme tinggi untuk mendalami seni berkomunikasi dalam keluarga.
Seminar bertajuk "Mewujudkan Keluarga yang Sakinah dan Barokah: Mempersiapkan Menjadi Mertua dan Menantu yang Sholihah" ini hadir sebagai respons atas dinamika sosial yang sering kali menempatkan hubungan mertua dan menantu pada posisi yang rentan konflik. Alih-alih hanya berfokus pada persiapan teknis pernikahan, LDII Jebres memilih untuk menyentuh aspek fundamental, yakni kematangan emosional dan kesiapan mental bagi kedua belah pihak.
Membangun Kebahagiaan dari Pengelolaan Konflik
Menghadirkan Psikolog Inezzakya Jeihan, S.Psi., M.Psi., sebagai narasumber utama, seminar ini mengupas tuntas mengenai perspektif baru dalam memandang perbedaan dalam rumah tangga. Dalam paparannya, Inezzakya menekankan bahwa sebuah rumah tangga yang bahagia tidak berarti hampa dari perselisihan. Sebaliknya, kekuatan keluarga justru diuji dalam cara mereka menavigasi perbedaan tersebut.
"Rumah yang bahagia lahir dari konflik. Yang membedakan adalah bagaimana setiap konflik dijadikan pembelajaran untuk mewujudkan kebahagiaan," ujar Inezzakya Jeihan, S.Psi., M.Psi.
Logika ini mengajak para peserta untuk tidak takut pada perbedaan pendapat, melainkan belajar mendengarkan dengan empati. Menurut Inezzakya, konflik yang disikapi dengan kedewasaan dan komunikasi terbuka justru berpotensi mempererat ikatan emosional antaranggota keluarga, termasuk antara mertua dan menantu yang sering kali memiliki latar belakang budaya atau kebiasaan yang kontras.
Pentingnya Adaptasi Calon Mertua dan Menantu
Dalam konteks masyarakat Indonesia, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua individu, melainkan integrasi dua entitas keluarga besar. Hal inilah yang menjadi poin krusial dalam diskusi tersebut. Inezzakya menjelaskan bahwa baik calon mertua maupun calon menantu memiliki tanggung jawab moral untuk saling membuka diri dan menyesuaikan ekspektasi.
"Menjadi mertua yang baik berarti mampu menerima menantu sebagai bagian dari keluarga dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Sebaliknya, seorang menantu juga perlu membangun sikap hormat, komunikasi yang santun, serta kemauan untuk memahami keluarga barunya," jelas Inezzakya Jeihan, S.Psi., M.Psi.
Beliau menambahkan bahwa transisi peran ini memerlukan kelapangan hati. Seorang ibu yang menjadi mertua harus mampu memberikan ruang bagi menantunya untuk tumbuh, sementara menantu harus memiliki kerendahan hati untuk belajar dari pengalaman orang tua di lingkungan barunya.
Komitmen Pembinaan Keluarga Sakinah
Seminar ini tidak hanya berhenti pada teori psikologis semata, tetapi juga dibalut dengan nilai-nilai spiritual yang kuat. PC LDII Jebres menegaskan bahwa program pembinaan seperti ini merupakan langkah nyata dalam mencetak generasi yang memiliki ketahanan keluarga yang kokoh. Diskusi interaktif yang terjadi selama sesi tanya jawab menunjukkan betapa topik ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Melalui seminar parenting tersebut, PC LDII Jebres membuktikan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program pembinaan yang menyentuh langsung pada kebutuhan riil jamaah dan masyarakat luas. Budaya dialog yang sehat dan komitmen untuk saling memaafkan ditekankan sebagai kunci utama dalam menjaga agar api kasih sayang dalam keluarga tetap menyala, melampaui segala perbedaan yang ada. Harapannya, para peserta dapat mengaplikasikan ilmu ini untuk membangun rumah tangga yang benar-benar menjadi surga dunia bagi penghuninya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.